Oh iya, Kang,

Cerita atuh gimana ceritanya sampai terpeleset jadi katolik. Yaaaa bagi-bagi pengalaman sama yang muda gitu, sebagai bagian dari pemahaman sejarah-lah minimal.  

 

Ini dari kemaren judulnya sampe ganti berapakali tapi ceritanya belum tuntas itu.

 

 

-----Original Message-----
From: Suryana [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent:
Tuesday, September 06, 2005 12:18 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [Politik_Tionghoa] agama pak suryana

 

From: "chun huang" <[EMAIL PROTECTED]>
>
> 1.
> SURYANA:
> > memalukan ?...........untuk apa menjadi malu (PINDAH
> AGAMA DEMI BISA MASUK SEKOLAH KATOLIK --tambahan dari
> chun.) demi mencari ilmu ?
>
> CHUN:
> anda tidak merasa ada persoalan moral yang besar?
> (sekali lagi kalau anda bukan politisi saya tidak akan
> mempersoalkan keberagamaan anda!). kalau buat anda
> soal gini bukan persoalan, maka paralelnya: anda pun
> bisa bertindak menggadaikan prinsip2 penting demi
> kepentingan trivial lain!
++
Anda terlalu menggenarisil masalah.
>
> katakanlah karir anda sebagai politisi terus menanjak
> dan menjadi penentu kebijakan dalam negara. maka
> sangat mudah buat tipe orang seperti anda (yg bisa
> menggadaikan prinsip hidup) misalnya menggadaikan
> negara (perusahaan2 negara, pulau2 etc.) demi
> kepentingan pribadi/kelompok sendiri.
++
Sampai saat ini aku tidak pernah neko-neko didalam
mengambil sebuah keputusan yang menyangkut hidup
orang banyak ( baik selama bekerja sd selama menjadi raja bolu )
Anda tidak fokus di dalam prinsip dasarnya.

>
> bisa lihat paralelnya?
> ini nih paralelnya:
> "untuk apa menjadi malu demi mencari ilmu" = "untuk
> apa menjadi malu {menjual perusahaan2 negara, pulau2}
> demi memenuhi kebutuhan saya dan kelompok saya"
> {misalnya}.
++
Ilmu dimanapun harus dicari, dan aku tidak merasa malu karena
dengan masuk agama Katholik minimal aku bisa mengenyam
pendidikan yang lebih, dan itu sudah menjadi fakta hidup ku.
( bersama dengan keturunanku sd sekarang minimal tidak dipusingkan
oleh masalah sialan di bidang pendidikan ).
>
> harap dicatat, saya tidak melebarkan diskusi ke mana2,
> tapi pengandaian ini penting buat menunjukkan
> persoalan besar anda sebagai politisi yg merasa TIDAK
> ADA PERSOALAN dengan menggadaikan prinsip hidup.
+++
Politik yang menjadi prinsip anda berbeda dengan prinsip yang saya faham-i
dan itu menjadi hak anda.
Politikdi
Indonesia masih dalam taraf berkembang, dan masuk ke dalam
struktur politik bukan berarti harus menjadi seorang politisi tanpa
pendidikan.
Dan mohon anda minta maaf dengan tulisan menggadaikan prinsip hidup diatas,
karena aku masuk politik tidak untuk menggadaikan sesuatu....statusku raja
bolu, dan aku tidak perlu menggadaikan sesuatu.
>
> paham point saya? betapa memprihatinkan kualitas
> kepribadian politisi
indonesia. tidak mengherankan
> kita menghadapi krisis berkepanjangan.
++
Sekali lagi anda tidak pernah mengalam-i etnis Tionghoa yang ingin mengenyam
pendidikan tinggi, dan anda menutup mata kepada prinsip yang anda
menhendak-i keegoisan anda di ikut-i oleh orang lain, apakah anda memiliki
kekuatan finasial yang cukup dan berlebih dalam mengenyam pendidikan tinggi,
aku tidak peduli, yang aku pedulikan pendidikan di
Indonesia tidak bisa di
dapatkan oleh seluruh warga negara dengan hak yang sama.
>
> 2. bila anda masuk katolik karena butuh sekolahnya,
> lalu kenapa anda bikin pernyataan seolah pihak katolik
> yg "bersalah" telah membuat anda jadi penganutnya
> (terungkap lewat pernyataan: "saya jadi katolik
> terpaksa")?
> kalau demikian anda pengecut dan cengeng: anda yg
> butuh, tapi berkoar2 anda terpaksa dan telah jadi
> korban kristenisasi halus.
+++
Anda tidak mengalam-i jaman disaat setelah sekolah gestok di basmi.
Apakah rekan etnis Tionghoa aku tidak boleh sekolah ?, dan mengalam-i
hambatan yang amat sangat untuk bisa ikut menimba ilmu ?, dan berapa banyak
lulusan dari etnis Tionghoa di perguruan tinggi setelah era gestok ?,
silahkan tanya ke rekan anda yang sudah berusia diatas 50 tahun.
>
>
> SURYANA:
> > Apakah menjadi tidak memalukan setelah tidak bisa
> > sekolah dan hanya menjadi
> > pekerja dan pedagang saja ?
>
> CHUN:
> ini tidak relevan dg diskusi kita, pertanyaan saya,
> kenapa anda menyudutkan institusi kristen karena
> orang2 tionghoa itu masuk sekolah kristen dan lalu
> jadi kristen. kalau nggak mau, kenapa nggak pilih
> sekolah lain setelah sekolah2 tionghoa dibubarkan
> pemerintah??? apa setelah setelah sekolah2 tionghoa
> ditutup orang tionghoa WAJIB masuk sekolah kristen?
> nonsense.
> (ingat ya ke pertanyaan awal saya tentang kenapa
> banyak orang tionghoa masuk kristen setelah g30s/pki,
> lalu anda "menyalahkan" kristenisasi)
+++
Itu adalah fakta yang tidak bisa di tutup, berapa sekolah swasta non Kristen
yang ada setelah gestok ?

> SURYANA:
> > Silahkan tanya kerekan yang beragama non Kristen
> > disaat setelah sampai di
> > tingkat pendidikan tinggi, berapa banyak yang mampu
> > masuk perguruan tinggi
> > ?.
>
> CHUN:
> saya tidak melihat relevansi pernyataan anda dengan
> point diskusi kita. dan saya tidak mengerti kenapa
> anda tiba2 ngomong kemampuan masuk perguruan tinggi.
> dari awal
kan pertanyaan saya tentang PILIHAN.
+++
PILIHAN............anda belum menangkap hakekat pilihan.
pilihan bukan berarti bebas, etnis Tionghoa
Indonesia non kristen TIDAK
BANYAK diberi pilihan.............harap anda memaham-i ini dengan baik dan
benar.
>
> SURYANA:
> > Dan..............memilah masalah justru seharusnya
> > anda yang terlebih dahulu
> > menulis PDI-P yang tidak mampu memilah masalah,
> > sedang di diskusi ini tidak
> > ada hubungan dengan PDI-P.
>
> CHUN:
> saya mengkaitkan amburadulnya cara anda mengamati
> persoalan dengan status anda sebagai politisi pdip,
> tentu ada relevansinya: kalau politisi (kebetulan anda
> dari pdip) tidak bisa menganalisis fenomena sosial,
> tapi lalu bikin pernyataan asal-asalan, apa jadinya
> negeri ini? (dan memang sudah amburadul
kan krn
> politisi2nya memang ngga punya equipments yg cukup
> buat jadi politisi yg berkualitas?)
+++
Apakah hanya dengan membaca tulisan aku, anda bisa menyatakan
PDI-P amburadul ?
Boleh aku tahu apa yang di maksud dengan politikus tidak amburadul ?
>
> SURYANA:
> > apa mungkin ada etnis
> > indian di amerika yang
> > mendadak menjadi kristen tanpa sebab ?, dan apa
> > mungkin etnis
Italy menjadi
> > mayoritas Katholik tanpa sebab ?,
>
> CHUN:
> ini sama bodohnya dengan bertanya apa mungkin
india
> jadi hindu tanpa sebab, apa mungkin dunia arab jadi
> islam tanpa sebab, apa mungkin
thailand jadi buddhis
> tanpa sebab.
>
> pak politisi, baca dong buku sejarahnya!!! ini mah
> bukan hubungan antara etnisitas dan agama!!!
> (sadar sekarang bhw anda suka bikin analisis,
> pertanyaan hipotetis serampangan??)
++++
Dan anda masih ngeyel bahwa didalam realitas saat ini
etnis secara tidak langsung berhubungan dengan agama
( silahkan pelajar-i agama yang ada di dunia )
>
> SURYANA:
> dan mengapa malah
> > etnis Yahudi yang
> > notabene pemilik utama Yudaisme tidak banyak
> > menyebar sepertihalnya Kristen
> > ?.
>
> CHUN:
> ya baca lah
sana buku2 sejarah dunia, sejarah ekspansi
> barat, ekspansi pedagang2 arab.
> kok kamu nggak nanya, kenapa yudaism tidak menyebar
> seperti kristen, islam, buddhism?
> kalau mau tahu ya pelajari sono karakteristik agama
> dan bangsa yahudi, yg kelihatannya sangat closed
> society (jangan tanya saya, saya bukan ahlinya).
> hey bung, be critical!!! jangan maen hubungin satu hal
> dan lainnya pake duga2.
+++
Aku memberi sedikit contoh, dan anda tidak mencoba berfikir kritis
mengapa dan mengapanya.
Semua sejarah pada hakekatnya sejenis dan berulang, yang membuat perbedaan
hanyalah perkembangan kebudayaan dan situasi serta kondisi.
Disaat semua itu ( perkembangan apapun ) berhenti secara otomatis akan
terjadi status quo/stagnan dan sejarah masih membuktikan bahwa kehidupan
manusia masih bergerak dinamis ( bertambah cepat setelah iptek lebih
berkembang lagi ).

DAN ITU SEMUA TIDAK TERLEPAS DARI PENDIDIKAN .
>
> **huh cape pisan, model diskusi gini**
++
Anda terlalu ngotot untuk sesuatu yang sederhana, beberapa waktu yang lalu
aku pun ikut berdiskusi dengan rekan Tionghoa dari Kong Hu Cu.......dan
disaat bicara pendidikan........................".realitas memang sulit
mendapatkan persamaan mendapatkan pendidikan " dan anda malah muter-muter ke
pribadi aku.

sur ( bersyukurlah anda, karena aku paling ogah nulis panjang-panjang
    )




SPONSORED LINKS
Science kits Science education Online social science degree
Science kit for kid Social science degree Social science education


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke