Seri yang lalu :

ILMU DASAR DAN PERENCANAAN PENGOMPOSAN

  I. Definisi Pengomposan dan Kompos
 II. Proses Dasar Pengomposan
III. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengomposan 
    a. Kelembapan (Kadar Air)
    b. Aerasi (Konsentrasi Oksigen)
    c. Temperatur
    d. .....

Wass / Jaerony.-

**************************************************


III.       FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGOMPOSAN

 

D.      Ketersediaan Nutrisi (Keseimbangan Rasio C dan N)

 

Proses pengomposan akan berjalan dengan baik apabila seluruh unsur-unsur 
nutrisi yang diperlukan mikroorganisma tersedia di dalam bahan limbah. Unsur 
utama yang diperlukan oleh mikroorganisma dalam proses pengomposan adalah :

 

·          Unsur C (karbon)

Karbon merupakan sumber energi bagi mikroba, sama halnya glukosa atau 
karbohidrat bagi manusia.

 

·          Unsur N (nitrogen)

Nitrogen dibutuhkan mikroba sebagai sumber makanan untuk pembentukan sel-sel 
tubuhnya, sama seperti daging atau ikan sebagai sumber nutrisi bagi manusia 
untuk menumbuhkan lapisan otot dan jaringan tubuh lainnya. Nitrogen merupakan 
unsur utama yang paling penting dan biasanya jika nitrogen cukup tersedia dalam 
bahan organik awal, maka unsur hara lainnya akan tersedia pula dalam jumlah 
cukup.

 

Proses pengomposan akan berjalan optimal apabila bahan yang dikomposkan 
memiliki kandundan C dan N dengan rasio 30:1 (atau dalam kisaran 20:1 sampai 
40:1). Oleh karena itu apabila bahan yang dikomposkan rasionya kurang atau 
lebih tinggi dari nilai tersebut sebaiknya dikondisikan terlebih dahulu.

 

E.      Derajat Keasaman (pH)

 

Derajat keasaman adalah skala yang menunjukkan tingkat keasaman suatu bahan. 
Skala yang dipakai adalah 0 sampai 14. Semakin tinggi angka pH berarti semakin 
kecil tingkat keasamannya atau bahan semakin bersifat basa.

 

Pada awal proses pengomposan akan terjadi penurunan pH, karena akumulasi produk 
asam-asam organik sederhana hasil penguraian limbah oleh mikroorganisma 
tertentu. Pada tahap selanjutnya, mikroorganisma lainnya akan menguraikan 
asam-asam organik tersebut sehingga pH naik kembali mendekati netral.

 

Tingkat keasaman bahan yang dikomposkan sebaiknya berkisar pada pH 7 (atau 6-8) 
karena di luar pH tersebut kehidupan mikroorganisma pengomposan akan sangat 
terganggu.

 

F.      Ketersediaan Mikroba 

 

Kita mengetahui bahwa 'mesin' pengomposan adalah mikroba. Sebenarnya, berbagai 
jenis mikroba secara alamiah telah ada di dalam semua jenis samah organik yang 
dikomposkan. Semakin beragam material sampah yang dikomposkan, semakin beragam 
pula mikroba yang tersedia.

 

Sebagian orang berpendapat bahwa penggunaan aktivator yang diproduksi secara 
komersial dapat mempercepat proses pengomposan dan meningkatkan kualitas 
kompos. Namun pengujian independen para pakar kompos dunia dan pengalaman 
penulis mengindikasikan bahwa penggunaan aktivator komersial ternyata tidak 
mempercepat proses pengomposan dan meningkatkan kualitas kompos secara nyata.

 

Keputusan untuk menggunakan aktivator komersial hendaknya diperhitungkan secara 
bijaksana karena akan meningkatkan biaya pengomposan. Kita dapat menggunakan 
aktivator alamiah yang sangat murah dan bagus seperti kompos, tanah subur dan 
kotoran ternak.

 

G.      Ukuran Partikel

 

Ukuran partikel bahan yang dikomposkan akan berpengaruh terhadap efektivitas 
kerja mikroorganisma dan aerasi.

 

Semakin kecil ukuran partikel yang dikomposkan akan semakin meningkatkan 
efektivitas kerja mikroorganisma dalam menguraikannya, seperti yang diuraikan 
di bawah ini.

 

Namun demikian, ukuran partikel tidak boleh terlalu kecil karena kalau terlalu 
kecil rongga-rongga udara yang terdapat di antara partikel-partikel menjadi 
semakin sempit. Jika rongga-rongga tersebut semakin sempit maka ketersediaan 
oksigen (udara) yang dibutuhkan oleh reaksi kimia semakin sedikit sehingga 
dapat mengakibatkan proses penguraian bahan organik. Partikel yang terlalu 
kecil menyebabkan gangguan aerasi.

 

Berdasarkan pengalaman di lapangan, ukuran sampah yang ideal untuk pengomposan 
yang aerasinya berlangsung secara alamiah adalah antara 2 sampai 5 cm.

 

H.      Ukuran Tumpukan (Pile)

 

Ukuran tumpukan berpengaruh terhadap temperatur dan aerasi proses pengomposan. 
Pengaruhnya terhadap temperatur adalah :

 

·          Semakin besar tumpukan, panas yang terjadi pada awal proses 
pangomposan akan tersimpan sehingga temperatur tumpukan menjadi tinggi. 
Tumpukan yang besar efek isolasi (menyimpan panas) lebih baik dari tumpukan 
yang berukuran kecil.

 

·          Semakin kecil tumpukan, panas yang terjadi mudah lepas ke lingkungan 
sekitar sehingga temperatur tumpukan cepat turun atau tidak dapat tinggi.

 

Sementara itu pengaruhnya terhadap aerasi adalah :

 

·          Semakin besar tumpukan, aerasi alamiah akan semakin berkurang 
sehingga proses pengomposan kekurangan udara akibatnya prosesnya akan semakin 
lambat atau bahkan berubah menjadi proses anaerobik yang menghasilkan bau busuk.

 

Seberapa besar ukuran tumpukan yang ideal? Dimensi ukuran tumpukan yang optimal 
agar aerasi berjalan baik dan temperaturnya tinggi adalah :

 

·          Tinggi :  1,5 meter

·          Lebar  :  2,5 meter

·          Panjang :  lebih dari 3 meter

 

I.      Homogenitas Campuran

 

Agar proses pengomposan berjalan merata pada seluruh tumpukan, maka bahan harus 
homogen atau seragam jenisnya. Hal ini dapat dicapai dengan cara pencampuran 
bahan. Pencampuran dapat dilakukan :

 

·          Pada awal proses yaitu untuk memperoleh komposisi bahan baku yang 
ideal.

·          Pada saat pembalikan, yaitu untuk mencampurkan bahan dari bagian 
luar dengan bagian dalam tumpukan.

 





IV.       JENIS TEKNOLOGI PENGOMPOSAN



(bersambung ...)


Kirim email ke