SEKOLAH HIDUP SUSAH

Oleh Handrawan Nadesul
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0710/20/opini/3909461.htm

Untuk menjadi kaya, semua orang bisa instan melakoni. Namun, tidak siapa saja 
siap menjadi orang susah.

Orang miskin baru kian banyak. Penganggur baru menambah bengkak angka 
kemiskinan. Bisa jadi, itu sebabnya, selain angka bunuh diri tinggi, tiga dari 
sepuluh orang Indonesia tercatat terganggu jiwanya.

Tidak siap hidup susah berisiko sakit jiwa. Ada cara sederhana menekan risiko 
sakit jiwa. Sejak kecil anak dibuat tahan banting. Ketahanan jiwa anak harus 
dibangun. Untuk itu, jiwa butuh "imunisasi".

Menerima kenyataan

Sejak kecil anak diajar lebih membumi. Yang gagal kaya rela menerima kenyataan. 
Yang belum pernah hidup susah diajar prihatin sedari kecil. Kendati kecukupan, 
tidak semua yang anak minta perlu diberi. Anak dilatih merasakan kegagalan.

Tugas orangtua dan guru mengajak anak berempati pada kesusahan orang lain. 
Hidup tak luput dari berbagai stresor. Tak semua stresor jelek. Supaya jiwa 
tahan banting, stresor dibutuhkan. Anak perlu mengalami seperti apa tekanan 
hidup, konflik, kegagalan, rasa kecewa, dan krisis dalam hidup. Seperti vaksin, 
biasakan anak memikul aneka stresor yang bikin jiwanya kebal seandainya kelak 
hidupnya susah.

Tanpa dilatih hidup susah, anak yang terbiasa hidup berkecukupan tak tahan 
banting. Lebih banyak orang sukses lahir bukan dari keluarga kecukupan. Hidup 
prihatin membuat jiwa tegar bertahan melawan kesusahan. Hidup susah membangun 
mimpi ingin lepas dari rasa kapok menjadi orang susah. Demi mengubah mimpi jadi 
kenyataan, spirit kerja keras pun dipecut.

Einstein percaya, untuk sukses diperlukan lima persen otak, selebihnya keringat 
(perspirasi). Spirit kerja keras menjadi milik orang yang tak pernah puas pada 
prestasi yang diraih. Seperti bangsa Troya dulu, pembangunan Jepang dan Korea 
lebih pesat ketimbang bangsa sepantar karena memiliki "virus" n-Ach 
(need-for-Achievement) yang tinggi.

"Virus" n-Ach bisa ditularkan kepada anak lewat asuhan dan pendidikan. Bacaan 
memuat nilai kehidupan, termasuk mendongeng, pendidikan berdisiplin, dan 
keteladanan orang lebih tua. Itu modul-modul kehidupan agar anak tahu juga 
hidup susah.

Jiwa getas

Kebiasaan meloloh anak dengan kelimpahruahan tidak melatih anak merasakan 
gagal, kecewa, rasa ditekan, rasa konflik, atau rasa krisis. Tanpa tempaan 
stresor, jiwa getas. Jika jiwa getas, orang rentan stres. Bila tak terlatih 
hidup berdamai dengan stres, hidup berisiko gagal andai harus jatuh miskin.

Tak ada sekolah yang mengajarkan menjadi orang miskin. Tak pula ada kursus 
memampukan anak terbiasa hidup berdamai dengan stres. Yang bisa kita lakukan 
adalah mengasuh dan mendidik anak tahan banting. Mandat itu harus ada di pundak 
setiap orangtua.

Tidak semua anak kecukupan pernah mengalami stresor. Dalam pendidikan modern, 
anak sengaja dihadapkan pada stresor buatan. Ada pelatihan diam-diam, dalam 
suasana berkemah atau outbound diciptakan situasi krisis. Mobil sengaja dibuat 
mogok di tengah hutan pada malam hari, atau kehabisan makanan selagi camping.

Dihadang stresor buatan, anak dilatih bagaimana bereaksi, beradaptasi, agar 
mampu lolos dari rasa panik, rasa takut, rasa tidak enak berada dalam situasi 
darurat. Ini bagian dari upaya membuat kebal jiwa anak. Bila jiwa tak tahan 
banting, sontekan stres kecil mungkin diatasi dengan bunuh diri. Kini semakin 
banyak kasus bunuh diri hanya karena alasan enteng. Gara-gara ditinggal pacar, 
tidak naik kelas, sebab jiwa tak terlatih memikulnya. Maka jiwa perlu 
digembleng.

Kerja keras

Menggembleng berarti menunjukkan rasa arah hidup prihatin, selain berdisiplin. 
Hidup berdisiplin berarti menjunjung tinggi kebenaran, memikul tanggung jawab, 
kerja keras, serta mampu menunda kepuasan.

Menunda kepuasan bentuk keunggulan sebuah bangsa. Bangsa unggul memiliki 
"virus" n-Ach tinggi. Anak yang diasuh dan dididik dengan nilai-nilai "virus" 
n-Ach, menyimpan bekal sukses. Itu kelihatan, misalnya, dari cara makan. Anak 
dengan n-Ach tinggi menyisihkan yang enak dimakan belakangan, yang tidak enak 
dimakan dulu. Tugas berat dikerjakan dulu, yang enteng belakangan. 
Bersakit-sakit dulu bersenang-senang kemudian menjadi kredo bangsa yang sukses.

Agar tahu hidup susah, anak diajak memahami bahasa hidup bukan uang semata. Tak 
semua semerbak kehidupan bisa dipetik dengan uang. Kebahagiaan tertinggi hanya 
terpetik setelah orang mampu merasa bersyukur meski cuma menjadi orang biasa 
(mengutip Gede Prama).

Sukses hidup sejati tak mungkin terpetik instan. Jiwa potong kompas, ingin 
lekas kaya, tumbuh dari budaya instan. Bukan rasa arah yang benar saja yang 
perlu ditanamkan saat membesarkan anak, tetapi harus benar pula menempuhnya di 
mata Tuhan.

Anak disiapkan menjadi insan linuwih (terinternalisasi penuh superegonya) 
dengan cara mengempiskan egonya sekecil mungkin. Rekayasa sosial (social 
engineering) diperlukan dengan menyuntikkan "vaksin" hidup prihatin. Perlu pula 
penyubur superego agar kendati hidup susah masih merasa bahagia.

Hanya bila bibit linuwih dipupuk sejak kecil, sekiranya hidup susah tak tergoda 
memilih serong. Kendati tak banyak harta, uang, atau kuasa, ke arah mana pun 
hidup memandang, merasa tetap "kaya". Mampu legawa, bersyukur, dan merasa 
berbahagia sudah pula meraih Oscar kehidupan, kendati mungkin hanya menjadi 
orang biasa. 

HANDRAWAN NADESUL Dokter, Penulis Buku, Pengasuh Rubrik Kesehatan


Original Message :  Agus Hamonangan 

Kirim email ke