SPEKULAN DAN GEOPOLITIK ANCAM AS DAN DUNIA

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0711/03/ln/3969558.htm
=====================

Spekulan berduit banyak, yang mencari untung dari naik turunnya harga saham dan 
komoditas, telah menjadi musuh dunia. Jika mereka berada di bawah kekuasaan 
Orde Baru di Indonesia, mereka bisa dituduh melakukan subversi ekonomi. 
Mengapa? Merekalah yang membuat ekonomi dunia terancam resesi lewat spekulasi 
yang menyebabkan krisis kredit di sektor perumahan AS.

Pada harian Inggris The Guardian edisi 29 Oktober disebutkan, kenaikan harga 
minyak disebabkan faktor yang terkait pada empat hal. Pertama, kekhawatiran 
soal kekurangan pasokan minyak. Kedua, ketegangan geopolitik di Irak, tekanan 
AS pada isu nuklir Iran, dan kasus Kurdi dan Turki. Ketiga, dollar AS melemah 
yang membuat spekulan mencari lahan lain untuk berspekulasi. Keempat, memang 
sedang terjadi kenaikan permintaan minyak walau OPEC masih relatif bisa 
mengimbangi.

Dari keempat faktor itu, faktor lemahnya dollar AS menjadi yang utama.Dollar AS 
melemah karena perekonomian AS melemah. Indikator berupa pengurangan tenaga 
kerja, kebangkrutan perusahaan besar AS adalah indikator lain yang menunjukkan 
kelemahan ekonomi AS.

Dollar AS yang lemah juga dipicu krisis kredit di sektor perumahan. Menurut The 
Guardian, para spekulan, terutama para hedge fund, sudah merugi besar dengan 
kebangkrutan sektor perumahan. Harian itu melanjutkan, untuk mengompensasikan 
kerugian itu, para spekulan melakukan posisi short di bursa berjangka, 
khususnya komoditas minyak. Posisi short adalah sebutan bagi aksi spekulan yang 
mencari untung, walau juga bisa rugi, dari transaksi-transaksi spekulatif jangka
pendek untuk keuntungan jangka pendek.

Ketika terjadi kebangkrutan, dan gejolak harga saham global pada Juli lalu, 
sejumlah bank sentral menyuntikkan uang ke pasar. Hal ini bertujuan mencegah 
agar krisis tidak berkelanjutan. Setidaknya ada 300 miliar dollar AS 
disuntikkan ke pasar dan sistem perbankan oleh Bank Sentral AS, Bank of 
England, Bank of Japan, Bank of Canada, Bank Sentral Eropa, dan lainnya.

Ironisnya, dana ini malah memukul balik. Para spekulan menggunakan dana-dana 
itu berspekulasi di pasar minyak. Mereka mengambil posisi short untuk spekulasi 
bahwa harga minyak akan naik. Tidak heran jika harga minyak akan mendekati 
level 100 dollar AS per barrel. Mereka memainkan isu geopolitik yang memanas 
untuk mendongkrak harga lebih tinggi lagi.

Makin tak berdaya

Tidak heran jika Presiden Perancis Nicolas Sarkozy mengecam para spekulan. 
"Kita telah dibuat susah oleh spekulan, untuk apa kita memasok uang ke pasar," 
demikian kata Sarkozy pada awal Oktober lalu.

AS dan Inggris, pemilik sekitar 8.000 perusahaan hedge fund, enggan jika hedge 
fund diatur. Akibatnya, G8 (Inggris, Perancis, Jerman, Italia, Rusia, Jepang, 
AS, dan Kanada) tak berdaya mengatur gerak-gerik hedge fund.

Kini ada musuh tambahan, yakni keadaan geopolitik yang tak bisa diatasi, bahkan 
oleh AS. Penguasaan dunia, khususnya AS, atas negara-negara pemilik minyak kian 
melemah.

Ada skenario yang dibuat oleh AS sendiri, yakni pada Agustus 2009, harga minyak 
akan mencapai 150 dollar AS per barrel. Berdasarkan skenario itu, Iran sudah 
memiliki pabrik nuklir rahasia. Sanksi akan dijatuhkan Barat atas prakarsa AS 
terhadap Iran, yang kini sedang berteman dengan Venezuela. Teheran dan Caracas 
balik menghukum Barat dengan mengurangi ekspor minyak mentah sebesar 700.000 
barrel per hari.

Lanjut, Timur Tengah makin kuat dan makin panas. Armada besar AS di Pasifik 
akan dialihkan tugasnya ke Timur Tengah untuk mengatasi ancaman. "Iran dan Irak 
menjadi sasaran utama," kata Gene Sperling, mantan penasihat ekonomi di era 
pemerintahan Presiden Bill Clinton.

Inilah skenario bahaya yang sedang disusun para pakar AS. Karena fokus ke Timur 
Tengah, AS kecolongan di Venezuela, Nigeria, Azerbaijan, Georgia, Armenia, dan 
lainnya. Faktor Rusia dan Iran juga turut merunyamkan keadaan. "Kemampuan kita 
memperkuat militer di wilayah ini terbatas. Kita terjebak di berbagai belahan 
dunia," kata mantan petinggi Angkatan Laut AS, John Lehman. "Kita terlalu lama 
fokus pada Irak dan Afganistan dan lengah membangun militer," lanjut Lehman.

Israel memanaskan situasi dengan bertindak sendiri terhadap Iran. Ini membuat 
keadaan memanas. Itulah skenario yang sedang disusun AS.(AFP/AP/REUTERS/MON)


Original Message: Agus Hamonangan 

Kirim email ke