Berkurban Anthurium....
20 Des 07 06:19 WIB

Oleh Ana Tiara

Sebentar lagi Idul Qurban. Setiap kali saya pulang dari tempat kerja dengan 
mengendarai sepeda motor, saya sengaja melaju pelan-pelan karena saya ingin 
melihat begitu banyaknya kambing-kambing qurban dan sapi-sapi qurban berjejer 
di tepi-tepi jalan. Ya Rabb, hamba rindu untuk membelinya, dan kembali 
berqurban....saya harus mengecek kembali pendanaan saya:

Betapa melihat hewan-hewan qurban itu, di bayangan kepala saya, berjuta-juta 
kaum dhuafa di Indonesia mengantre untuk meminta dagingnya. Dan senyuman 
melegakan tersurat saat mereka benar-benar mendapatkannya dari antrean mereka.

Sementara saya menuju belahan Depok lainnya, saya melihat ada ada gerumulan 
orang-orang. Saya begitu ingin tahu melihat antusias orang-orang itu 
berdatangan. Saya pikir mereka membeli hewan qurban, ternyata tidak. Tidak ada 
hewan kurban di sana. Mereka sedang tawar-menawar yang lain, Anthurium, tanaman 
hias.

Anthurium sekarang rupanya sedang menjadi euphoria dalam bidang hobi tanaman 
hias. Banyak pecinta tanaman hias memborongnya ibarat kehausan air. Begitu saya 
mendengar harganya, Ya Rabb, puluhan, ratusan juta, bahkan miliaran, cuma untuk 
satu pot Anthurium. Dalam pikiran saya terbesit, berapa kambing, ya? Saya yang 
memang niat sekali berkurban, jadi mengelus dada... Makan pun orang-orang 
miskin itu belum tentu mampu....pikir saya lagi. Hebat sekali daya tarik 
Anthurium ini. Selain sekadar memenuhi hobi, mudah-mudahan antusias berkurban 
juga mereka lakukan.

Saya melihat banyak pecinta membeli Anthurium yang bernama "Gelombang Cinta". 
Katanya, tidak mudah layu, indah, membuat tenteram. Harapan saya, semoga 
gelombang cinta pun muncul tidak saja dari pecinta Anthurim, melainkan dari 
semua Muslim yang mampu untuk memberi kepada yang membutuhkan. Bukan sekadar 
untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri, atau lebih tepatnya kepuasan diri di 
saat orang-orang lain menatap terpana. Amin, Ya Rabb.

Depok, 181207 Antiar

situs " Eramuslim "

Kirim email ke