Jumat, 28 Desember 2007

Senandung Duka Dukuh Anthurium 




D ilihat dari sisi geografis, Dukuh Mogol yang dihuni 110 jiwa, dapat dikatakan 
terpencil. Dari jalan raya, akses menuju Dukuh di Desa Ledoksari, Kec 
Tawangmangu, Kab Karanganyar ini, hanya berupa jalan setapak sepanjang empat 
kilometer. 

Di sekitarnya, jurang menganga. Tapi, siapa sangka kalau kampung ini dihuni 
orang-orang berkantong tebal. Anthurium, tanaman hutan yang tiba-tiba booming 
dan berhasil dibudidayakan di Dukuh Mogol, membuat sebagian warganya masuk 
kategori orang-orang dengan nilai kekayaan 10 digit. Mereka orang kampung, tapi 
miliuner!

Tapi, sebagian areal Dukuh yang dihuni sejumlah orang kaya baru (OKB) itu, kini 
ludes dihantam longsor. Nyawa dan harta benda, tertimbun tanah setinggi 10 
meter. Soelarsih (32 tahun) yang ditemui Republika, kemarin, menangis 
sesengukan mengenang kakaknya, Soewardi (35 tahun). Tak ada yang tersisa dari 
Soewardi. Dia terkubur bersama kedua anaknya Santi (12) dan Anggi (8) istrinya, 
Giyem (30), dan seluruh harta bendanya, ketika longsor menerjang, Rabu (26/12) 
dinihari.

Saat peristiwa itu terjadi, Soewardi sedang berencana membangun rumah. Selasa 
(25/12) pagi, penggalian fondasi sudah dilakukan. Bahan bangunan juga sudah 
disiapkan. Rumah yang hendak dibangun Soewardi, pengusaha anthurium itu, 
tergolong mewah untuk ukuran warga kampungnya. Tapi, dalam sekejap, bangunan 
yang direncanakan beserta koleksi anthurium berbagai jenis yang nilainya 
diperkirakan mencapai Rp 2 miliar; dua kapling tanah bernilai ratusan juta 
rupiah; mobil dan lain-lain, tertimbun tanah setinggi 10 meter. 

Beberapa hari sebelum kematiannya, tutur Soelarsih, Soewardi melakukan 
transaksi anthurium. Tanaman yang sudah bertongkol tiga sampai empat, biasa 
ditawar Rp 300 juta. Namun, Soewardi tak mau melepas. Dia berkeras harganya di 
atas Rp 300 juta. Soewardi tergolong sukses menekuni bisnis budidayan tanaman 
hias. Dulu, saat masih bujang, Soewardi hanyalah penjual bunga keliling. Dia 
sering berjualan di objek wisata Tawangmangu, Solo, Semarang, Yogyakarta, dan 
kota-kota lainnya.

Sejak 1995, Soewardi menekuni anthurium. Mula-mula dia berusaha kecil-kecilan, 
membudidayakannya dari biji. Bibit anthurium jenis Jenmanii, Hookeri, Keris, 
Kobra, dan lain-lain, dibelinya di Malang, Jatim. Tak disangka tanaman asal 
Amerika Selatan itu booming, harganya melambung tinggi secara tak rasional. Dan 
garis tangan Soewardi berubah 180 derajat. ''Dan, Mas Wardi semakin bersemangat 
menekuni bisnis ini. Tapi, sekarang dia sudah meninggal bersama isteri dan 
anak-anaknya,'' Soelarsih.

Nama Soewardi cukup dikenal di kalangan pebisnis dan kolektor tanaman hias. 
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kab Karanganyar, Drs Sukoyo, dan 
istrinya, misalnya, sering bertemu Soewardi. Malah, kata Sukoyo, berurusan 
dengan Soewardi menyenangkan, karena harga anthuriumnya kerap ditawarkan agak 
miring. ''Kalau dijual lagi pasti untung lumayan,'' katanya.

Sukoyo mengaku penasaran dengan musibah yang menimpa warga Mogol. Sukoyo yang 
juga pernah menjadi anggota SAR Kab Klaten, sejak hari pertama musibah datang 
ke lokasi. ''(Mencari) apakah Soewardi ikut jadi korban longsoran atau tidak. 
Kok saya cari tidak ada,'' katanya. Bukan Soewardi saja yang menekuni bisnis 
tanaman hias di Dukuh Mogol. ''Sembilan puluh persen warga sini bisnis tanaman 
hias,'' Wiryo Sentono (50) warga Mogol. 

Bahkan, kata Wiryo, ada beberapa orang yang melebihi sukses Soewardi. Dia 
menyebut nama Bardi (33) yang memiliki aset lebih dari Rp 10 miliar, hasil 
bisnis anthurium. Juga Parno (35), Giyanto (40), Mardi (38) dan Wardi (36). 
Mereka rata-rata memiliki aset antara Rp 2-3 miliar dari bisnis tanaman yang 
masih terbilang langka itu. 

Kendati mereka telah menjadi miliarder, Wiryo mengatakan Soewardi, Bardi, dan 
warga lainnya tak mengalami perubahan gaya hidup drastis. Mereka tetap hidup 
bersahaja, seperti petani biasa. Rata-rata mereka mendiami rumah panggung 
berlantai dua atau tiga. Rumah-rumah itu pun ditutupi paranet, semacam kelambu 
untuk menghalang sinar matahari datang terlalu deras, dan anthurium terlindung. 
Mereka juga rata-rata hanya mengemudikan Suzuki Carry. 

Selain anthurium, tanaman lain yang juga dibudidayakan di Dukuh Mogol adalah 
tanaman hias biasa. ''Jadi, penduduk sini tidak ada yang nganggur. Semua bisa 
cari makan sendiri,'' kata Ny Panem (40), seorang warga yang selamat dari 
bencana. Tapi, bencana longsor membuat Dukuh di kaki Gunung Lawu itu berubah. 
Bahkan, warga yang mendiami Dukuh itu, direncanakan direlokasi ke tempat lain 
yang lebih aman. eds

( ) 

Kirim email ke