Pengantar : Tadi malam, di MetroTV setelah TOP9 NEWS, ada acara talkshow
bersama Masbukhin Pradhana ( ada yang menyaksikan ? ). Menarik wawancara dan
inspirasi serta pengalamannya dalam berbisnis. Walaupun bentrok dgn Mario
Super di O Channel. Kalau belum kenal dgn Masbukhin Pradhana,artikel dibawah
ini mungkin dapat bermanfaat untuk sekedar gambaran bagaimana pengalaman
beliau dalam berbisnis.
Selamat membaca.
salam / agus rasidi
===============================================
Masbukhin Pradhana: Lebih Enak Memulai Bisnis Saat Masih Jadi Karyawan
Saat ini, semakin banyak saja pengusaha yang membagikan pengalamannya
melalui buku. Tidak harus menunggu hingga jadi konglomerat dulu baru membuat
buku. Yang terpenting bukan lagi ukuran bisnis, tetapi lebih pada semangat
berbagi pengalaman serta nilai-nilai entrepreneurship yang digaungkan.
Terlebih, penerbit juga sudah memberi keleluasaan kepada banyak calon
penulis yang berlatar belakang pengusaha untuk unjuk karya. Maklum, medan
persaingan penerbitan buku semakin ketat. Alasan lain, buku-buku
entrepreneurship punya penggemar tersendiri. Bahkan, tak sedikit dari
buku-buku jenis ini yang sangat digemari oleh pembaca serta meraih predikat
best seller.
Masbukhin Pradhana adalah salah satu di antaranya. Pengusaha yang bergelar
Raja Voucher ini baru saja meluncurkan buku berjudul Cara Brilian Menjadi
Karyawan Beromzet Miliaran (Elexmedia Komputindo, 2006). Judul buku yang
sangat menggoda, memang. Terlebih bagi para orang gajian yang benar-benar
ingin mandiri, punya penghasilan lebih, punya bisnis sendiri, dan akhirnya
sungguh-sungguh jadi pengusaha.
Masbukhin lahir di Gresik, Jawa Timur, pada 23 Agustus 1974. Sejak SD dia
sudah mencicipi rasanya menjadi "wirausaha", misalnya dengan beternak ayam,
jualan lilin dan kembang api, dan buka toko kelontong di rumah orangtuanya.
Sampai saat kuliah dan menjadi pegawai negeri sipil di Malang, dia tetap
suka berwirausaha. Gagal dan bangkit lagi, itulah tabiat pengusaha.
Akhirnya, nasib membawanya menjadi karyawan sebuah perusahaan otomotif di
Jakarta.
Masih sambil menekuni bidangnya sebagai karyawan bidang Teknologi Informasi,
bersama istrinya dia melanjutkan kegemaran menjalankan berbagai bisnis atau
usaha sampingan. Ternyata, bisnisnya jalan, terutama bisnis grosir voucher.
Hingga akhirnya, dia berhasil memiliki enam gerai grosir voucher di berbagai
lokasi dengan 17 karyawan, jadi mentor di sebuah komunitas bisnis, sambil
sesekali menularkan ilmunya melalui artikel.
Dalam pandangan Masbukhin, saat yang tepat untuk membuka usaha justru pada
saat orang masih jadi karyawan. "Sebab, kita bisa memanfaatkan tabungan
untuk modal. Kalau bisnis belum jalan, kita masih punya gaji. Kalau bisnis
sudah jalan, hasilnya bisa ditambahkan ke modal usaha. Atau gaji bisa
dijadikan tambahan modal," jelasnya.
Tepat ketika artikel-artikelnya diterbitkan menjadi buku pada Agustus 2006
lalu, Masbukhin mengundurkan diri sebagai karyawan. Kini, dia menekuni
bisnis vouchernya, menjadi mentor bisnis, dan merambah dunia public
speaking. Bukunya pun langsung cetak ulang pada bulan kedua peredarannya.
Berikut petikan wawancara Edy Zaqeus dari Pembelajar.com dengan Masbukhin
yang berlangsung di Plaza Semanggi, Jakarta.
Apa motif penulisan buku Cara Brilian Menjadi Karyawan Beromzet Miliaran
ini?
Pertama, saya orangnya suka sharing. Sharing berdasar pengalaman. Kedua,
banyak orang yang mulai berbisnis itu harus jungkir balik. Termasuk saya.
Saya mulai berbisnis itu beberapa tahun selalu jungkir balik. Karena tidak
pernah sharing pengalaman. Nggak gampang, karena saya harus mencari sendiri.
Hasil pengalaman saya sendiri digabung dengan pengalaman bisnis beberapa
senior, ternyata bisa mempercepat proses pencarian jati diri bisnis kita.
Nah, saya tidak ingin masa coba-coba saya yang beberapa tahun itu dialami
oleh orang yang masih dalam proses pencarian bisnisnya. Lahirlah buku ini.
Mungkin, kalau saya dulu coba-cobanya tujuh tahun, mungkin bagi pemula yang
membaca pengalaman kami bisa cuma satu atau dua tahun untuk mendapatkan
bisnisnya yang cocok.
Seberapa banyak karyawan yang minat jadi orang kaya melalui wirausaha?
Saya lihat banyak sekali. Saya tidak bisa omong angka karena belum riset.
Yang jelas, kalau kita lihat kondisi di luar, siapa sih orang yang kaya itu?
Kebanyakan pengusaha, kan? Entah 80 persen atau 90 persen adalah pengusaha.
Sekarang dibalik pertanyaannya, apa pun statusnya apakah karyawan atau masih
mahasiswa, "Apakah Anda ingin kaya?" Pasti jawabnya ya, pingin, pingin dapat
duit banyak. Tapi kalau ditanya lebih lanjut, "Anda mau nggak jadi
pengusaha?" Jawabnya, "Oh, ntar dulu!" Ada yang alasannya tidak punya bakat,
tidak punya modal, banyak alasanlah ya. Banyak alasan untuk tidak terjun ke
dunia bisnis. Tapi mereka berminat jadi kaya.
Masalah apa yang biasa dihadapi karyawan yang baru terjun ke dunia
wirausaha?
Pertama adalah waktu. "Wah, waktu saya habis untuk kantor, ndak mungkin saya
mulai!" Kedua, soal modal, "Wah, modal saya ndak cukup untuk memulai suatu
bisnis." Yang ketiga, "Saya ndak punya bakat, ndak punya ilmunya, ndak punya
pengalaman."
Pengalaman Anda, bagaimana memulai usaha sambil tetap jadi karyawan?
Tadi ada tiga masalah ya. Misalnya kendala pengalaman, saya sudah memiliki
sedikit pengalaman. Lalu saya ikut mentoring, belajar bisnis pada orang yang
sudah berpengalaman. Bisa ke orangnya langsung, bisa belajar dari buku-buku,
seminar. Kedua soal waktu, ya kita harus investasi waktu untuk memulai
bisnis itu sendiri. Apakah mulai dari Sabtu dan Minggu. Misalnya sore hari
juga bisa. Makanya saya berusaha tinggal dekat kantor, sehingga waktu tempuh
pun singkat, kan? Sehingga saya punya waktu untuk mengontrol bisnisnya.
Ketiga soal modal. Justru karena kita jadi karyawan, kan kita dapat gaji.
Bisnis yang baru dimulai jarang yang langsung untung. Perlu proses. Di
sinilah, kita sebagai karyawan diuntungkan. Karena ketika bisnis itu belum
menguntungkan, cash flow belum positif, kita masih mendapatkan gaji. Paling
nggak untuk nutup kekurangan. Syukur-syukur kalau kita sudah punya tabungan.
Masak sih sudah bekerja dua tahun misalnya, kita ndak punya tabungan sama
sekali? Dari tabungan itu bisa kita pakai buat modal usaha. Dan dari situ
tiap bulan kita tambahkan modalnya.
Kuncinya, karyawan harus punya modal tertentu untuk memulai usaha?
Betul. Bisnis apa pun perlu duit. Berapa pun besarnya, itu tergantung
bisnisnya. Cuman, duit modal ini bukan selalu punya kita. Kalau kita punya
ide bisnis, dan kita mampu menjual ide tersebut kepada orang yang punya
duit. Maka, kita bisa memulai bisnis ini bersama. Orang lain yang punya duit
sebagai investor, kita bisa menjalankan operasionalnya.
Berarti minatnya yang harus besar dulu, bukan selalu soal modal?
Minatnya, betul! Minat itu berasal dari mana, tentu dari mindset kita, kan?
Mindset itu dari mental, sehingga mentalnya harus dibentuk dulu. Mental
pengusaha dengan mental karyawan itu beda, kan?
Saat masih jadi karyawan dan baru terjun ke bisnis, kesulitan-kesulitan apa
yang Anda alami?
Awalnya saya mulai bisnis toko kelontong eceran itu. Tapi, kok untungnya
sedikit. Lalu saya tambahi lagi, usaha yang lain. Sehingga setelah itu saya
punya empat unit usaha, tapi tidak tahu profit terbesarnya dari mana. Nah,
seiring berjalannya waktu saya semakin ngerti, oh ini effort-nya besar
dapatnya besar. Yang ini effort-nya kecil hasilnya kecil, tapi bisa
dikembangkan lagi menjadi lebih besar. Jadi saya harus memilih dan ada yang
saya amputasi.
Waktu menghadapi kendala di awal merintis bisnis, apa yang Anda lakukan?
Saya berproses. Waktu saya sudah menjadi karyawan di Jakarta, saya patungan
bisnis dengan teman-teman di daerah. Sayang bangkrut. Bikin bisnis lagi,
restoran soto betawi, patungan berlima, tapi nggak ngangkat juga. Lalu saya
analisis, mengapa tidak berhasil? Akhirnya saya harus ngerti, saya harus
bisa, yaitu bisnis yang sekarang saya jalankan.
Sekarang Anda sudah sampai pada tahap berbagi pengalaman kepada orang lain.
Oke, bagaimana ceritanya kok ada ide menulis buku ini?
Tadinya saya tidak kepikiran mau bikin buku. Dulu waktu kecil sih pernah
bercita-cita jadi penulis. Waktu itu saya lihat, seorang penulis itu pasti
orang yang betul-betul sekolah, terpelajar. Misalnya, yang nulis buku itu
profesor. Keren banget, kan? Tapi, saya tidak punya keahlian ke sana. Walau
saya punya background pers kampus dan nulis-nulis artikel. Tapi beda dengan
Anda yang seorang wartawan misalnya, pasti menulis itu mahir sekali. Jadi,
dalam menulis saya itu hanya bercerita tentang pengalaman saya. Sharing
melakukan ini-itu dalam artikel-artikel kecil. Lama-lama saya kumpulin kok
lumayan banyak, ya? Ada yang usul, jadikan buku saja. Lalu saya
kelompok-kelompokkan, masing-masing kelompok saya kembangkan lagi, lalu
disistematisasi menjadi sebuah buku.
Selain dari pengalaman sendiri, dari mana saja Anda mendapat ide untuk
menulis artikel-artikel tersebut?
Saya kan jadi owner dua mailing list (milis). Yang paling gede itu
Bisnis-Smart 850 member dan Voucher Grosir 350. Dan, sinergi dalam milis itu
hebat sekali, tidak hanya dengan saya. Tapi antar member, saling memberikan
support, saling memberikan semangat. Sampai ada orang Indonesia yang di luar
negeri itu mengerti soal saya. Dia percaya saya dan sekarang dia jadi
investor saya. Ndak pernah saya ketemu orangnya. Begitu dahsyatnya komunitas
itu.
Sebelum jadi buku, artikel-artikel Anda terbit di mana saja?
Kebanyakan di komunitas maya. Ada di Purdiechandra.com, Swa.co.id,
Usahaku.net, Pembelajar.com juga ada, dan terbanyak di situs saya sendiri,
Masbukhin.com. Dulu ada juga artikel saya di majalah Bisnis Kita (Sudah
berhenti terbit, red), majalah Duit, lalu tabloid Bisnis Uang (Sudah
berhenti terbit, red), saya sebagai narasumbernya, juga tabloid Peluang
Usaha.
Kendala dalam penulisan?
Waktu, konsentrasi, dan mood. Kadang-kadang kalau kita pas ngambek, itu
nulisnya juga ndak nyambung. Waktu ya masalahnya, karena saya juga masih
jadi karyawan, dan harus juga ngurusin bisnis. Kalau saya berpikir buku itu
harus sesempurna mungkin, mungkin buku itu ndak akan terbit-terbit ya ha ha
ha... Makanya saya perlukan seorang editor untuk finishing.
Bagaimana perasaan Anda setelah buku pertama terbit?
Saya surprise sekali! Saya tidak pernah membayangkan hasilnya akan sehebat
itu. Memang, sejak awal saya memvisualisasikan, kalau punya buku akan
begini-begini. Ternyata hasilnya lebih bagus. Kaver bagus. Dari segi editing
jadinya juga lebih halus. Dan lebih terstruktur, karena ada grouping dan
tugas-tugas untuk para pembaca. Bahasanya sederhana, bisa diikuti orang
lain, dan saya yakin bisa. Buku ini isinya adalah pengalaman saya yang bisa
ditiru orang lain. Kenapa saya sekarang keluar dari karyawan? Karena saya
akan konsentrasi di bisnis saya. Tapi untuk memulai bisnis, ndak usah nunggu
keluar dulu atau pensiun. Mulai saja sekarang. Tapi kalau Anda berpikir
bisnis Anda sudah bagus, untuk masa depan Anda sudah cukup dan Anda ingin
konsentrasi di situ, lalu Anda keluar ya tidak masalah.
Tanggapan keluarga atau rekan-rekan bisnis?
Kalau teman-teman di milis, buku ini sudah dinanti-nantikan.
Gembar-gembornya sudah tiga sampai empat bulan yang lalu. Istri senang
sekali. Teman-teman juga pada komentar karena melihat foto saya di buku itu
dan sudah ada di toko-toko. Mereka semua ikut senang.
Sekarang Anda merambah dunia public speaking. Apa yang ingin Anda raih?
Saya orangnya memang suka tampil di depan umum. Ditambah dengan semangat
saya untuk sharing, ditambah dengan pengalaman bisnis saya. Saya lihat,
banyak juga orang yang butuh sharing langsung. Lewat buku saja tidak cukup.
Sisi yang lain, masih banyak juga masyarakat yang malas baca. Ada tiga hal
prioritas, saya sebagai entrepreneur, saya sebagai public speaker, dan
ketiga saya sebagai penulis buku. Prioritas saya sebagai seorang
entrepreneur. Misalnya, ada yang membutuhkan saya untuk sharing pengalaman,
ya saya tidak akan menolak. Saya juga kepikiran, apakah memungkinkan membuat
semacam sekolah bisnis. Itu akan menciptakan sebuah bisnis yang baru lagi.
Sudah merencanakan buku berikutnya?
Kalau buku yang pertama kan saya bicara kapan saat yang tepat untuk keluar
kerja. Sambil mendalami mindset sebagai karyawan yang berbeda dengan menjadi
pengusaha. Buku berikutnya, mungkin akan membuat lebih detail lagi
langkah-langkah persiapan untuk mundur jadi karyawan dan menekuni bisnis.
Baru kemudian bicara tentang prospek bisnis-bisnis yang ada saat ini.[ez]
sumber : www.pembelajar.com
Jadi Karyawan Sekaligus Pengusaha
Judul Buku : Cara Brilian Menjadi Karyawan Beromzet Miliaran
Penulis : Masbukhin Pradhana
Halaman : xxi + 225 halaman
Penerbit : PT Elex Media Komputindo
Menjadi karyawan hanya untuk mendapatkan gaji rutin dan pengetahuan
manajerial perusahaan. Tetapi menjadi pengusaha, gaji yang diperoleh bisa
lebih dari mencukupi. Bahkan mendatangkan omzet di luar dugaan.
Syaratnya, jangan pernah menunda untuk berbisnis meskipun status Anda adalah
karyawan. Berbisnis bisa dimulai sambil Anda tetap bekerja sebagai karyawan.
Justru dalam kondisi seperti itu, gaji Anda sebagai karyawan bisa dijadikan
modal usaha dan memperbesar usaha. Tidak percaya, simak pengalaman Masbukhin
Pradhana. (Penulis)
Sinopsis :
Saat ini bekerja di satu bidang sangat sulit mengharapkan pendapatan lebih.
Apalagi dalam situasi saat ini, memaksa seseorang harus bekerja lebih keras
lagi bahkan harus merangkap pekerjaan.
Nah, inilah yang dilakukan penulis dimana saat dirinya menjadi karyawan
berupaya merintis usaha kecil-kecilan. Hasilnya, omzet yang diperoleh saat
ini mencapai Rp 5 milyaran dalam kurun waktu 5 tahun berbisnis.
Menurut penulis, tidak ada alasan menunda untuk mulai berbisnis dan dalam
kondisi apapun. Janganlah membayangkan bisnis itu susah sekali. Dalam buku
ini, penulis membagi banyak pengalaman mulai dari usaha kecil-kecilan,
menambah dan mencari ilmu entrepreneurship dari orang-orang yang sukses.
Buku ini dibagi dalam tiga bagian yakni Bagian I : Cuci Otak, Bagian II :
Inspirasi dan Bagian III : Memulai dan Membesarkan Bisnis. Dalam halaman
137, penulis membeberkan pengalaman berharganya saat merintis usaha. Bahkan
gajinya tersedot habis sebagai modal usaha yang kenyataannya belum
mendatangkan kesuksesan.
Namun berkat keuletan dan kecermatannya belajar tentang sistem manajemen
perusahaan dimana dia bekerja serta ketekunan membangun bisnis, akhirnya
berbuah kesuksesan. Memang kesuksesan yang diraih penulis tidaklah singkat
tapi mengikuti kuadran posisi yang diinginkan seseorang sesuai teori yang
ada.
Deskripsi :
Buku inspirasi sekaligus motivasi bagi seseorang untuk mengubah jalan
hidupnya memang saat ini cukup banyak. Tapi inspirasi yang berasal dari
pengalaman seseorang merupakan contoh nyata yang langsung bisa diaplikasikan
bagi pembacanya.
Bagi Anda yang saat ini berprofesi sebagai karyawan dimana pun Anda bekerja,
sebaiknya memiliki buku yang ditulis karyawan perusahaan otomotif. Pasalnya,
jika Anda konsisten mengikuti aturan yang tepat dan langkah yang pas seperti
dilakukan penulis, mudah-mudahan kesuksesan penulis akan menular pada diri
Anda.
Anda tidak lagi sekadar mengandalkan gaji rutin dari perusahaan, tapi Anda
akan mendapatkan gaji tambahan yang lebih besar. Dan pada akhirnya, Anda
akan siap memutuskan tetap jadi karyawan sambil berbisnis atau menjadi
pemilik usaha tanpa bekerja di perusahaan lama.
--------------------------------------------------
Official Mailing List: Porsenipar ke IV Tahun 2007
-=== Perumahan BDB2 dan BDB3, Cibinong, Bogor ===-
-= Menjiwai Semangat Kebangsaan dengan Prestasi =-
| Official Website: http://www.porsenipar.web.id |
------- Porsenipar Media Center: 6849-6001 -------