Berikut ini di-forward-kan catatan kisah di penghujung hayat Bung Karno
... proklamator dan bapak pendiri bangsa ini. Sungguh tragis kondisi dan
perlakuan terhadap bapak pendiri bangsa kita ini yang "ditelantarkan"
oleh Soeharto dan kroninya. Bandingkan dengan perlakuan terhadap
Soeharto saat ini di RSPP.

 

Terlihat pula bahwa Soekarno dan Hatta tetap bersahabat secara pribadi
walaupun tidak sejalan dalam politik dan bernegara.

 

Kiranya seluruh aspek dari kisah nyata ini dapat menjadi catatan dan
pelajaran bagi generasi-generasi penerus bangsa ini sehingga dapat
diambil manfaatnya bagi bangsa dan negara. Mari kita tinggalkan proses
suksesi ala Ken Arok.

 

 Salam

 

I  Ketut  Sudiartha

Jl. Merdeka Timur No.1 A, Jakarta Pusat

T. 3815636, F. 3455344, HP. 0811831792

 

 

 

----- Original Message ----- 

From: Eddy Purnomo <mailto:[EMAIL PROTECTED]>  

To: [EMAIL PROTECTED] 

Sent: Wednesday, January 16, 2008 8:43 AM

Subject: [IA-ITB] [J5000 euy!] DETIK-DETIK MENJELANG KEPERGIANNYA MANTAN
PRESIDEN SOEKARNO

 

 

DETIK-DETIK MENJELANG KEPERGIANNYA MANTAN PRESIDEN SOEKARNO

Jakarta, Selasa, 16 Juni 1970.

Ruangan intensive care RSPAD Gatot Subroto dipenuhi tentara sejak pagi.
Serdadu berseragam dan bersenjata lengkap bersiaga penuh di beberapa
titik strategis rumah sakit tersebut. Tak kalah banyaknya, petugas
keamanan berpakaian preman juga hilir mudik di koridor rumah sakit
hingga pelataran parkir. Sedari pagi, suasana mencekam sudah terasa.
Kabar yang berhembus mengatakan, mantan Presiden Soekarno akan dibawa ke
rumah sakit ini dari rumah tahanannya di Wisma Yaso yang hanya berjarak
lima kilometer.

Malam ini desas-desus itu terbukti.  Di dalam ruang perawatan yang
sangat sederhana untuk ukuran seorang mantan presiden, Soekarno
tergolek lemah di pembaringan. Sudah beberapa hari ini kesehatannya
sangat mundur. Sepanjang hari, orang yang dulu pernah sangat berkuasa
ini terus memejamkan mata. Suhu tubuhnya sangat tinggi. Penyakit ginjal
yang tidak dirawat secara semestinya kian menggerogoti kekuatan
tubuhnya. Lelaki yang pernah amat jantan dan berwibawa dan sebab itu
banyak digila-gilai perempuan seantero jagad, sekarang tak ubahnya bagai
sesosok mayat hidup. 

Tiada lagi wajah gantengnya.  Kini wajah yang dihiasi gigi gingsulnya
telah membengkak, tanda bahwa racun telah menyebar ke mana-mana.  Bukan
hanya bengkak, tapi bolong-bolong bagaikan permukaan bulan. Mulutnya
yang dahulu mampu menyihir jutaan massa dengan pidato-pidatonya yang
sangat memukau, kini hanya terkatup rapat dan kering. Sebentar-sebentar
bibirnya gemetar. Menahan sakit. Kedua tangannya yang dahulu sanggup
meninju langit dan mencakar udara, kini tergolek lemas di sisi tubuhnya
yang kian kurus.

Sang Putera Fajar tinggal menunggu waktu.  Dua hari kemudian, Megawati,
anak sulungnya dari Fatmawati diizinkan tentara untuk mengunjungi
ayahnya. Menyaksikan ayahnya yang tergolek lemah dan tidak mampu membuka
matanya, kedua mata Mega menitikkan airmata. Bibirnya secara perlahan
didekatkan ke telinga manusia yang paling dicintainya ini.

"Pak,Pak,iniEga..." .Senyap.

Ayahnya tak bergerak. Kedua matanya juga tidak membuka.  Namun kedua
bibir Soekarno yang telah pecah-pecah bergerak-gerak kecil, gemetar,
seolah ingin mengatakan sesuatu pada puteri sulungnya itu. Soekarno
tampak mengetahui kehadiran Megawati. Tapi dia tidak mampu membuka
matanya. Tangan kanannya bergetar seolah ingin menuliskan sesuatu untuk
puteri sulungnya, tapi tubuhnya terlampau lemah untuk sekadar menulis.
Tangannya kembali terkulai. Soekarno terdiam lagi.

Melihat kenyataan itu, perasaan Megawati amat terpukul. Air matanya yang
sedari tadi ditahan kini menitik jatuh. Kian deras. Perempuan muda itu
menutupi hidungnya dengan sapu tangan. Tak kuat menerima kenyataan,
Megawati menjauh dan limbung. Mega segera dipapah keluar. Jarum jam
terus bergerak. Di luar kamar, sepasukan tentara terus berjaga lengkap
dengan senjata. 

Malam harinya ketahanan tubuh seorang Soekarno ambrol. Dia coma. Antara
hidup dan mati. Tim dokter segera memberikan bantuan seperlunya.
Keesokan hari, mantan wakil presiden Muhammad Hatta diizinkan
mengunjungi kolega lamanya ini. Hatta yang ditemani sekretarisnya
menghampiri pembaringan Soekarno dengan sangat hati-hati. Dengan segenap
kekuatan yang berhasil dihimpunnya, Soekarno berhasil membuka matanya.
Menahan rasa sakit yang tak terperi, Soekarno berkata lemah.

"Hatta.., kau di sini..?". 

Yang disapa tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Namun Hatta tidak
mau kawannya ini mengetahui jika dirinya bersedih. Dengan sekuat tenaga
memendam kepedihan yang mencabik hati, Hatta berusaha menjawab Soekarno
dengan wajar. Sedikit tersenyum menghibur.

"Ya, bagaimana keadaanmu, No?"  . Hatta menyapanya dengan sebutan yang
digunakannya di masa lalu.Tangannya memegang lembut tangan Soekarno.
Panasnya menjalari jemarinya. Dia ingin memberikan kekuatan pada orang
yang sangat dihormatinya ini. 



Bibir Soekarno bergetar, tiba-tiba, masih dengan lemah, dia balik
bertanya dengan bahasa Belanda. Sesuatu yang biasa mereka berdua lakukan
ketika mereka masih bersatu dalam Dwi Tunggal. "Hoe gaat het met
jou...?" Bagaimana keadaanmu? Hatta memaksakan diri tersenyum. Tangannya
masih memegang lengan Soekarno.

Soekarno kemudian terisak bagai anak kecil. Lelaki perkasa itu menangis
di depan kawan seperjuangannya, bagai bayi yang kehilangan mainan. Hatta
tidak lagi mampu mengendalikan  perasaannya. Pertahanannya bobol.
Airmatanya juga tumpah. Hatta ikut menangis.

Kedua teman lama yang sempat berpisah itu saling berpegangan tangan
seolah takut berpisah. Hatta tahu, waktu yang tersedia bagi orang yang
sangat dikaguminya ini tidak akan lama lagi. Dan Hatta juga tahu, betapa
kejamnya siksaan tanpa pukulan yang dialami sahabatnya ini. Sesuatu yang
hanya bisa dilakukan oleh manusia yang tidak punya nurani. 

"No..."

Hanya itu yang bisa terucap dari bibirnya. Hatta tidak mampu mengucapkan
lebih. bibirnya bergetar menahan kesedihan sekaligus kekecewaannya.
Bahunya terguncang-guncang. Jauh di lubuk hatinya, Hatta sangat marah
pada penguasa baru yang sampai hati menyiksa bapak bangsa ini. Walau
prinsip politik antara dirinya dengan Soekarno tidak bersesuaian, namun
hal itu sama sekali tidak merusak persabatannya yang demikian erat dan
tulus. Hatta masih memegang lengan Soekarno ketika kawannya ini kembali
memejamkan matanya.

Jarum jam terus bergerak. Merambati angka demi angka. Sisa waktu bagi
Soekarno kian tipis. Sehari setelah pertemuan dengan Hatta, kondisi
Soekarno yang sudah buruk, terus merosot. Putera Sang Fajar itu tidak
mampu lagi membuka  kedua matanya. Suhu badannya terus meninggi.
Soekarno kini menggigil. Peluh membasahi bantal dan piyamanya. Malamnya
Dewi Soekarno dan puterinya yang masih berusia tiga tahun, Karina, hadir
di rumah sakit. Soekarno belum pernah sekali pun melihat anaknya. 

Minggu pagi, 21 Juni 1970. Dokter Mardjono, salah seorang anggota tim
dokter kepresidenan seperti biasa melakukan pemeriksaan rutin. Bersama
dua orang paramedis, Dokter Mardjono memeriksa kondisi pasien
istimewanya ini. Sebagai seorang dokter yang telah berpengalaman,
Mardjono tahu waktunya tidak akan lama lagi.

Dengan sangat hati-hati dan penuh hormat, dia memeriksa denyut nadi
Soekarno. Dengan sisa kekuatan yang masih ada, Soekarno menggerakkan
tangan kanannya, memegang lengan dokternya. Mardjono merasakan panas
yang demikian tinggi dari tangan yang amat lemah ini. Tiba-tiba tangan
yang panas itu terkulai. Detik itu juga Soekarno menghembuskan nafas
terakhirnya. Kedua matanya tidak pernah mampu lagi untuk membuka.
Tubuhnya tergolek tak bergerak lagi. Kini untuk selamanya sang
Proklamator telah pergi.  Situasi di sekitar ruangan sangat sepi. Udara
sesaat terasa berhenti mengalir. Suara burung yang biasa berkicau tiada
terdengar. Kehampaan sepersekian detik yang begitu  mencekam. Sekaligus
menyedihkan.  Dunia melepas salah seorang pembuat sejarah yang penuh
kontroversi. Banyak orang menyayanginya, tapi banyak pula yang
membencinya. Namun semua sepakat, Soekarno adalah seorang manusia yang
tidak biasa. Yang belum tentu dilahirkan kembali dalam waktu satu abad.
Manusia itu kini telah tiada. 

Dokter Mardjono segera memanggil seluruh rekannya, sesama tim dokter
kepresidenan. Tak lama kemudian mereka mengeluarkan pernyataan resmi:
Soekarno telah berpulang ke pangkuan sang pencipta .

( Dari milis tetangga  : From: Michael Mangowal <[EMAIL PROTECTED]> )

 

Kirim email ke