Andrea Hirata 
Bangga Sebagai Orang Melayu Pedalaman 


Bersepuluh, Andrea Hirata dan kawan-kawan, dijuluki sebagai Laskar Pelangi oleh 
gurunya, NA (Nyi Ayu) Muslimah. Mereka inilah kelompok siswa terakhir yang 
menghidupkan SD Muhammadiyah di Belitung. Mereka lulus pada 1983, dan tak ada 
lagi murid di sekolah itu. Sekarang sekolah itu sudah roboh dan tidak ada lagi 
sejak tahun 1991.

''Waktu saya masuk kelas 1 SD memang muridnya tinggal 10 orang. Kami menjadi 
ironi, karena kami hidup di suatu pulau yang paling kaya di negeri ini yang 
dikelola oleh PN Timah. PN Timah sendiri dalam kompleks yang kaya di 
tengah-tengah pulau dan kami penduduk asli hanya berada di pinggir dan tidak 
boleh sekolah di kompleks PN Timah,'' tutur pria yang masih membujang itu. 

Orangtua mereka sebagai kuli. Penduduk asli Belitung umumnya menjadi kuli 
tambang. Itulah sebabnya, anak-anaknya tak berhak bersekolah di sekolah yang 
dikelola PN Timah. ''Padahal kami orang asli di situ. Itulah cerita Laskar 
Pelangi. Bagaimana kami berjuang mempertahankan sekolah kami dan kami bersaing 
dengan orang-orang yang sekolah di PN Timah dan akhirnya juga kami kalahkan,'' 
ujar Andrea. 

NA Muslimah memberi kesaksian, mereka belajar dengan semangat kompetitif di 
antara mereka. Andrea sejak kecil sangat menyukai pelajaran matematika. Ini 
karena pengaruh NA Muslimah yang sangat pandai di bidang matematika. Berkat 
dorongan gurunya itu, Andrea ingin meraih cita-cita yang tinggi.

Kobaran semangat dari Bu Muslimah membuat Andrea tak menganggap jarak 30 km 
dari rumah ke sekolah sebagai rintangan. Bahkan setelah lulus SMA, Andrea yang 
di kampungnya, Manggar, Belitung, dijuluki 'Ikal' bertekad merantau ke Jakarta 
untuk bekerja dan sambil kuliah. 

Karena terinspirasi dengan kegigihan dan semangat juang Bu Muslimah di bidang 
pendidikan, maka sejak kelas 3 SD, Andrea sudah punya keinginan menulis buku. 
''Pada waktu itu hujan lebat, menunggu, kok ibu guru tidak datang. Di tepi 
lapangan beliau melintas dengan payung daun pisang. Dalam hati, saya bilang 
suatu hari setelah saya besar, saya akan menulis buku tentang beliau,'' tutur 
laki-laki yang merahasiakan tanggal lahirnya itu.

Dan, buku tersebut baru bisa ditulisnya dua tahun yang lalu atas desakan 
teman-temannya yang tergabung dalam 'Laskar Pelangi', karena Bu Muslimah saat 
itu sedang menderita sakit. Hanya dalam waktu tiga minggu, Andrea berhasil 
menyelesaikan buku Laskar Pelangi yang betul-betul merupakan memoarnya, setebal 
600 halaman. ''Saya takut terlambat memberikannya,'' ujar Andrea soal kerja 
kebutannya itu.

Di Yogyakarta, pada 8 Desember 2007, Andrea berbincang dengan wartawan 
Republika, Neni Ridarineni. Ia tampil dengan gayanya khasnya: Bertopi baret 
warna hitam. Berikut petikannya: 

Apa yang memotivasi anda menulis Laskar Pelangi?
Awalnya Laskar Pelangi itu bukan untuk diterbitkan. Laskar Pelangi itu hadiah 
untuk ibu guru. Naskah itu 'dicuri' oleh teman saya sesama pegawai Telkom dan 
dikirim ke penerbit atas nama saya, tanpa sepengetahuan saya.

Buku Laskar Pelangi itu berapa persen fiksinya dan nonfiksinya?
Ceritanya itu memang benar-benar terjadi. Teknis menulisnya itu nonfiksi dengan 
teknik fiksi, itu yang sedang saya kembangkan. Mestinya materi ini nonfiksi, 
tetapi menulis dengan teknik fiksi. Artinya ada metafora di sana, diksi 
diperhatikan, ada sebuah pengelolaan tempo seperti halnya nonfiksi dan ada 
dramatisasi. Angle-nya diperhatikan seperti layaknya sastra. Walaupun itu 
memoar sebenarnya.

Apakah Anda sejak kecil suka buku sastra?
Saya pembaca sastra buruk, sangat sedikit membaca buku sastra, tetapi saya 
membaca buku science, pendidikan saya S1 dan S2 ekonomi, pekerjaan saya di 
Telekomunikasi. Saya kira menarik juga fenomena itu, ternyata orang yang 
menfokuskan diri dalam kontekstual, bagaimana sensitivitas dia, penguasaan 
sosiologi, kepekaan dan kapasitas intelektual, bisa menghasilkan karya sastra. 
Itulah jawaban mengapa orang tidak memiliki pengalaman di bidang sastra, tetapi 
bisa saja membuat karya sastra.

Anda semula hanya ingin menulis tentang Laskar Pelangi dan itu pun tidak akan 
diterbitkan. Lalu mengapa setelah terbit Laskar Pelangi Anda menulis Sang 
Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov, melengkapi Laskar Pelangi?
Begitu Laskar Pelangi diterbitkan dan saya menerima ribuan komentar dari 
orang-orang yang merasa terkuatkan, maka baru termotivasi untuk bikin 
tetralogi. Salah satu dari tetralogi yaitu Edensor masuk lima nominasi untuk 
Khatulistiwa Literary Award (KLA). Untuk penganugerahan KLA akan disampaikan 
pada tanggal 18 Januari 2008.

Bagaimana setelah buku itu diterbitkan dan ternyata laku sekali?

Saya kaget dengan perkembangan sekarang. Laskar Pelangi ini salah satu novel 
terlaris dalam sejarah novel Indonesia.

Mengapa Anda sangat tertarik dengan Bu Muslimah sampai mempersembahkan hadiah 
sebuah buku Laskar Pelangi?
Laskar Pelangi itu julukan beliau terhadap 10 orang murid terakhirnya di sebuah 
sekolah yang mau roboh di Manggar, Belitung. Beliau mengajar di situ sejak usia 
15 tahun, bermodalkan ijazah SKP (Sekolah Kepandaian Putri) dan tidak seorang 
pun yang membayarnya. Jadi, buku itu buku persembahan ucapan terima kasih 
kepada seorang guru.

Lulus SMA, Andrea benar-benar mewujudkan tekadnya, merantau ke Jakarta. 
''Tadinya saya diberi tahu oleh nakhoda kapal kalau ke Jakarta tinggal saja di 
daerah Ciputat, karena masih belum begitu ramai. Namun, saya justru terdampar 
sampai di Bogor dan sama sekali saya tidak punya saudara di perantauan,'' 
ungkap anak dari pasangan Seman Said Harun dan NA Masturah Seman.

Akhirnya ia dapat diterima menjadi penyortir surat di Kantor Pos Bogor. Dari 
hasil kerja kerasnya ia pun dapat kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas 
Indonesia (UI). Setelah lulus S1, Andrea yang mempuyai nama lengkap Andrian 
Hirata Seman mendapat beasiswa kuliah di Universite de Paris, Sorbonne, 
Prancis, dan Sheffield Hallam University, Inggris. Ia lulus cum laude dan 
mendapat gelar master Uni Eropa of Science.

Sejak tahun 1997/1998 ia bekerja di PT Telkom dan sekarang sebagai instruktur 
di PT Telkom Pusat, Bandung. ''Semua itu saya dapatkan karena semangat dari 
pendidikan dasar dan melihat contoh setiap hari bagaimana Bu Muslimah itu 
berjuang,'' ungkap Andrea yang punya hobi naik komedi putar ini. 

Mengapa Anda suka naik komedi putar?
Komedi putar berhubungan dengan cinta pertamaku. Di sanalah aku mengenalnya.. 
ha ha ha...

Setelah sekarang menjadi orang yang terkenal dan bahkan sudah pernah sekolah di 
Eropa dan mendapat penghargaan di sana, bagaimana kehidupan Anda sekarang?
Saya bangga sekali dengan identitas sebagai Orang Melayu Pedalaman. Walaupun 
saya sudah pernah tinggal di Prancis dan Inggris, tidak pernah berubah sebagai 
orang kampung. Hal ini bisa terlihat tentang pandangan saya dalam pergaulan 
pria-wanita, lebih taat dalam menjalankan ibadah shalat, tidak liberal. Kadang 
saya suka diledeki oleh teman seperti orang kampung. Tapi, bagi saya tidak 
masalah, itulah saya. Bahkan waktu di Prancis, kalau sore sepulang sekolah 
mesti mengaji. Saya tidak terlalu mengagumi kehidupan hedonistik, karena 
dasarnya saya orang kampung. Bahkan sampai sekarang saya masih suka naik komedi 
putar yang merupakan hobi saya.

Apakah setelah keluar dari Belitung Anda masih sering pulang ke Belitung dan 
bagaimana kondisi di kampung Anda sekarang?
Saya selalu pulang ke Belitung bila ada waktu dan bertemu dengan Bu Muslimah. 
Kondisi di kampung saya sudah lebih baik. Apalagi PN Timah sejak tahun 1993 
sudah collaps. Kampung di Manggar sekarang sudah mengalami transformasi menjadi 
kampung petani dan orang di kampung sedang belajar bertani. Dan, timah sekarang 
diliberalisasi. Setiap orang boleh memacul di belakang rumahnya untuk mendulang 
timah. Itulah ekonomi sekarang. Berbeda halnya waktu saya kecil timah itu 
dimonopoli. Secara ekonomi lebih baik daripada ketika masih ada tambang timah, 
sekolah negeri banyak dan sekolah menjadi lebih bagus. Kompleks timah itu 
sendiri hancur dan diakuisisi menjadi milik Pemda Belitung.

Apa saja yang Anda lakukan bila pulang ke Belitung?
Sejak menerbitkan Laskar Pelangi hal utama yang saya lakukan di Belitung adalah 
melakukan workshop di sekolah-sekolah, baik untuk para murid maupun para 
pengajar. Tidak hanya soal penulisan, tapi saya juga menggandeng rekan-rekan 
lain misalnya editor, fotografer, dan perupa untuk sharing bersama para siswa 
dan guru-guru. 

Apa sih cita-cita Anda dulu?
Kami itu dulu tidak paham tentang pendidikan itu bagaimana. Tetapi, kehebatan 
Ibu Muslimah dalam mengajar membuat siswanya berani bermimpi. Beliau 
mengatakan, 'kalian bisa sekolah tinggi' ke Prancis atau negara lainnya, itu 
saya rekam pelan demi pelan dalam hidup saya ini. Akhirnya dengan mentalitas 
yang beliau wariskan pada pendidikan dasar itu saya bisa mendapatkan beasiswa 
ke Sorbonne, Prancis, sesuai dengan cita-cita kecil saya dulu. Mungkin 
cita-cita saya itu yang diembuskan oleh beliau dan Alhamdulillah tercapai. Saya 
bercita-cita ingin menjadi ekonom. Saya ingin menjadi ekonom itu, sebetulnya, 
awalnya juga dari Bu Muslimah. Beliau seorang ahli matematika dan menyebabkan 
saya sangat menyukai matematika. Tetapi, ketika saya kelas 3 SMA, saya 
menyadari bahwa matematika itu ada dua macam yaitu teori matematika murni dan 
matematika aplikasi. Dan, saya mengarahkan pendidikan saya pada salah satu 
peluang untuk matematika aplikasi yang paling baik itu di ekonomi.

Apa sih semangat yang dikobarkan Bu Muslimah, sehingga Anda melanjutkan studi 
ke Prancis?
Kebetulan saya mendapat beasiswa ke Prancis. Waktu saya sekolah dulu, Bu 
Muslimah pernah mengatakan, ''Walaupun keadaan kita terbatas di sini, kita 
jangan pernah ragu untuk bercita-cita sekolah ke Prancis, Inggris, dan 
lain-lain.'' Hal itu tertanam dalam diri saya. Karena melihat beliau begitu 
optimistis dan mampu melakukan sesuatu yang kira-kira tidak mampu dilakukan 
oleh orang lain, murid-muridnya berani bercita-cita walaupun keadaannya sangat 
terbatas. Kelebihan dia selain bagaimana membuat siswa mencintai ilmu, membuat 
ilmu menjadi menarik, juga kemampuannya membesarkan hati murid-muridnya. Itulah 
Bu Muslimah, contoh yang paling pas, yaitu memimpin dengan memberikan contoh. 

Kata Bu Muslimah di suatu acara, justru Anda dan Laskar Pelangi-lah yang hebat?
Itulah beliau orangnya selalu rendah hati. Baru-baru ini saya sedang berbicara 
di depan 2.000 guru di Bandung bersama Bu Muslimah. Beliau membuat makalah 
kecil yang sangat sederhana, tetapi terefleksi bagaimana seorang yang telah 
mengajar selama 36 tahun sejak usia 15 tahun dan bisa menciptakan suasana di 
dalam kelas sehingga murid mencintai sekolah, mencintai pelajaran. 

Saya pernah mendapatkan pendidikan yang terbaik dan bermutu di dunia ini, 
tetapi setelah belajar di situ menjadi beban dan stres. Hal ini tidak saya 
alami dengan Bu Muslimah, diberi soal 20 minta 40, disuruh pulang malah tidak 
pulang-pulang. Nah, inilah rahasia Bu Muslimah, saya tidak mengerti. Menurut 
saya memang ada orang yang dilahirkan menjadi guru. Salah satu rahasia terbesar 
dari Ibu Muslimah yaitu menciptakan keadaan bagaimana murid itu tergila-gila 
dengan ilmu. Saya sendiri heran, saya lihat keponakan saya masih kecil sudah 
stres dan menjadi beban les ini, les itu. Berbeda halnya dengan Bu Muslimah, 
membuat saya mencintai ilmu. Mungkin dari tutur kata, hati, pancaran wajah, 
motivasi, dan mungkin dari keseluruhan riwayat beliau itu yang kita kagumi, 
kita tahu beliau naik atap membetulkan atap sekolah, itu sudah pelajaran 
tersendiri. 

Laskar Pelangi in Action

Tanggal 14 Desember 2007 Andrea pulang Belitung untuk bicara di depan para guru 
anggota PGRI Belitung Timur dan seluruh siswa SMP dan SMA di Belitung Barat. 
Dalam kesempatan itu ia me-launching program yang telah lama menjadi obsesinya, 
yaitu program sosial pendidikan yang ia sebut Laskar Pelangi in Action.

Ia memakai dana dari royalti yang ia terima. Laskar Pelangi telah laku 200 ribu 
eksemplar. Sang Pemimpi laku 120 eksemplar. Edensor sudah terjual 25 ribu 
eksemplar. Jika harga buku Rp 60 ribu, ia dapat royalti 10 persen, ia ia telah 
mengumpulkan Rp 2,07 miliar dari tiga novelnya itu. Belum royalti yang ia dapat 
dari edisi bahasa Melayu yang juga best seller di Malaysia.

Di Belitung, ia membuat learning center. Ia kumpulkan siswa kelas 3 SMA yang 
berpotensi masuk perguruan tinggi. ''Mereka akan mendapatkan pelatihan 
matematika, kimia, biologi, fisika, dan bahasa Inggris selama tiga minggu. 
Dengan royalti itulah saya biayai, karena mereka masuk ke kelas tanpa membayar 
dan guru-gurunya saya datangkan,'' ungkap Andrea. Novel Andrea kini banyak 
dibacakan di kelas-kelas,sebagaimana halnya novel dari Jepang, Totto Chan. 
''Saya senang sekali, karena bukuku bermuatan edukasi. Jadi, baik untuk anak 
sekolah,'' ujar dia.

Kini, Laskar Pelangi tengah dipersiapkan dalam bentuk film oleh Mizan Cinema 
dan Miles Films. Andrea berharap para pembacanya, baik yang mengaku diri 
sebagai andreanis,maupun para pembuat kebijakan dan pelaku pendidikan, dapat 
mengambil hikmah dari kejadian yang dialami Laskar Pelangi.

Setelah menyelesaikan novel keempatnya, Maryamah Karpov, Andrea akan kembali 
menekuni tugasnya semula, menulis buku ekonomi telekomunikasi jilid kedua. 
''Jilid pertamanya telah saya terbitkan dengan judul The Science of Business: 
Sebuah Studi Kasus Ekonomi Telekomunikasi,'' ujar dia. 

http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=318395&kat_id=85

Kirim email ke