Orang-orang seperti ibu Siti Fadillah ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat
kita...
Pemerintah mestinya merekrut mereka yang benar-benar mau mengabdi untuk
seluruh kepentingan rakyat tanpa kecuali, bukannya malah termakan uang suap.
Korupsi memang merusak segala-galanya...
Jika kita memang mau maju, harus kita hancurkan korupsi dan suap menyuap...
Salam,
Chrisnawan
bintoro wisnu prabowo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Harus diapresiasi. Bagi kalangan penguasa dicibir tak layak jadi
Menteri. The Economist bilang a shot of transparency dalam edisi Agustus tahun
lalu. Majalah yang getol dengan investigasi yang tajam dan detail. Sepak
terjangnya, bahkan sempat membuat negara-negara dunia pertama ketar ketir soal
AI ini. Semuanya bermuara pada kelakuan industri bisnis multinational
corporation yang selalu diamini pemerintahannya.
Masih segar dalam ingatan, sektor pertanian, kita sudah bobol dengan dalih
swasembada beras --seorang penyelundup di Indramayu aman memasok beras ilegal
ke Entikong perbatasan Malaysia - Kalbar selama lebih dari 3 tahun. Bukan hanya
itu, lebih dari 40 bibit padi asli daerah itu saja raib. Revolusi hijau yang
dibiayai negara dunia pertama ini masih terus berlangsung hingga kini.
Melengkapi predikat kita sebagai bangsa paria. Perusahaan raksasa macam
Monsanto yang memproduksi produk kimia --pestisida, kosmetik dan material kimia
industri menjadi garda paling depan. Produk lain; benih rekayasa genetika
(transgenik) asal Amerika ini menyulap jagung, kedelai, gandung, kentang,
tomat, apel lokal kita. Skandal Monsanto 2000-2001, dimana pemerintah dengan
lugu ikutan mempromosikan produk Monsanto. Kita memang memble soal kasus ini.
Justru pers Amerika sendiri pada Januari 2005 berhasil membongkar dan memaksa
Departemen Kehakiman dan Bapepam AS mencokok kerah baju Monsanto, untuk
mengakui bahwa mereka --melalui sister companynya di Jakarta telah menyuap 140
pejabat Indonesia untuk meloloskan produk transgeniknya sebesar 700ribu dolar.
Saya pribadi percaya, pandemi atau apapun namanya ini adalah bagian dari
scene global corporate terrorism yang sesungguhnya. Sekarang, menteri kita ini
kabarnya juga sedang berkutat hal yang sama untuk soal HIV AIDS, dimana terjadi
kesimpangsiuran, dari data hingga vaksin dan penanganan penderitanya. Modusnya,
nyaris sama dengan H5N1. Pun, konon soal imunisasi yang saban bulan disuntikan
pada bayi pelanjut generasi.
Terakhir, sikap terbuka dan jujur aktivis Muhammadiyah ini adalah SMS nya
minggu kedua Januari lalu, sekitar 10 hari sebelum Suharto wafat. "Pak Harto
alami kehidupuan semu." SMS dari HPnya itu meluncur ke hampir semua HP jurnalis
desk kesehatan, setelah ia menjenguk ke RSPP dan melakukan briefing dengan tim
dokter.
Bodohnya, respon liputan kondisi kritis Suharto oleh jurnalis generasi MTV
ini menyuburkan sikap reaktif berbagai kalangan terhadap sikap jujur Ibu ini.
Rangkaian liputan dan respon yang nihil kontrol serta miskin daya kritisnya.
Esensi informasi Ibu menteri menjadi terkaburkan, justru oleh kalangan yang
punya predikat mencerdaskan publik.
Btw, two thumbs up deh Bu!
Salam,
bintoro
----- Original Message ----
From: "IND, Sodikin, Achmad" <[EMAIL PROTECTED]>
To: MILIS RW 14 <[EMAIL PROTECTED]>; MILIS LINTAS BODEBA <[EMAIL PROTECTED]>;
MILIS DKM AL IKHLAS <[EMAIL PROTECTED]>; MILIS AR-ROYYAN <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, February 14, 2008 1:42:40 PM
Subject: [rw14-1257] Perlawanan Siti Fadilah Supari
Assalamu alikum,
Artikel lama, boleh juga buat inspirasi...
Wasalam, Sodikin
Oleh : Asro Kamal Rokan
http://www.republika.co.id/kolom.asp?kat_id=19
Wajahnya serius membicarakan ketidakadilan negara-negara maju. Kalimat
demi kalimat meluncur deras. Dr Siti Fadilah Supari, satu dari sedikit
warga dunia yang keras membela hak-hak negara berkembang di tengah
dominasi badan resmi dunia dan negara adikuasa. Ia melawan dan berhasil.
Majalah The Economist London menempatkan Siti Fadilah sebagai tokoh yang
memulai revolusi dalam menyelamatkan dunia dari dampak penyakit
pandemik. "Menteri Kesehatan Indonesia itu telah memilih senjata yang
terbukti lebih berguna daripada vaksin terbaik dunia saat ini dalam
menanggulangi ancaman virus flu burung, yaitu transparansi," tulis The
Economist (10 Agustus 2006).
Perlawanan Siti Fadilah dimulai ketika virus flu burung (Avian
Influenza/AI) menelan korban di Indonesia pada 2005. Ia kelabakan. Obat
tamiflu harus ada. Namun aneh, obat tersebut justru diborong
negara-negara kaya yang tak terkena kasus flu burung. Ini tidak adil,
negara-negara lemah yang terkena tidak memperoleh apa-apa. Untung saja
ada bantuan dari India, Thailand, dan Australia.
Korban terus berjatuhan. Di saat itu pula, dengan alasan penentuan
diagnosis, badan kesehatan dunia (WHO) melalui WHO Collaborating Center
(WHO CC) di Hong Kong memerintahkannya untuk menyerahkan sampel
spesimen. Perintah itu diikuti Siti Fadilah. Namun, ia juga meminta
laboratorium Litbangkes melakukan penelitian. Hasilnya ternyata sama.
Tapi, mengapa WHO CC meminta sampel dikirim ke Hong Kong?
Siti Fadilah merasa ada suatu yang aneh. Ia terbayang korban flu burung
di Vietnam. Sampel virus orang Vietnam yang telah meninggal itu diambil
dan dikirim ke WHO CC untuk dilakukan risk assessment, diagnosis, dan
kemudian dibuat seed virus. Dari seed virus inilah dibuat vaksin.
Ironisnya, pembuat vaksin itu adalah perusahaan-perusahaan besar dari
negara maju, negara kaya, yang tak terkena flu burung. Mereka
mengambilnya dari Vietnam, negara korban, kemudian menjualnya ke seluruh
dunia tanpa izin, tanpa kompensasi.
Siti Fadilah marah. Ia merasa kedaulatan, harga diri, hak, dan martabat
negara-negara tak mampu telah dipermainkan atas dalih Global Influenza
Surveilance Network (GISN) WHO. Badan ini sangat berkuasa dan telah
menjalani praktik selama 50 tahun. Mereka telah memerintahkan lebih dari
110 negara untuk mengirim spesimen virus flu ke GISN tanpa bisa menolak.
Virus itu menjadi milik mereka, dan mereka berhak memprosesnya menjadi
vaksin.
Di saat keraguan atas WHO, Siti Fadilah membaca di The Straits Times
Singapura, 27 Mei 2006, bahwa para ilmuwan tidak dapat mengakses data
sequencing DNA H5N1 yang disimpan WHO CC. Data itu, uniknya, disimpan di
Los Alamos National Laboratoty di New Mexico, AS. Di sini, dari 15 grup
peneliti hanya ada empat orang dari WHO, selebihnya tak diketahui. Los
Alamos ternyata berada di bawah Kementerian Energi AS. Di lab inilah
duhulu dirancang bom atom Hiroshima. Lalu untuk apa data itu, untuk
vaksin atau senjata kimia?
Siti Fadilah tak membiarkan situasi ini. Ia minta WHO membuka data itu.
Data DNA virus H5N1 harus dibuka, tidak boleh hanya dikuasai kelompok
tertentu. Ia berusaha keras. Dan, berhasil. Pada 8 Agustus 2006, WHO
mengirim data itu. Ilmuwan dunia yang selama ini gagal mendobrak
ketertutupan Los Alamos, memujinya. Majalah The Economist menyebut
peristiwa ini sebagai revolusi bagi transparansi.
Tidak berhenti di situ. Siti Fadilah terus mengejar WHO CC agar
mengembalikan 58 virus asal Indonesia, yang konon telah ditempatkan di
Bio Health Security, lembaga penelitian senjata biologi Pentagon. Ini
jelas tak mudah. Tapi, ia terus berjuang hingga tercipta pertukaran
virus yang adil, transparan, dan setara. Ia juga terus melawan: tidak
lagi mau mengirim spesimen virus yang diminta WHO, selama mekanisme itu
mengikuti GISN, yang imperialistik dan membahayakan dunia.
Dan, perlawanan itu tidak sia-sia. Meski Siti Fadilah dikecam WHO dan
dianggap menghambat penelitian, namun pada akhirnya dalam sidang
Pertemuan Kesehatan Sedunia di Jenewa Mei 2007, International Government
Meeting (IGM) WHO di Jenewa November lalu, sharing virus disetujui dan
GISN dihapuskan.
Prof Siti Fadilah anak bangsa yang melakukan perlawanan atas
ketidakadilan. Bangsa ini memerlukan banyak orang seperti Siti Fadilah,
yang berjuang untuk keadilan, kadaulatan, dan kesetaraan. Ia inspirasi
untuk bangsa yang bangkit.
-----------------------------------------------------------------
Milis Info dan Diskusi Warga RW 14, Kelurahan Sukahati, Cibinong.
Official Website: http://www.rw14.web.id atau http://www.rw14.org
Arsip Milis RW 14: http://www.mail-archive.com/[EMAIL PROTECTED]/
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.