Selasa, 18 Maret 2008 Minyak Tanah Rp 8.300 per Liter
Pemerintah berharap konversi ke gas elpiji sukses dan murah. JAKARTA -- Demi suksesnya program konversi ke bahan bakar gas elpiji, minyak tanah bersubsidi dengan harga sekitar Rp 2 ribu per liter, dalam hitungan minggu segera menjadi tinggal kenangan. Harga bahan bakar idola masyarakat marginal itu akan dibadrol Rp 8.300 per liter dan hanya bisa dibeli di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Pada tahap awal, PT Pertamina (Persero) akan menarik minyak tanah bersubsidi dari pasaran untuk wilayah Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi (Jabodetabek), mulai April mendatang. Disusul Jawa Barat dan Jawa Timur yang ditargetkan goal sampai akhir tahun ini. ''Saat ini Pertamina masih menyalurkan 95 persen kuota minyak tanah bersubsidi untuk wilayah Jabodetabek. Tapi mulai April nanti kita tidak lagi mendistribusikan minyak tanah bersubsidi di wilayah Jabodetabek,'' ungkap Direktur Utama Pertamina, Ari H Soemarno, di Jakarta, Senin (17/3). Sedangkan untuk wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur, lanjut Ari, penarikan minyak tanah bersubsidi akan dilakukan secara bertahap. ''Diharapkan pada akhir 2008, minyak tanah bersubsidi di kedua wilayah tersebut tidak lagi dipasarkan,'' katanya. Dengan penarikan minyak tanah bersubsidi dari pasaran, diharapkan program konversi minyak tanah ke gas elpiji dapat berjalan dengan baik. ''Kalau memang ada permintaan minyak tanah, akan tetap kita penuhi. Kita akan jual dalam bentuk kemasan dengan harga keekonomian (harga pasar, red) Rp 8.300 per liter,'' paparnya. Untuk penjualan minyak tanah di SPBU, ungkap Ari, hingga saat ini Pertamina telah menyalurkan lebih dari 24 ribu kemasan dengan volume 5 liter. ''Semuanya laku keras,'' ujarnya. Lebih efisien Mendukung langkah Pertamina itu Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, konversi pemakaian minyak tanah ke gas elpiji di DKI Jakarta hampir rampung dan ditargetkannya tuntas April atau Mei 2008. Ia mengklaim tinggal sedikit yang masih menggunakan kompor minyak tanah karena sedang menunggu jatah kompor dan tabung gas dari pemerintah. ''Namanya konversi kalau semuanya sudah selesai pakai gas, otomatis minyak tanah tidak dibutuhkan lagi di rumah tangga,'' ujarnya, menjawab wartawan di Istana Wapres, kemarin. Wapres menyebutkan, berdasarkan survei terhadap masyarakat yang telah menggunakan gas, pemerintah berpendapat bahwa pemakaian gas jauh lebih efisien dibandingkan minyak tanah. Ia menganggap, protes terhadap rencana penarikan minyak tanah itu hanya datang dari satu atau dua orang. ''Penjual warung Tegal (warteg) pun mendapatkan jatah kompor dan tabung gas gratis yang lebih efisien dan praktis. Mereka lebih senang, hanya satu atau dua orang yang omong seenaknya itu (menolak penarikan minyak tanah),'' ucap Wapres. Sementara Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Tubagus Haryono, menuturkan, kartu kendali pembelian minyak tanah bersubsidi tidak akan diberlakukan di wilayah Jabodetabek, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Kecuali daerah-daerah yang belum menjalankan program konversi. ''Sejak awal untuk tiga daerah itu memang dikecualikan dalam program penggunaan kartu kendali minyak tanah,'' kata Tubagus. dia/djo ( ) http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=327287&kat_id=3 komentar : Dengan kata lain, bulan April 2008 nanti lah hal yang paling memberatkan bagi masyarakat golongan menengah ke bawah termasuk saya, sudah adanya kebijakan insentif dan disinsentif listrik dari PLN, trus mahalnya minyak tanah, sedangkan harga gas saja beberapa kali sudah terjadi kenaikan. Jadi adanya statement TIDAK ADA KENAIKAN BBM & LISTRIK adalah nonsens. Gimana nich "GOVERMENT WATCH" ? Apa reaksi Anda terhadap hal ini ? Belum lagi, kalau PT KAI akan memberlakukan KA Ekonomi AC (lebih tepatnya KA Ekonomi Kipas) yang harganya jauh dari KA Ekonomi. Kenaikan harga barang sembako yang sebelumnya minyak goreng saja diikuti oleh kenaikan harga sembako lainnya. Sampai-sampai tukang sayur di kompleks jarang berjualan karena ketiadaan modal (harga mencekik), dan kalaupun dipaksakan berjualan takut tidak habis karena jarangnya pembeli. salam, AGus Rasidi
