Top Soccer Jakarta | Minggu, 23 Mar 2008
Sepeda tak Lekang Dimakan Waktu
by : Delia Mustikasari
Masih ingat kisah Siti Nurbaya saat dibonceng oleh tokoh Samsul Bahri? Atau 
tokoh sang guru Oemar Bakri, serta film-film masa perjuangan dulu? 

Salah satu properti yang cukup menonjol dari tokoh-tokoh di atas adalah sepeda. 
Memang sepeda sempat menjadi primadona transportasi yang digunakan masyarakat 
kita dulu. Bahkan masyarakat di kota Yogyakarta masih lumrah menggunakan sepeda 
terutama para mahasiswanya. Sepeda memang identik dengan kesahajaan dan tak 
pernah lekang dimakan waktu. 

Bandingkan dengan kondisi kini, suasana jalan ibu kota yang macet dan bising 
acapkali mengganggu perjalanan. Masalah polusi juga masih mengintai para 
pengemudi di jalan raya. Meski ada busway, jumlah kendaraan bermotor tetap 
membludak, sehingga menimbulkan kemacetan. 

Hal ini tentu sangat menganggu bagi yang memiliki aktivitas segudang. Apalagi 
bagi yang butuh waktu cepat untuk segera sampai ke tempat beraktivitas, baik 
itu kantor, kampus, maupun sekolah. 

Melihat kondisi yang ruwet ini agaknya kembali bersahabat dengan sepeda bisa 
menjadi alternatif sarana transportasi yang murah meriah. Masalahnya, jalan 
yang sempit menyulitkan orang untuk dengan nyaman bersepeda karena belum ada 
jalur khusus untuk itu. Bahkan saat ini telah mulai bermunculan komunitas 
sepeda yang mulai menggiatkan besi roda dua ini sebagai sarana transportasi di 
ibukota. 

Di luar negeri, pada hari libur sudah sejak lama ada program yang bernama car 
free day (hari bebas mobil). Pada hari itu, jalan-jalan dibebaskan dari lalu 
lalang kendaraan bermotor dan hanya boleh dilewati oleh pejalan kaki serta 
pengguna sepeda. 

Contohnya di Bogota, Kolombia, dan Amerika Latin. Bahkan di Beijing orang lebih 
banyak menggunakan sepeda dibanding mobil atau sepeda motor untuk transportasi 
di dalam kota. 

Selain alat transportasi, bersepeda juga menjadi sebuah kegiatan rekreasi atau 
olahraga. Banyak penggemar bersepeda yang melakukan kegiatan tersebut di 
berbagai macam medan, misalnya bukit-bukit, medan yang terjal maupun hanya 
sekedar berlomba kecepatan saja. 

Salah satu komunitas yang mulai menggerakkan dunia sepeda adalah Bike to Work 
(B2W) Indonesia atau komunitas pekerja bersepeda. Komunitas ini dideklarasikan 
sejak 25 Agustus 2005. Namun, kampanyenya sendiri telah dimulai sejak 6 Agustus 
2004. 

Bermula dari komunitas yang senang bersepeda, komunitas ini mulai beralih 
menggunakan sepeda untuk berangkat ke kantor. "Dengan bersepeda kita bisa 
mengurangi polusi udara selain ada unsur sportnya," ujar Wahyu Diartito dari 
bidang wilayah dan keanggotaan B2W kepada Jurnal Nasional. 

"Dengan usaha yang kita lakukan, car free day mulai digagas oleh Pemda DKI 
untuk mengurangi polusi di Jakarta," tuturnya lagi. Saat ditanya awal 
ketertarikannya bersepeda, Wahyu mengungkapkan dirinya malas terkena macet 
selain ingin mencoba nuansa baru. "Komunitas ini menyenangkan, dapat membawa 
sesuatu yang positif. Apalagi jika kesal menghadapi kendaraan bermotor." 

Tak heran siapa yang bergabung di komunitas B2W akan disuguhkan tag line 
"Selamat Datang di Komunitas yang Menyenangkan." Tak hanya laki-laki, para 
wanita juga ada yang mulai menggunakan sepeda untuk berangkat ke kantor. Hanya 
saja intensitasnya belum penuh, yakni satu sampai dua minggu sekali. 

Selain pekerja kantoran, ada juga pejabat yang tertarik dengan komunitas ini, 
yakni Menteri Riset dan Teknologi (Menristek), Kusmayanto Kadiman. 

Bahkan, presiden Soesilo Bambang Yudhoyono sudah mulai tergerak dengan memberi 
kesempatan lebih besar bagi pengguna sepeda untuk menuju tempat kerja. 

Salah satu bentuk perhatian SBY adalah dengan mengikutkan komunitas ini dalam 
rangkaian kegiatan Konvensi Kerangka Kerja PBB mengenai Perubahan Iklim 
(Conference of Parties of the United Nations Framework Convention on Climate 
Change/UNFCCC) Desember lalu. 

Saat itu B2W diminta melakukan kampanye anti pemanasan global yang mengambil 
rute Jakarta-Bali dengan sepeda. Tim yang ikut berjumlah 15 orang dan melewati 
35 kota. 

Pada dasarnya bagi yang ingin bersepeda mudah saja. Sepeda dengan jenis 
apapapun bisa digunakan asal tetap memperhatikan standar keselamatan. "Kami 
biasanya menghimbau anggota kami untuk menggunakan helm, sarung, sarung tangan, 
sepatu, masker penyaring udara dan penggunaan lampu pada sepeda sebagai tanda 
di kondisi gelap. Dengan peralatan yang lengkap saat bersepeda dijamin aman," 
tandas Wahyu lagi. 

Wahyu sendiri masih menggunakan sepeda 3 kali dalam seminggu. "Terkadang saya 
suka bingung melihat pola transportasi di Indonesia, ruwet. Mudah-mudahan saja 
di Jakarta segera ada jalur khusus bagi pengguna sepeda, sehingga orang tidak 
perlu khawatir lagi jika ingin bersepeda di jalanan ibukota." 

Selain sebagai sarana mengurangi polusi dan kampanye, sepeda juga dapat menjadi 
sarana prestasi. Salah satu pembalap nasional sepeda asal DI Yogyakarta yang 
akan berlaga di Olimpiade Agustus mendatang, Sama' i menilai meski terlihat 
sepele, untuk menjadi pembalap sepeda tidak gampang. 

"Awalnya saya beralih dari sepakbola ke sepeda supaya lebih mudah. Tapi saat 
saya menekuni sepeda ternyata tidak gampang, butuh ketekunan dan stamina yang 
prima, karena taruhannya adalah catatan waktu saat berlaga di track sepeda," 
katanya usai berlatih di stadion balap sepeda-Rawamangun. 

Melihat perkembangan dunia sepeda saat ini Sama' i menilai sudah mulai ada 
bibit baru terutama pada sepeda BMX. "Kompetisi sepeda sudah mulai marak. 
Dengan kompetisi bisa memunculkan bibit baru, beda dengan zaman saya dulu yang 
miskin kompetisi." 

Melihat perkembangan dan manfaat sepeda saat ini, maka tak perlu ragu jika anda 
ingin wira-wiri keliling kota dengan sepeda. Tentu saja akan sangat nyaman jika 
ada jalur khususnya. 

Delia Mustikasari 

Kirim email ke