----- Forwarded message from yati rohayati <[EMAIL PROTECTED]> ----- Date: Tue, 15 Apr 2008 08:32:09 +0700 From: yati rohayati <[EMAIL PROTECTED]> To: [EMAIL PROTECTED] Subject: [kota-bogor] MUI: Bakso Tikus Beredar Lagi di Bogor
Dari Radar Bogor |14-04-2008 11:41 WIB |60% Warung dan Rumah Makan Diragukan Kehalalannya |MUI: Bakso Tikus Beredar Lagi di Bogor | | |BOGOR - Bakso dengan daging tikus dicurigai beredar lagi di Kota Bogor. Secara tak sengaja, kasus ini |ditemukan langsung kali pertama oleh Sisyani, auditor Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan |Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI). |Bakso yang dibelinya dari salah satu ruko di kompleks Taman Yasmin tersebut mengandung bulu tikus. |Bulunya terlihat dengan kasat mata ketika ia memotong bakso tersebut. |"Sampel ada di LPPOM MUI," tandas ujar Direktur LPPOM MUI Dr Nadratuzzaman Hosen. | | |LPPOM MUI saat ini terus meneliti kasus ini. Tidak menutup kemungkinan bakso tikus itu juga beredar di |tempat-tempat lain. |Selain meneliti kemungkinan peredaran bakso bercampur daging tikus, LPPOM MUI juga meneliti berbagai |makanan di Bogor yang tercampur barang haram. Diantaranya penggunaan ang ciu (arak merah) pada masakan. | | |Dari survey Jurnal Halal diketahui 60 persen warung dan rumah makan di Bogor, terutama yang menjual |masakan capcay, cah kangkung, tumis hingga nasi goreng menggunakan barang haram tersebut. | | |''Bukan hanya yang dikelola warga etnis Cina, tetapi juga yang dikelola pribumi akibat ketidaktahuan |mereka,'' jelas Hosen. |Belum lagi penggunaan lap chong (kaldu) pada mi ayam. Hosen mengatakan, Jurnal Halal pernah melakukan |survey di Pasar Bogor dan menemukan kaldu tersebut dalam kemasan botol. | | |Menurut, penjualnya ada beberapa jenis lap chong mulai lemak ayam sampai lemak babi. Produk tersebut |beredar di masyarakat, khususnya digunakan para pedagang mi ayam dan bakso. Masalahnya, kita tidak pernah |tahu persis apakah pedagang mi ayam maupun bakso menggunakan lap chong dari lemak babi atau ayam. |Masalah lainnya penggunaan kuas bulu. Para pedagang martabak dan roti sering menggunakan kuas untuk |mengoles kue dan loyang. Kajian yang dilakukan LPPOM MUI banyak kuas tersebut terbuat dari bristle (bulu |babi, red). | | |"Penggunaan yang najis tersebut tentu saja bisa mempengaruhi kehalalan kue, martabak atau roti yang |dihasilkan," tandas Hosen. Disamping itu, merebak juga isu yang berisi ham atau daging babi. |Selebihnya, kata Hosen, keberadaan para pedagang makanan baik yang menjual masakan siap saji maupun |makanan untuk khas Bogor yang tidak diketahui persis kehalalannya. ''Mereka itu perlu dibina dan |diarahkan. Ke depannya, senantiasa menggunakan bahan halal dan memasak atau memprosesnya secara halal |pula. |Hal lain yang dikritisi adalah keberadaan Rumah Potong Hewan(RPH) sapi dan babi yang masih satu lokasi di |Jalan Pemuda. Menurut Hosen pada penyembelihan sapi dan babi masih dalam satu lokasi. | | |"Meski lokasinya dipisah dan pemotongannya berbeda, namun keberadaannya di satu lokasi masih memungkinkan |terjadinya kontaminasi silang," katanya. | | |Bisa saja tercampur antara daging sapi dan babi saat pengiriman jika tujuan pengirimannya sama. "Masalah |ini sudah sering dibicarakan, tapi Dinas Peternakan (Agribisnis, red) mengaku masih kesulitan memindahkan |pemotongan babi dengan alasan dana," ujar Hosen. |Pertanyaannya, sampai kapan kondisi darurat ini masih harus dipertahankan? Belum lagi kasus maraknya |daging oplosan di pasar. "Hampir setiap tahun kasus daging sapi yang dioplos celeng atau babi hutan |selalu terjadi, termasuk Bogor," tandas Hosen. | | |Alasannya, himpitan ekonomi dan tingginya harga daging sapi. Ia mengatakan harga daging sapi yang |mencapai lebih Rp40 ribu per kiliogram menyebabkan pedagang dan pembeli cenderung menggunakan daging |celeng yang bisa dijual seharga kurang dari Rp20 ribu per kilogram. Kasus ini pernah terjadi di Parung |dan Pasar Anyar Bogor serta menjadi masalah bersama yang harus ditangani secara menyeluruh. |Ayam bangkai pun menjadi keresahan masyarakat. Akibat pengangkutan ayam dan para peternak ke rumah potong |ayam (RPA) menyebabkan rata-rata 0,5 persen ayam tersebut mati sebelum disembelih. | | |"Ini hasil penelitian PPA dan Dirjen Peternakan," ujar Hosen. Seharusnya ayam bangkai tersebut |dimusnahkan atau diberikan kepada hewan ternak. Lagi-lagi, karena desakan ekonomi, ayam bangkai tersebut |masih saja dipergunakan untuk konsumsi manusia. Kasus ini pernah terjadi di Ciomas, Parung, Ciseeng. |Sementara itu, Kepala RPH Kota Bogor Syarif Hidayat menegaskan RPH yang berlokasi di Jalan Pemuda itu |memang sudah berdiri sejak zaman Belanda tahun 1930. Keberadaannya sudah sedemikian rupa. | | |"Tapi ketentuan dan pembatasnya jelas," ujarnya. | | |Namun, ia menolak jika kemungkinan tercampurnya daging babi dengan sapi saat pengangkutan. Sebab, |pengangkutan daging selalu dipisahkan. |Lagipula, sambung Syarif RPH yang akan relokasi ke Bubulak nanti tak akan ada RPH untuk babi. "Nanti |pemotongan khusus babi di luar kota," ujarnya. |Terkait daging oplos, menurut Syarif, pihaknya yang berada di bawah naungan Dinas Agribisnis terus |melakukan pengawasan. "Pedagang juga sudah kami minta untuk saling mengawasi," ujarnya yang baru dua |minggu lalu melakukan razia ke pasar bersama mahasiswa IPB. |Sedangkan Direktur Kesmavet Departemen Pertanian drh Turni Rusli mengatakan, pihaknya terus mengawasi |peredaran daging oplosan melalui petugas kesmavet di tiap daerah yang ada di Dinas Agribisnis. | | |"Termasuk pengawasan dan kehalalan makanan dan minuman akan kami perketat," ujarnya. (rtn) ----- End forwarded message ----- -------------------------------------------------- Official Mailing List: Porsenipar ke IV Tahun 2007 -=== Perumahan BDB2 dan BDB3, Cibinong, Bogor ===- -= Menjiwai Semangat Kebangsaan dengan Prestasi =- | Official Website: http://www.porsenipar.web.id | ------- Porsenipar Media Center: 6849-6001 -------
