Sebuah iklan beberapa waktu lalu :
"Seandainya setiap orang (dengan kesadaran) menanam satu tanaman saja, bumi 
akan cepat terselamatkan dari global warming"

Jadi di kita, minimal akan ada 3 tanaman per KK yang terus dan terus hidup 
dipelihara. Seperti kearifan orang kampung yang menjadikan satu tanaman sebagai 
satu petanda bagi suatu hajat.

Rgds / Jaerony.-

************************************************


Petani Strawberry Ciwidey, Aset Agrowisata Bandung Selatan


Ratusan petani sayuran di Kecamatan Ciwidey dan Rancabali Kabupaten Bandung 
banyak yang "banting setir" menjadi petani strawberry yang dikemas dalam bentuk 
wisata agro yang menjanjikan di masa mendatang.

"Kebanyakan kebun sayuran yang disulap jadi tanaman strawberry tersebut yang 
terletak di pingir jalan atau yang ada akses jalannya, dan hasilnya cukup 
lumayan bisa memberikan variasi untuk mendukung wisata agro di Ciwidey ini," 
kata Atang (49) seorang petani strawberry, Jumat yang mengaku sudah setahun ini 
menekuni tanaman strawberry itu.

Ia menyebutkan, awalnya penanaman strawbeerry tersebut hanya dilakukan oleh 
beberapa orang petani saja, namun kemudian ada yang memberikan bibit dan 
cara-cara bertanam strawberry yang ternyata cocok dengan iklim di pegunungan 
Ciwidey.

Untuk menarik pengunjung, para petani sengaja memberikan pelayanan tersendiri 
yakni dengan mempersilahkan pengunjung untuk memetik sendiri strawberry yang 
akan mereka beli. Petani setempat menjual strawberry yang langsung dari 
pohonnya itu seharga Rp35.000 per kilogram.

Selain itu para petani juga membudidayakan tanaman strawberry tersebut untuk 
dijual kepada pengunjung yang menginginkan tanaman strawberry di rumah 
masing-masing baik ditanam di atas pot atau pada karung ukuran kecil.

"Biasanya hari Sabtu dan Minggu banyak pengunjung ke sini untuk sekedar memetik 
strawbery atau membeli bibit strawberry, lumayan ada peningkatan dan cukup 
prospektif," kata Atang.

Para petani strawberry tersebut tidak khawatir straberry mereka yang ranum 
tidak laku. Pasalnya lokasi tersebut tepat berada di pinggir jalan yang 
mengakses ke kawasan obyek wisata Cimanggu, Ciwalini dan Situ Patenggang di 
Kecamatan Rancabali.

Selain memasang plang yang bertuliskan `Kebun Strawberry, Pembeli Memetik 
Sendiri`, para petani juga menjual strawberry dari kebunnya ke kawasan obyek 
wisata di sana. Namun tidak jarang juga ada yang membeli dari Kota Bandung 
untuk dijual di toko-toko swalayan atau di obyek wisata yang tersebar di Kota 
dan Kabupaten Bandung.

"Kami hanya menawarkan kepada wisatawan untuk menikmati suasana alam dan buah 
yang alami pula, kebetulan strawberry tidak rewel mengurusinya dan mudah sekali 
memeliharanya. Harganya juga masih `orsinil` dan bersaing," kata Junaidi (40) 
petani strawberry di Rancabali.

Areal yang dipakai oleh para petani untuk membudidayakan strawberry itu bisa 
dilakukan di lahan sempit, namun minimal 70 tumbak hingga 150 tumbah. Bahkan 
beberapa petani ada yang menanam pada lahan lebih dari 250 tumbak.

Pohon strawberry tersebut ditanam pada ratusan karung berukuran kecil dan 
tersusun rapi. Kebersihan medianya juga sangat terpelihara, dan hampir setiap 
hari para petani tersebut harus menyiramnya dengan telaten.

"Saat ini belum begitu banyak berbuah, biasanya pada musim penghujan buahnya 
bagus. Namun sekarangpun cukuplah untuk memenuhi permintaan dari para 
pengunjung," kata Junaidi.

Mereka optimis, budidaya strawberry bisa memberikan nilai tambah untuk 
penghasilan mereka. Namun demikian, mereka tidak meninggalkan sama sekali 
memproduksi sayuran yang selama ini menjadi sumber penghidupan warga di kawasan 
dingin di Bandung Selatan itu. 

"Menanam sayuran tetap menjadi prioritas utama, sedangkan strawberry mencoba 
dikembangkan dan selama ini cukup memberikan nilai tambah bagi warga. Harga 
jualnyapun cukup menggairahkan," tandasnya. [TMA, Ant]. 

SUMBER: GATRA
http://www.gatra.com/2005-06-11/artikel.php?id=85345


Original Message :  hanyakliping 

Kirim email ke