Jumat, 16/05/2008 14:22 WIB

Mental buruk membanding-bandingkan
oleh : Anthony Dio Martin

Salah satu kebiasaan buruk masyarakat kita adalah penyakit 
membanding-bandingkan. Coba perhatikan saat orang sedang bergosip ria. Anda 
pasti akan mendengarkan orang yang doyan membangga-banggakan dan 
membanding-bandingkan satu sama lain. Selain itu, beberapa acara di TV juga 
kentara sekali memamerkan dan membanding-bandingkan satu selebritas dengan 
selebritas lainnya. 

Memang tidak selamanya buruk. Semangat membandingkan dengan orang lain, membuat 
kita sadar bahwa ada orang yang lebih baik dan lebih berhasil daripada kita. 
Namun, sikap membanding-bandingkan punya akibat yang buruk bagi perkembangan 
mental apabila tidak diimbangi dengan mentalitas yang konstruktif. 

Pertama, sikap membanding-bandingkan membuat kita seperti 'minum dari air 
laut'. Jadi tidak pernah ada puas-puasnya, malahan kita semakin kehausan hingga 
akhirnya kita kelelahan sendiri. 

Saya mengenal seorang pria yang selalu berkompetisi dengan kakak dan adiknya. 
Padahal, secara finansial hidupnya sebenarnya pas-pasan. Namun, demi menjaga 
gengsi di mata orang tua ataupun adik-adiknya, dia terus berusaha mengimbangi 
bahkan melebihi adik dan kakaknya secara material. Akhirnya, semua itu membawa 
dirinya menjadi berutang yang cukup banyak. 

Kedua, sikap membanding-bandingkan membuat kita berada dalam sebuah herarki 
yang tidak ada putusnya. Saat Anda merasa iri dengan supervisor Anda, mungkin 
si supervisor Anda pun merasa iri dengan manajernya. Lalu si manajer iri dengan 
direkturnya. Si direktur ini pun iri dengan direktur yang lain. Demikianlah, 
semua ini tidak pernah ada putusnya. 

Ketiga, mentalitas membanding-bandingkan membuat energi emosi kita lebih banyak 
dihabiskan untuk hal-hal yang justru negatif. Misalkan saja, melihat rekan 
ataupun teman Anda yang lebih berhasil, Anda pun jadi merasa iri, sebel, 
cemburu, dan marah. Reaksi semacam ini membuat kebanyakan orang justru terjebak 
dalam energi yang negatif, seperti berusaha mencari-cari kekurangan orang 
tersebut. Bahkan, ada yang berusaha mengalahkan dengan cara yang tidak pantas. 

Bagaimanakah tipsnya agar kita tidak terjebak dalam sikap membanding-bandingkan 
yang negatif dan akhirnya justru membenamkan potensi diri kita sendiri? 

Standar sendiri 

Pertama, bangunlah standar Anda sendiri. Dalam pelatihan dan seminar, saya 
tidak bosan-bosannya mengatakan kalimat yang terinpsirasi dari kisah hidup 
banyak orang sukses, "Saya tidak membandingkan diri saya dengan orang lain. 
Namun, saya punya standar kesempurnaan yang saya kejar terus-menerus sepanjang 
saya masih punya napas". Itulah semangat yang dikatakan Donald Trump ataupun 
Andy Groove, orang yang berjasa sekali membesarkan Intel. 

Kedua, sadarilah saat Anda membanding-bandingkan diri dengan mereka, mereka pun 
membanding-bandingkan dengan Anda. Saya pernah mengalami pengalaman menarik 
tatkala masih pada awal karier saya sebagai pembicara dan penulis. 

Saya sangat mengagumi seorang penulis dan pembicara yang sangat produktif. 
Suatu ketika, saat ketemu, dia pun ternyata mengatakan dia merasa iri dengan 
beberapa aspek pencapaian dalam kehidupan saya. Saya pun akhirnya sadar, ini 
bagian dari permainan kehidupan yang mesti kita sadari. 

Kita akan selalu membanding-bandingkan. Kamu hebat di mana, kamu punya apa, dan 
seterusnya membentuk suatu daftar panjang yang tidak akan berhenti. Karena 
itulah, satu-satunya cara adalah tidak membanding-bandingkan dan tidak melihat 
orang lain dengan perasaan iri. Ingatlah, belajar dari kisah saya di atas, 
mungkin dia sendiri pun sedang melihat Anda saat ini dengan irinya. 

Ketiga, setop membanding-bandingkan dan belajar untuk bersyukur dengan apa yang 
kita capai saat ini. Selama kita sadar bahwa kita telah berusaha secara 
maksimal dan inilah yang mampu kita capai, belajarlah bersyukur atas apa yang 
boleh kita nikmati. 

Kita tidak perlu khawatir ataupun risau dengan apa yang mereka miliki. Sejauh 
kita tetap mengembangkan diri kita, tetap dengan rajin dan gigih mau berjuang, 
saya percaya kita akhirnya akan menikmati seperti yang orang lain nikmati. 
Namun, kita tidak boleh merasa iri. Memang, pada akhirnya setiap orang sudah 
punya path (jalannya) sendiri-sendiri. 

Ada yang jalannya lebih cepat, ada yang lebih perlahan. Namun, kita tak perlu 
iri apalagi marah dengan 'rumput tetangga yang tampaknya lebih hijau'. Belajar 
terima kondisi 'rumput' kita saat ini tetapi rajin-rajinlah merawat dan melihat 
serta mengembangkan kondisi rumput kita. Mungkin suatu ketika, rumput kita pun 
akhirnya akan sehijau rumput tetangga. Bahkan, mungkin lebih bagus. 

Keempat, kalaupun ingin membanding-bandingkan, bandingkanlah dengan dirimu 
sendiri. Cobalah lihat apakah kehidupan Anda secara umum ada kemajuan dan 
perkembangan yang lebih baik? Secara spiritual, finansial, karier, emosional, 
mental (pengetahuan) atau hubungan sosial, bagaimana perkembangannya? 

Hal ini akan lebih positif dan lebih baik untuk memotivasi Anda menjalani 
grafik yang semakin menanjak dalam kehidupan Anda. Di sisi lain, energi yang 
dipakai juga energi positif. 

Akhirnya, kalaupun Anda masih terobsesi dengan orang lain, lihatlah bukan 
dengan kacamata perasaan iri, marah, ataupun sebel. Namun, dengan kacamata 
ingin tahu bagaimana caranya Anda bisa mencontoh apa yang mereka lakukan 
sehingga Anda pun bisa sesukses mereka-mereka ini. Dengan demikian, cara 
membandingkan Anda disertai dengan sikap dan emosi yang positif.


bisnis.com


URL : http://web.bisnis.com/kolom/2id1188.html 

© Copyright 1996-2008 PT Jurnalindo Aksara Grafika

<<logo-bisnis-small.jpg>>

Kirim email ke