Rabu, 28 Mei 2008 Berkelana Mencari Gas
Hari-hari ini adalah hari-hari yang memusingkan bagi para ibu rumah tangga. Sudah harga bahan kebutuhan pokok dan ongkos angkutan naik menyusul kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), dapur pun terancam tak mengepul. Pasalnya, gas untuk memasak tiba-tiba menghilang dari pasaran. Tak sedikit yang terpaksa mencari gas berhari-hari. Sri (35 tahun), warga Empang Pulo, Bogor, misalnya. Dia mencari si tabung biru sejak Sabtu (24/5). Tak cuma di Empang Pulo, Sri bahkan mencarinya sampai ke kawasan Sukasari dan Bondongan. Namun, tetap tak dapat. ''Saya sudah tiga hari nyari gas elpiji, tapi nggak dapat juga sampai sekarang (kemarin --Red),'' keluhnya. Di Depok, Jawa Barat, Ny Ima (26 tahun), juga kelimpungan karena gas menghilang. ''Pas mesen di toko langganan, ternyata stoknya kosong,'' katanya, kemarin. Sudah sepekan dia menjelajah berbagai toko untuk mencari gas, tapi tetap tak dapat. Akhirnya, dia menyerah. Dia berhenti memasak dan memilih membeli makanan langsung jadi. Happy Lindana (46), warga Paseban, Jakarta Pusat, juga sudah berhenti memasak. Sepekan terakhir, dia rajin mendatangi warung untuk membeli makanan. ''Seringnya nasi padang,'' katanya, kemarin. Happy mengatakan kelangkaan gas parah seperti yang terjadi saat ini, baru kali pertama dialaminya selama menggunakan bahan bakar itu. Sialnya, minyak tanah pun langka setelah pedagang minyak tanah keliling menjadi sulit ditemui--menyusul berjalannya program konversi minyak tanah ke gas untuk kalangan rumah tangga. Mencari kayu bakar di belantara batu Jakarta, tentu bukan solusi. ''Gas susah, minyak tanah hilang, mau masak pakai apa?'' keluhnya. Maria (40 tahun), yang memiliki toko yang menjual gas, juga sempat berhenti memasak. Warga Jl Warung Daud, Kaligandu, Serang, Banten, ini mengatakan pasokan gas ke tokonya sempat berhenti. ''Saya sebagai penjual gas saja tidak bisa masak karena gas habis. Untung hari ini (kemarin --Red) sudah dikirim kembali.'' Tak semua ibu rumah tangga memang harus berhenti memasak. Sebagian di antaranya masih bisa mendapatkan gas. Ny Ina (35), warga Perumahan Waringin Elok, Bojonggede, Kab Bogor, misalnya, masih bisa mendapatkan gas di luar kompleks perumahannya. Tapi, sudah mencari jauh-jauh, harganya sudah melejit sampai mendekati 50 persen. Harga gas 12 kilogram yang biasa dibeli Ny Ina Rp 54 ribu, telah menjadi Rp 70 ribu. Karena tempat penjualannya jauh, terpaksa keluar ongkos Rp 5.000 untuk tukang ojek yang mengambilnya. Sudah harganya mahal, Ny Ina pun dibuat kesal oleh ulah penjualnya yang 'jual mahal'. ''Dia bilang, 'ini tinggal dua tabung, dijual nggak ya'.'' Mengapa tabung-tabung biru berisi liquefied petroleum gas atau LPG alias elpiji tiba-tiba menghilang? Para pemilik toko dan warung angkat tangan. Mereka hanya menyatakan pasokan tiba-tiba berkurang. Di sejumlah toko dan warung, memang masih terlihat tabung gas yang bertumpuk-tumpuk. Tapi, banyak di antaranya tabung kosong. Sebagian pemilik toko dan warung mendapat informasi pasokan gas berkurang karena ada masalah dengan kilang di Balongan, Indramayu, Jawa Barat. Akibatnya, distribusi gas ke tingkat distributor dan pengecer pun menjadi tersendat. Informasi seperti itulah yang sampai ke telinga Wanto, pengecer gas di Tanah Abang, Jakarta Pusat. Yanto, pemilik Toko Tenaga Baru di Warung Jambu, Bogor, menyatakan pasokan gas dari distributor semakin seret dua pekan terakhir. Bila biasanya Yanto mendapat pasokan 100 tabung dari distributor di kawasan Ciawi, Bogor, kini tinggal mendapat 30 tabung. Dia mengaku kasihan pada ibu-ibu rumah tangga yang menjadi kelimpungan. Tapi, Yanto menduga Pertamina mengerem pasokan ke distributor karena ingin harganya naik. ''Kalo mau naikin harga gas elpiji, naikin saja. Berapa naiknya. Jangan bikin orang pusing. Minyak nggak ada, gas nggak ada, nggak bisa masak atuh,'' kata Yanto, kepada Republika, kemarin. Tapi, pihak Pertamina membantah jadi penyebab. Dua hari lalu, Dirut Pertamina, Ari Soemarno, menuding para agen atau pangkalan penjualan yang menjadi biang keladinya kelangkaan gas. ''Ada beberapa agen dan pangkalan penjualan yang berspekulasi. Dia simpan botolnya karena dia sangka harga elpiji mau naik,'' katanya. Ari Soemarno menegaskan Pertamina tak akan menaikkan harga elpiji menyusul kenaikan harga BBM jenis premium, solar, dan minyak tanah pada Sabtu (24/5) dinihari. ''Kami (Pertamina--Red) memang rugi dari bisnis elpiji. Tapi, kami akan laporkan ke pemegang saham. Kalau profit berkurang, maka dividen juga akan berkurang.'' Sampai dengan kemarin, Ari Soemarno mengatakan stok elpiji yang dimiliki Pertamina masih cukup untuk menjamin konsumsi masyarakat. Karena menyatakan persoalannya bukan dari Pertamina, Ari Soemarno mengatakan para agen yang menimbunlah yang akan ditindak. ''Kalau memang terbukti nakal, agen langsung saya putus,'' katanya. c63/c64/c65/c66/c67/c68/ant ( ) http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=335401&kat_id=3
