Terima kasih infonya Pak.
Tapi percuma nggak ya ?
Wong Tempo itu sebuah Media Besar di Tanah Air yang juga berat sebelah
dalam melihat "kasus" FPI ini.
:(
salam,
Jojo Wahyudi
Marketing & Communications Dept
PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia
T (62-21) 2355 9966 ext. 1292
F (62-21) 391 1560
www.manulife-indonesia.com
"Bringing Dreams to Life"
Manulife Indonesia is part of Manulife Financial - Proud Worldwide Sponsor
of the Beijing 2008 Olympic Games
bintoro wisnu
prabowo
<[EMAIL PROTECTED] To
com> [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED]
06/11/2008 16:37 cc
Subject
Please respond to [porsenipar] Re: [rw14-1542] Re:
[EMAIL PROTECTED] [porsenipar] Inilah SKB itu .....
eb.id (Beriman tanpa Jadi Preman)
Pls, kirim surat pembaca ke Majalah Berita Mingguan Tempo.
Anda juga dapat menuliskannya via tempointeraktif.com. Thx
bintoro
----- Original Message ----
From: "[EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Cc: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
Sent: Wednesday, June 11, 2008 3:30:53 PM
Subject: Re: [rw14-1542] Re: [porsenipar] Inilah SKB itu ..... (Beriman
tanpa Jadi Preman)
Maaf Pak Bin,
ada ketidak seimbangan berita yang bapak sampaikan.
Cuma sedikit berita positif-nya (pada akhir tulisan saja) yaitu
"Tentu saja ada aktivitas positif anggota Front. Mereka, misalnya, ikut
menurunkan tim bantuan ketika tsunami menggulung Aceh pada akhir 2004.
Begitu juga ketika gempa menggoyang Yogyakarta pada pertengahan 2005."
Padahal justeru FPI lah yg langsung turun ke lapangan di hari ke dua (saya
menyaksikannya sendiri saat berita TV menampilkan hari kedua pasca Tsunami-
di Aceh, di layar tampak beberapa orang berkaus putih lengan panjang dgn
tulisan besar di punggungnya "FPI" sedang mengevakuasi para korban)
dan FPI pulalah yg paling berani mengevakuasi mayat-mayat, saat "yg lain"
tak berani bertaruh "nyawa & keselamatan dirinya sendiri"
Tapi yg saya heran di setiap pemberitaan TV dan koran saat itu, nama FPI
sangat jarang sekali di sebut-sebut, bahkan hampir tidak pernah.
Tapi begitu FPI "cuma" memecahkan kaca & botol minuman keras, semua media
langsung mem"blow up"nya.
Apakah pemberitaan Media Massa di Tanah Air di tanah air ini sudah fair
dan berimbang?
Mana itu DEMOKRASI termasuk dalam pemberitaan ????
Mohon penjelasannya Pak..........
Kalau yg ini dari Media lokal Pak (bapak juga pernah membacanya kan)
Selasa, 18 Januari 2005
Punya Tim Pengendus Mayat dan Negosiator GAM
Laskar FPI; Dari Perusak Bar ke Evakuator Mayat
http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Box&id=78110
(Embedded image moved to file: pic18443.jpg)
Banda Aceh,- Siapa yang belum mendengar nama Laskar Front Pembela Islam
(FPI).
Di Jakarta, laskar itu punya nama besar gara-gara sering menyatroni dan
merusak klub-klub
malam saat Ramadhan (setelah sebelumnya diperingati dengan halus).
Bagaimana aksi laskar
itu di daerah bencana di Banda Aceh?
Laporan Ibnu Yunianto, Banda Aceh
SULIT melihat Habib Riziq Shihab mengenakan jubah dan kafiyeh putihnya
selama hari-hari
pascabencana gempa dan tsunami di Banda Aceh. Atribut kebesaran Panglima
Laskar Front Pembela
Islam itu telah setengah bulan ini bersalin dengan kaus tipis dan celana
lebar semata kaki. Bahkan,
jabatan panglima dia tinggalkan ketika pada hari-hari tertentu mendapat
jatah masuk menjadi
anggota tim evakuator mayat. Laskar FPI memang menjadi salah satu relawan
evakuator mayat
di ibukota NAD. Mereka telah datang sejak hari kedua bencana. Hari ini,
sekitar 1.200
anggota FPI dari Jakarta, Solo, Surabaya dan Makassar telah mendirikan
posko di Banda Aceh.
Lokasinya pun istimewa, Taman Makam Pahlawan Banda Aceh. Di halaman makam
yang berlapis
marmer hitam itu, tiga tenda lapangan dan dua tenda logistik didirikan
'laskar garis keras' itu.
"Emang ente pikir Laskar FPI hanya bisa merusak bar, kami juga punya
organisasi penanggulangan
pascabencana," tukas Habib Riqizk, ketika ditanya motivasinya terjun ke
NAD.
Habib itu mungkin tak sedang bergurau. Meski mengaku datang dengan modal
dengkul, FPI termasuk
kelompok relawan yang cukup disegani di Banda Aceh.
Laskar itu bukan cuma ringan tangan, tapi juga pintar mengambil hati orang
Aceh. Tentang ringan
tangannya laskar itu juga cukup legendaris di kalangan relawan. Soalnya,
hanya FPI yang berani
menyentuh kawasan Syiah Kuala. Kawasan di pinggiran Universitas Syiah Kuala
dan makam
raja-raja Aceh itu memang menjadi momok, karena lokasinya yang berawa-rawa,
banyak paku bekas
rumah yang telah berkarat dan ratusan ekor ular. Di kawasan itu juga
terkenal dengan mayat yang
sangat berbau dan anggota tubuhnya tidak utuh karena terus-menerus terendam
air.
"Bukan Ane bermaksud sombong, banyak relawan yang muntah-muntah begitu
masuk kawasan
Syiah Kuala. Tapi, FPI berhasil membersihkan mayat-mayat di daerah itu.
Sekitar 600 mayat sudah
kami angkat dari sana selama 22 hari ini," kata Habib Riziq. Untuk
membersihkan kawasan bekas
padat penduduk itu, Ketua Pelaksana Operasi FPI Ja'far Sidiq mengatakan,
kalau Laskar FPI memulainya
dengan menyiapkan "peralatan perang" yang lengkap. Mereka menggedor setiap
pintu instansi pemerintah
sehingga berhasil mendapatkan 4 ton logistik, ribuan masker standar TNI,
ribuan pasang sarung tangan,
dan ratusan pasang sepatu boot. "Pokoknya gaya gebug dulu khas FPI kami
pakai untuk mendapatkan
perlengkapan evakuasi, tapi mereka beruntung karena ada yang mengerjakan
evakuasi mayat di kawasan
yang tak tersentuh relawan lain," kata dia.
Setelah itu, mereka lantas menyiapkan kamp relawan di Taman Makam Pahlawan.
Kawasan elit itu mereka
sulap menjadi kamp relawan dengan dapur umum 24 jam, kamar mandi portabel
dan tempat sanitasi terbaik
diantara kamp relawan lainnya. Kamp itu juga dilengkapi dengan tempat untuk
mencuci anggota tubuh
relawan dan alat perlengkapan evakuasi dengan cairan kimia khusus. Bahkan,
meski pun kawasan makam,
seluruh kamp itu juga dinyatakan sebagai daerah bebas rokok dan daerah
wajib berbusana muslim.
Bahkan, setiap pekan anggota FPI juga wajib disuntik tetanus dan malaria,
karena tingginya risiko bekerja
di rawa-rawa yang penuh puing-puing bangunan.
Mereka juga membagi sekitar 1.200 anggota laskar menjadi 3 tim, yaitu tim
pengendus mayat, evakuator
mayat, tim sholat jenazah dan tim logistik.
Tim pengendus bertugas mencari mayat diantara tumpukan puing, tim evakuasi
menggali puing untuk
mencari mayat, tim pensholat jenazah khusus mensholatkan setiap jenazah
yang ditemukan sementara
tim logistik mengurus konsumsi relawan. "Dengan begitu, tim logistik dan
tim sholat jenazah tidak
menyentuh mayat, sehingga kebersihan makanan dan kesucian anggota tim
pensholat jenazah selalu
terjaga," kata Ja'far.
Di daerah kos-kosan mahasiswa itu, anggota Laskar FPI juga kerap menemukan
keanehan-keanehan.
Diantaranya, Sabtu lalu mereka menemukan tubuh utuh seorang ibu muda yang
tengah hamil tua.
Mayat itu utuh, kulitnya masih segar dan sama sekali tidak berbau meski
terendam air selama 21 hari.
Namun, hanya berselang 1 meter ada jenazah yang tidak utuh organ tubuhnya
serta sangat berbau.
"Apa maknanya, saya kira Allah hendak menunjukkan kekuasaannya," kata
habib.
Karena nama besarnya dalam urusan evakuasi mayat, Laskar FPI juga kerap
dimintai tolong untuk
mengevakuasi mayat di daerah konflik. Di kawasan Lhok Nga, sekitar 20
kilometer dari Banda Aceh,
FPI bahkan dihubungi langsung Panglima GAM wilayah itu untuk mengurus
jenazah di sana. "Ada
ratusan mayat yang sempat terbengkalai di daerah itu. Soalnya, GAM takut
ditembak TNI kalau dia
keluar untuk mengurus mayat, sementara TNI juga nggak mau ditembak GAM.
Karena itu, FPI yang
diminta turun," kata Ja'far Shodiq.
Kini FPI juga mulai menyentuh reruntuhan Pasar Atjeh, kawasan pertokoan
tepat di belakang Masjid
Baiturahman, Banda Aceh. Di kawasan yang terkenal karena ada rekaman video
yang mengabadikan
datangnya tsunami di kawasan itu, ratusan jenazah diperkirakan masih
tertimbun tumpukan puing
dan barang dagangan. Bau busuk menyengat begitu memasuki kawasan yang hanya
berjarak 300 meter
dari Meuligae (Pendapa) Nanggroe Aceh Darussalam, kompleks kantor gubernur
NAD yang juga Posko
Satkorlak PBA NAD itu. "Dari jam 9 hingga dhuhur, sudah 48 mayat kita
temukan. Entah berapa lagi
yang tersisa. Mayat seakan tidak ada habisnya," kata Habib Riqizk,
menambahkan. Karena hanya
tukang gedor fasilitas penyelamatan, FPI kini masih kesulitan mengangkut
jenazah ke tempat pemakaman
masal di daerah Lambaro, Aceh Besar. Mereka hanya mengandalkan angkutan
milik TNI dan Dinas PU
yang tidak seberapa banyak. Padahal, sekitar 100 mayat per hari ditemukan
laskar yang di Jakarta
gemar menghunus pedang dan golok di kelab malam itu.
Lantas, apa rahasia sehingga dalam 23 hari hanya 6 orang anggota laskar
yang pulang ke daerah
masing-masing? "Kontrak kami ke Aceh adalah bebas pergi kapan saja tapi
jangan harapkan uang saku
untuk pulang. Kami ke sini tidak ada yang bayari, jadi tidak ada yang kami
beri uang saku untuk pulang.
Kalau mereka bisa pulang sendiri silahkan. Akibatnya, hanya enam orang saja
yang pulang," jelasnya.
Selain piawai mengumpulkan mayat, laskar FPI juga piawai mengambil hati
orang Aceh. Laskar yang
meliburkan operasi setiap hari Jumat untuk membersihkan masjid dan madrasah
itu dikenal keras
melindungi kesucian masjid. Mereka pernah membuat larangan bagi orang asing
untuk masuk ke
lingkungan Masjid Baiturrahman dengan alasan kawasan masjid haram bagi non
muslim. Peraturan
keras itu rupanya sangat didukung oleh rakyat Aceh. Tak heran, Laskar FPI
justru menuai pujian
di Banda Aceh.(jpnn)
--------------------------------------------------
Official Mailing List: Porsenipar ke IV Tahun 2007
-=== Perumahan BDB2 dan BDB3, Cibinong, Bogor ===-
-= Menjiwai Semangat Kebangsaan dengan Prestasi =-
| Official Website: http://www.porsenipar.web.id |
------- Porsenipar Media Center: 6849-6001 -------