Sabtu, 2008 Juni 14
Nekolim : Amerikanisasi BBM (3) 
Diizinkan, Produsen BBM Non-Pertamina

SUARA PEMBARUAN DAILY, 21 Oktober 2003 

Sudah Empat Calon Investor yang Mendaftar 

(kalimat dengan bold adalah penekanan khusus dari Revrisond)

JAKARTA - Dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi, masyarakat Indonesia bisa 
mengonsumsi bahan bakar minyak (BBM) kualitas prima produksi non-Pertamina. Hal 
ini terjadi karena pemerintah telah membuka kesempatan bagi pemain baru yang 
ingin berinvestasi di bidang ini. 

Namun untuk BBM yang saat ini masih disubsidi, liberalisasi tetap akan 
dilaksanakan tahun 2005, setelah masa transisi Pertamina berakhir. 

Sementara itu, pemerintah tampaknya bakal menerima pendapat Pertamina yang 
keberatan jika pemain baru diberi akses terbuka menggunakan fasilitas produksi 
dan distribusi BUMN Migas tersebut. Namun menurut Dirjen Migas Departemen 
Energi dan Sumber Daya Mineral, Iin Arifin Takhyan, hal tersebut tidak menutup 
kemungkinan Pertamina menerima tekanan berat dari pemain baru. 

Iin ketika berbicara dalam sarasehan sehari dengan para wartawan migas di 
Jakarta, Senin (20/10), mengatakan, pemerintah saat ini telah membuka 
kesempatan bagi para investor yang ingin memasarkan produk BBM euro I dan euro 
II. BBM jenis ini adalah BBM prima seperti halnya Pertamax dan Pertamax Plus 
produk Pertamina. 

"Jadi kalau sekarang ada pemain yang mau memproduksi dan memasarkan produk itu, 
boleh-boleh saja, karena bisnis ini sudah dibuka," katanya. Harga komoditas ini 
juga tidak akan diatur oleh pemerintah, sehingga benar-benar murni pasar. 

Pada kesempatan sama, Iin juga mengutarakan bahwa pihaknya kemungkinan akan 
menerima usulan Pertamina untuk tidak memberi kesempatan bagi investor baru 
yang akan bergerak di bidang hilir untuk fasilitas produksi dan distribusi 
milik BUMN migas tersebut. "Keputusan ini belum final. Tapi tampaknya kami akan 
mengikuti usulan ini, karena sejak awal Pertamina sudah merasa keberatan," 
jelasnya. 

Seperti diberitakan sebelumnya, Bank Dunia pernah menulis surat kepada Menteri 
ESDM agar para pemain baru diberi akses menggunakan fasilitas-fasilitas 
produksi dan distribusi milik Pertamina. Jika tidak, para pemain baru yang akan 
datang tidak akan kuat bersaing dengan Pertamina yang terlanjur memiliki 
fasilitas yang cukup lengkap. 
Surat Bank Dunia ini mendapat reaksi keras dari kalangan pemerintah dan 
Pertamina serta beberapa lembaga swadaya masyarakat. Wakil Ketua Badan 
Pelaksana Kegiatan Hulu Migas, Kardaya Warnika yang cukup berperan dalam 
menyusun UU migas baru mengatakan pihaknya tidak setuju dengan usulan Bank 
Dunia. 

"Liberalisasi yang kami terapkan di sektor hilir tidak bertujuan untuk 
mengkerdilkan Pertamina, tapi untuk mengundang investor agar mau berinvestasi 
di sini. Jadi usulan mereka sulit kami terima," katanya. 

Calon Investor 

Menurut Iin, keputusan sementara pemerintah ini juga sudah disampaikan kepada 
calon investor yang datang menanyakan sikap pemerintah. Dan nyatanya, mereka 
bisa menerima. 
"Saat ini sudah ada empat calon investor yang datang dan membuka kantor di 
Jakarta. Mereka mengatakan, kalau akses ke fasilitas-fasilitas itu tidak 
dibuka, mereka akan membangunnya sendiri, mulai dari kilang sampai depo," 
katanya. 

Iin menolak menyebut ke empat calon investor tersebut. Namun Kepala Badan 
Pengatur Kegiatan Hilir, Tubagus Haryono beberapa waktu lalu mengatakan, 
beberapa calon investor yang masuk di bidang hilir adalah Petronas, Shell, 
Total dan BP. 

Konsekwensi logisnya mereka minta diberi kesempatan membuka stasiun pengisian 
bahan bakar umum (SPBU) secara besar-besaran, minimal 2.000 buah. "Tidak ada 
alasan bagi pemerintah untuk tidak mengizinkan mereka, di era liberal. Jadi 
Pertamina juga harus berhati-hati melihat perkembangan ini, sebab berarti 
mereka juga akan mendapat saingan yang cukup keras," katanya. 

Sementara itu, pada Minggu (19/10) Petronas mengumumkan telah membentuk anak 
perusahaan di Indonesia, yakni PT Petronas Niaga Indonesia. Perusahaan baru itu 
bergerak di bidang minyak pelumas. 

Presiden dan CEO Petronas Tan Sri Dato Mohammad Hassan mengatakan, tahun 2005 
nanti PT Petronas Niaga Indonesia berkeinginan masuk ke bisnis SPBU, tetapi 
dengan menggandeng Pertamina. (K-10) 

http://www.suarapembaruan.com/News/2003/10/21/Ekonomi/eko02.htm


http://ruangasadirumahkata.blogspot.com/2008/06/nekolim-amerikanisasi-bbm-3.html

Kirim email ke