Jadi, kalau anak kita diare dan obatnya dikasih segambreng sama dokter (apalagi kalo ditambah antibiotik dll), patut dipertanyakan tuh dokternya :) Jangan-jangan dokternya nggak RUD (Rational Use of Drugs)

Seperti kata dr Yati dibawah, diare cukup dilawan dengan oralit atau bisa ditambah dengan perparat zink (mineral) produksi kimia farma (yang sudah direkomendasi WHO).

Sekedar info.

        -- A. Yahya Sjarifuddin.


-------- Original Message --------
Subject: [MLDI] Diare Pembunuh Nomor Dua Anak Balita
From: ghozan_gmail <[EMAIL PROTECTED]>

Quote :

"Yang tak kalah membahayakan, kata Yati, ada kecenderungan pemberian antibiotik kepada pasien dan penderita diare secara sembarangan atau berlebihan. Padahal ini justru membuat resistan pada penyakit diare tersebut. "Padahal diare cukup dilawan dengan oralit," katanya menjelaskan."


Kamis, 19 Juni 2008
Berita Utama-Jateng
Diare Pembunuh Nomor Dua Anak Balita

YOGYAKARTA - Penyakit diare menjadi penyebab utama nomor dua kematian pada anak usia 6 bulan hingga 2 tahun. Penyebabnya, pemberian antibiotik. "Penyakit itu selalu kejar-kejaran dengan radang paru-paru, yang menjadi penyebab kematian nomor satu dan dua pada anak," kata Prof Dr Srisupar Yati Soenarto, PhD, Sp.AK, dalam konferensi pers setelah pidato pengukuhan guru besar di Balai Senat Universitas Gadjah Mada kemarin.

Penelitian Translasional dan Kebijakan Berbasis Bukti: Diare pada Anak Sebagai Studi Kasus, yang dilakukan Yati menyebut penyebab diare bermacam-macam, di antaranya, infeksi telinga, AIDS, radang otak, dan TB. Penyakit itu diikuti diare, yang menyebabkan penderita meninggal akibat kekurangan cairan atau dehidrasi.

Yang tak kalah membahayakan, kata Yati, ada kecenderungan pemberian antibiotik kepada pasien dan penderita diare secara sembarangan atau berlebihan. Padahal ini justru membuat resistan pada penyakit diare tersebut. "Padahal diare cukup dilawan dengan oralit," katanya menjelaskan.

Yati mengungkapkan sebuah penelitian di lima provinsi di Indonesia pada 2003 menunjukkan penggunaan antibiotik untuk balita diare mencapai 85 persen. Sedangkan Departemen Kesehatan pada 1987 mencatat ada 88 persen. Adapun penelitiannya bersama mahasiswa pada 2007 itu menunjukkan hampir 100 persen penggunaan antibiotik tidak rasional. "Pada pasien rawat inap di Rumah Sakit Sardjito, ada 31 persen," katanya.

Anggota staf Epidemiologi Klinik dan Biostatistik Fakultas Kedokteran UGM, Wahyu Damayanti, yang mendampingi Yati dan menjadi salah satu peneliti, menambahkan, "Antibiotik bisa menjadi penyebab diare karena kuman baik dan jahat menjadi tidak seimbang," katanya.

Karena diare dianggap penyakit berbahaya, butuh cara tepat mengatasinya. Dalam program nasional penanggulangan diare bersama International Zinc Task Force, kata Yati, dari oralit yang dianggap bukan obat, diputuskan penggunaan zinc sebagai obat yang diresepkan oleh dokter dan diharapkan bisa mengganti antibiotik. "Kami sudah menggandeng industri obat untuk memproduksi zinc pada 2008," katanya. BERNARDA RURIT

sumber : koran tempo


--
--
Achmad Y. Sjarifuddin.
E-mail: abu [at] lathiifa.com
Website: http://www.lathiifa.com

--------------------------------------------------
Official Mailing List: Porsenipar ke IV Tahun 2007 -=== Perumahan BDB2 dan BDB3, Cibinong, Bogor ===-
-= Menjiwai Semangat Kebangsaan dengan Prestasi =-

| Official Website: http://www.porsenipar.web.id |
------- Porsenipar Media Center: 6849-6001 -------

Kirim email ke