Sebuah cerita sufi yang patut direnungkan tentang selamat dan menyelamatkan.
Kita? Menghargai / mengapriasi orang lain saja emoh, apalagi menyelamatkan seekor semut yang kecil. Apalagi berpikir bahwa mungkin kita bersalah atas kerusakan di mana-mana. Lalu kapan takwanya jika derajatnya saja tidak kunjung naik? (Pinjam istilah Pak Haris / An-Nur saat kultum) Kata Doel Sumbang : "Mari kita pelihara ego kita baik-baik, niscaya iblis beserta kita!" (dari lagu "Aku") *************************************** MENYELAMATKAN SEMUT KECIL, PERBUATAN YANG SANGAT MULIA Cerita diambil dari buku: Hati, Diri dan Jiwa. Psikologi Sufi untuk Transformasi.Robert Frager Dahulu kala, ibu sultan dikenal sebagai seorang dermawan. Ia menanam pohon-pohon sebagai tempat berteduh bagi penduduk Istambul di kala musim panas. Ia juga membiayai jaringan sumur sehingga para penduduk dapat memperoleh air dengan lebih mudah. Ia membangun mesjid, sekolah, juga rumah sakit, yang ia bantu dengan lahan yang menghasilkan pemasukan. Sehingga, semua itu dapat berfungsi selama-lamanya. Ketika rumah sakit tersebut sedang dibangun, ia mengunjungi lokasinya. Di sana ia melihat seekor semut jatuh kedalam beton yang masih basah. Ia memutuskan bahwa tak ada satu ciptaan pun yang boleh menderita akibat tindakan dermanya. Ia menancapkan payung buatan Prancis miliknya yang mahal kedalam beton tersebut, kemudian mengangkat keluar semut tersebut. Beberapa tahun kemudian, pada malam kematiannya, beberapa teman dekatnya bermimpi tentang dirinya. Ia tampak muda dan berseri-seri. Dan ketika ia ditanya apakah ia masuk surga karena seluruh dermanya, ia menjawab, "Tidak, keadaan yang kualami sekarang adalah semata-mata karena seekor semut yang kecil." ~ oleh Dimas di/pada 28 Maret, 2007 http://surrender2god.wordpress.com/2007/03/28/indahnya-kasih-sayang/
