Jumat, 27/06/2008 13:51 WIB

 Zero-mind Process
oleh : Ary Ginanjar Agustian
Pendiri dan Pemimpin ESQ Leadership Center

Gairah spiritualitas dalam dunia bisnis global terus menguat, terutama setelah 
meledaknya mega skandal korporat seperti Enron, Arthur Anderson, WorldCom, dan 
Global Crossing. Banyak survei menunjukkan kecenderungan publik Amerika Serikat 
(AS), yang merupakan pusat kapitalisme global, terus mencari kebermaknaan 
bisnis yang tidak semata-mata bersifat material. 

Majalah Business Week melaporkan bahwa 95% orang AS menolak anggapan bahwa 
tujuan satu-satunya sebuah korporasi adalah menghasilkan uang. 

Selain itu, 39% investor AS mengatakan mereka selalu atau sering meneliti 
praktik-praktik bisnis, nilai-nilai dan etika dari perusahaan yang dituju 
sebelum memutuskan untuk berinvestasi. 

Satu lagi, jurnal The Trends Report menemukan bahwa 75% konsumen yang disurvei 
mengatakan mereka sangat mungkin beralih ke brand yang terasosiasi dengan citra 
yang bagus jika harga dan kualitas sama. 

Pakar dan konsultan bisnis Ian I. Mitroff, setelah melakukan riset untuk buku A 
Spiritual Audit of Corporate America (1999), menyimpulkan bahwa "spiritualitas 
bisa menjadi keunggulan kompetitif tertinggi" dari sebuah bisnis. 

Mitroff adalah teoretisi organisasi, konsultan dan guru besar Emeritus pada 
Marshall School of Business dan Annenberg School for Communication di 
University of Southern California. 

Pertanyaan selanjutnya adalah, apa sebetulnya wujud spiritualitas dalam bisnis? 
Ada beragam perspektif dalam hal ini. 

Sebagian memandang bahwa spiritualitas itu secara sederhana berarti mewujudkan 
nilai-nilai personal kejujuran, integritas dan kualitas kerja yang baik. Ada 
yang berpendapat spiritualitas adalah memperlakukan rekan kerja dan pegawai 
dengan cara yang bertanggungjawab dan peduli. 

Yang lain memandang wujud spiritualitas adalah kegiatan kelompok studi 
spiritual atau aktivitas doa, meditasi, atau bimbingan intuitif di tempat 
kerja. Ada pula yang memahami spiritualitas sebagai upaya menjadikan bisnis 
bertanggung jawab secara sosial dalam hal bagaimana dampaknya terhadap 
lingkungan, melayani komunitas atau membantu menciptakan dunia yang lebih baik. 

Lepas dari apa pun bentuknya, ada kecenderungan kalangan bisnis global semakin 
nyaman memakai kata spiritualitas di lingkungan kerja mereka. 

Kata ini dirasakan lebih generik dan inklusif daripada agama, walau pada 
praktiknya, sering yang dicoba-munculkan sebetulnya adalah nilai-nilai yang 
bersumber dari agama atau keyakinan pribadi-pribadi dalam bisnis itu. 

Sebagian kalangan belum nyaman dengan kata spiritualitas dan lebih memilih 
frasa lain seperti nilai-nilai dan etika. Namun sebetulnya, ketika mereka 
menyebut kata spiritualitas atau nilai-nilai dan etika, mereka mengacu pada hal 
yang sama, yakni apa yang saya sebut kecerdasan spiritual atau suara hati. 

Kecerdasan spiritual itu adalah potensi, dan hanya akan muncul apabila telah 
melalui serangkaian proses pengasahan. 

Alam bawah sadar 

Dalam pelatihan ESQ, proses pengasahan itu diawali dengan pengaktifan alam 
bawah sadar (unconscious mind). Mau tidak mau, suka tidak suka, alam bawah 
sadar yang murni itu akan selalu terpapar pada bermacam-macam belenggu, karena 
setiap manusia juga memiliki alam sadar (conscious mind) dan alam pra-sadar 
(sub-conscious mind). 

Dikatakan belenggu, karena dimensi alam sadar dan pra-sadar sesungguhnya sangat 
terbatas. 

Proses pengaktifan alam bawah sadar itulah yang dinamakan zero-mind process. 
Dalam kehidupan sehari-hari, bentuk zero-mind process bisa kita temukan dalam 
aktivitas seperti doa, sholat, yoga atau meditasi. Zero-mind process merupakan 
proses pembersihan alam bawah sadar dari belenggu-belenggu yang akan selalu 
datang seiring dengan pengalaman hidup manusia, hari demi hari, jam demi jam, 
bahkan detik demi detik. 

Itu sebabnya, doa, sholat, yoga ataupun meditasi hanya akan berdampak apabila 
dilakukan berulang-ulang (the magic of repetition). Ketika mencapai tahap 
zero-mind, maka seseorang telah siap menerima dan mengeluarkan energi positif 
untuk kebaikan dirinya dan orang lain. 

Bill Gates, pemilik imperium bisnis software paling sukses di dunia, Microsoft, 
memulai usahanya hanya dari sebuah garasi di bawah rumahnya. Kini, dia menjadi 
orang terkaya di planet bumi. Salah satu ungkapannya yang terkenal adalah: If 
you have a clear vision, you'll even forget your breakfast" (Bila Anda telah 
memiliki tujuan yang jelas, Anda bahkan akan lupa dengan makan pagi Anda). 

Kata-kata Gates itu mengajarkan betapa visi yang jernih, yang memancar dari 
dasar sanubari, yang bebas dari aneka belenggu, sungguh memiliki kekuatan yang 
dahsyat. Jangankan permusuhan, intrik, atau berbagai sikap negatif lainnya, 
sarapan pagi untuk kepentingan dirinya sendiri pun bisa dilupakan. 

Zero-mind process adalah prosedur baku yang tidak bisa tidak, harus dilalui 
seseorang yang ingin mencapai kemurnian suara hati. Hasil akhir dari zero-mind 
process adalah seseorang terbebas dari belenggu-belenggu: prasangka negatif; 
prinsip-prinsip hidup yang menyesatkan; pengalaman yang memengaruhi pikiran. 

Juga terbebas dari egoisme kepentingan; pembanding-pembanding yang subjektif; 
literatur-literatur yang menyesatkan. Dia menjadi orang yang benar-benar 
merdeka.




Kirim email ke