Ada anggota milis ini yang resah lantaran kiamat sudah dekat?
Kalau gitu mungkin banyak dosa, cepetan gih pada tobat. Mestinya sih nggak 
resah, lha wong Pak Djarot sudah bolak-balik ngasih "peringatan" kok!  
He..he..he.....


**************************************************

Anomali Cuaca Antariksa
Isu Kiamat Tahun 2012 yang Meresahkan
Rabu, 26 November 2008 | 03:00 WIB 
Yuni Ikawati

Di internet saat ini tengah dibanjiri tulisan yang membahas prediksi suku Maya 
yang pernah hidup di selatan Meksiko atau Guatemala saat ini tentang kiamat 
yang bakal terjadi pada 21 Desember 2012.

Pada manuskrip peninggalan suku yang dikenal menguasai ilmu falak dan sistem 
penanggalan yang akurat ini, disebutkan pada waktu itu akan muncul gelombang 
galaksi yang besar sehingga mengakibatkan terhentinya semua kegiatan di muka 
Bumi ini.

Di luar ramalan suku Maya yang belum diketahui dasar perhitungannya, menurut 
Deputi Bidang Sains Pengkajian dan Informasi Kedirgantaraan, Lembaga 
Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Bambang S Tedjasukmana, fenomena 
yang dapat diprakirakan kemunculannya pada sekitar tahun 2011-2012 adalah badai 
Matahari. Prediksi ini berdasarkan pemantauan pusat pemantau cuaca antariksa di 
beberapa negara sejak tahun 1960-an dan di Indonesia oleh Lapan sejak tahun 
1975.

Dijelaskan, Sri Kaloka, Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Antariksa Lapan, badai 
Matahari terjadi ketika muncul flare dan Coronal Mass Ejection (CME). Flare 
adalah ledakan besar di atmosfer Matahari yang dayanya setara dengan 66 juta 
kali ledakan bom atom Hiroshima. Adapun CME merupakan ledakan sangat besar yang 
menyebabkan lontaran partikel berkecepatan 400 kilometer per detik.

Gangguan cuaca Matahari ini dapat memengaruhi kondisi muatan antariksa hingga 
memengaruhi magnet Bumi, selanjutnya berdampak pada sistem kelistrikan, 
transportasi yang mengandalkan satelit navigasi global positioning system (GPS) 
dan sistem komunikasi yang menggunakan satelit komunikasi dan gelombang 
frekuensi tinggi (HF), serta dapat membahayakan kehidupan atau kesehatan 
manusia. "Karena gangguan magnet Bumi, pengguna alat pacu jantung dapat 
mengalami gangguan yang berarti," ujar Sri.

Langkah antisipatif

Dari Matahari, miliaran partikel elektron sampai ke lapisan ionosfer Bumi dalam 
waktu empat hari, jelas Jiyo Harjosuwito, Kepala Kelompok Peneliti Ionosfer dan 
Propagasi Gelombang Radio. Dampak dari serbuan partikel elektron itu di kutub 
magnet Bumi berlangsung selama beberapa hari. Selama waktu itu dapat dilakukan 
langkah antisipatif untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan.

Mengantisipasi munculnya badai antariksa itu, lanjut Bambang, Lapan tengah 
membangun pusat sistem pemantau cuaca antariksa terpadu di Pusat Pemanfaatan 
Sains Antariksa Lapan Bandung. Obyek yang dipantau antara lain lapisan ionosfer 
dan geomagnetik, serta gelombang radio. Sistem ini akan beroperasi penuh pada 
Januari 2009 mendatang.

Langkah antisipatif yang telah dilakukan Lapan adalah menghubungi pihak-pihak 
yang mungkin akan terkena dampak dari munculnya badai antariksa, yaitu 
Dephankam, TNI, Dephub, PLN, dan Depkominfo, serta pemerintah daerah. Saat ini 
pelatihan bagi aparat pemda yang mengoperasikan radio HF telah dilakukan sejak 
lama, kini telah ada sekitar 500 orang yang terlatih menghadapi gangguan sinyal 
radio.

Bambang mengimbau PLN agar melakukan langkah antisipatif dengan melakukan 
pemadaman sistem kelistrikan agar tidak terjadi dampak yang lebih buruk. Untuk 
itu, sosialisasi harus dilakukan pada masyarakat bila langkah itu akan diambil.

Selain itu, penerbangan dan pelayaran yang mengandalkan satelit GPS sebagai 
sistem navigasi hendaknya menggunakan sistem manual ketika badai antariksa 
terjadi, dalam memandu tinggal landas atau pendaratan pesawat terbang.

Perubahan densitas elektron akibat cuaca antariksa, jelas peneliti dari PPSA 
Lapan, Effendi, dapat mengubah kecepatan gelombang radio ketika melewati 
ionosfer sehingga menimbulkan delai propagasi pada sinyal GPS.

Perubahan ini mengakibatkan penyimpangan pada penentuan jarak dan posisi. 
Selain itu, komponen mikroelektronika pada satelit navigasi dan komunikasi akan 
mengalami kerusakan sehingga mengalami percepatan masa pakai, sehingga bisa tak 
berfungsi lagi.

Saat ini Lapan telah mengembangkan pemodelan perencanaan penggunaan frekuensi 
untuk menghadapi gangguan tersebut untuk komunikasi radio HF. "Saat ini tengah 
dipersiapkan pemodelan yang sama untuk bidang navigasi," tutur Bambang.



http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/11/26/02124273/isu.kiamat.tahun.2012.yang.meresahkan

Kirim email ke