ABOUT THE AUTHOR

Yayat Suratmo <http://www.kabarinews.com/authorPage.cfm?authorID=155> 

 

 

 

Email:
[email protected] <mailto:[email protected]>  

 

 

Credit - RCTI 

ABOUT THE AUTHOR

 

Yayat Suratmo  

 

 

 

Email:

[email protected]  

 

 

Bocah perempuan yang tetap ceria dan senang bermain sepeda ini memiliki
ciri fisik seperti kera.  Sekujur tubuhnya dipenuhi bulu, bagian rahang
tampak menjulang ke depan mirip kera. Menurut penuturan Fatma, ibunya,
ketika mengandung Septi, Fatma tak mengalami kejadian atau gejala aneh.
Dia memang mengakui bahwa saat mengandung putri keduanya itu, dirinya
ngidam memakan buah-buahan. Menurut warga sekitar, saat itulah dia kerap
dikatakan ayahnya anak monyet.

Berbeda dengan  kakak dan adiknya yang berfisik normal, fisik Septi
memang mirip kera. Bahkan Fatma menuturkan saat Septi kecil dan sudah
bisa berjalan, dia lebih senang merangkak. "Sejak itu saya mengajarinya
untuk berjalan seperti manusia biasa, saya biasakan terus seperti itu,
hingga seperti sekarang (berjalan normal-red)." kata Fatma.Septi sempat
dibawa ke dokter untuk diperiksa. Namun, menurut dokter sang anak memang
sudah memiliki kelainan genetik sejak lahir. "Pernah diabwa ke dokter,
tapi kata dokter tidak apa-apa, ini memang sudah bawaan dari perut."
kata Fatma lagi saat diwawancara wartawan pada Maret lalu.

Meski memiliki penampilan fisik demikian, Septi tidak diperlakukan beda
oleh teman-temannya. Septi bisa bermain layaknya orang normal, bahkan
kemampuan intelektual anak kelas dua SD ini tidak kalah dengan
murid-murid lainnya. Sejauh ini Septi tumbuh normal seperti layaknya
anak-anak seusianya. 

Tertarik dengan kelainan yang dimiliki Septi, pada pertengaharn Maret,
Septi dikunjungi Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Gorontalo di
rumahnya. Dokter dari Dinkes itu  mengumpulkan seluruh data pribadi
serta mencatat kelainan yang dimiliki Septi  "Kami baru sekadar
mengumpulkan data dan selanjutnya akan melaporkan kembali kasus ini ke
Departemen Kesehatan," ujar Kepala Dinkes Provinsi Gorontalo, Suhardi
Nur.

Menurutnya, kasus tersebut sebelumnya telah dilaporkan oleh Dewan
Kesehatan Rakyat (DKR) Provinsi Gorontalo, kepada Menteri Kesehatan
beberapa waktu lalu. Suhardi juga mengatakan bahwa Menteri Kesehatan
meminta Dinkes untuk mengecek langsung dan membawa Septi ke Jakarta
untuk diperiksa dan diteliti secara menyeluruh di Jakarta. "Sesuai
dengan instruksi dari Menteri Kesehatan," kata Suhardi.

Namun agar tak mengganggu jadwal sekolah Septi, Dinkes baru akan membawa
Septi ke Jakarta pada bulan Juni dan Juli ini, bertepatan dengan liburan
sekolah.

 

<<image001.jpg>>

Kirim email ke