MENGAPA MALAYSIA?

Oleh Edy Prasetyono
http://koran. kompas.com/ read/xml/ 2009/08/26/ 02582973/ mengapa.malaysia

Sebagian kalangan masyarakat Malaysia kembali berulah. Kali ini tari pendet 
dari Bali menjadi targetnya.

Sebelumnya, mereka mendaku reog, angklung, batik, rendang, wayang, Ambalat, dan 
lagu ”Rasa Sayange” sebagai miliknya. Buku- buku kuno sastra Melayu juga 
menjadi incaran mereka. Inilah serangan frontal nirmiliter yang ditujukan 
kepada kebudayaan dan identitas bangsa Indonesia.

Langkah mereka sungguh luar biasa. Tidak pernah terjadi, dalam waktu relatif 
singkat, sebagian kalangan dari suatu negara mendaku secara bertubi-tubi 
terhadap kekayaan budaya masyarakat negara tetangganya yang sering 
dininabobokan dengan sebutan bangsa serumpun.

Masyarakat Indonesia yang sering dianggap sebagai saudara tua benar-benar 
terlihat letih sehingga sering dipermainkan oleh sebagian saudara mudanya yang 
tidak mengenal etika pergaulan antarbangsa dengan mengklaim kepunyaan orang 
lain. Entah apa yang terjadi dengan Malaysia.

Sebagian dari kami telah kehilangan kepercayaan kepada mereka sejak ketegangan 
Ambalat dan TKI justru saat Indonesia dihantam bencana tsunami.

Identitas bangsa

Tampaknya banyak orang Malaysia memang bermasalah dalam hal identitas bangsa. 
Kemajuan ekonomi yang dicapai tidak dibarengi pembentukan identitas budaya. 
Dari segi kultural, mereka adalah keturunan para nenek moyangnya yang berasal 
dari Sumatera dan sebagian dari Sulawesi (Bugis). Tidak ada kekhasan yang asli 
Malaysia yang dapat dibanggakan di tengah keberhasilannya dalam bidang ekonomi.

Mereka merasa tidak komplet menjadi bangsa tanpa identitas budaya. Mungkin ada 
rasa kehilangan identitas yang sangat dalam, yang secara tidak sadar mendorong 
mereka untuk mengklaim sebagai bangsa yang benar- benar Asia, the trully Asia, 
tetapi tetap tidak berakar secara lokal/ asli.

Bangsa hanya akan menjadi besar jika mempunyai identitas kuat. Identitas ini 
juga sering berguna ketika bangsa itu dihadang kesulitan. Ini yang menjelaskan 
mengapa krisis politik dan ekonomi yang hebat tidak mampu meruntuhkan Indonesia 
sebagai negara dan bangsa.

Negara dan bangsa tidak dapat hanya mengandalkan aspek fisik. Negara mempunyai 
dua properti identitas, yaitu fisik dan nonfisik. Properti fisik, misalnya, 
adalah wilayah, penduduk, kekayaan alam, dan sebagainya. Properti nonfisik 
adalah nilai, kebudayaan, norma-norma, dan kohesi sosial.

Jika ditanyakan apa identitas kebangsaan Malaysia? Mungkin jawabnya adalah 
Melayu-Islam. Namun, ini bukan monopoli mereka. Inilah krisis identitas yang 
mereka hadapi. Suatu krisis yang menjadikan mereka agresif karena kepercayaan 
diri yang besar, karena kemajuan ekonomi yang mereka raih.

Inferior kompleks

Selain itu, mungkin sebagian masyarakat Malaysia mengalami inferior kompleks 
yang luar biasa tanpa mereka sadari akibat pengekangan berekspresi di negara 
ini. ISA (Internal Security Act) masih menjadi belenggu politik dan hukum di 
Malaysia. Kreativitas tidak tumbuh.

Sebenarnya, lagu-lagu Indonesia jauh lebih laris daripada lagu- lagu Malaysia. 
Kebebasan pers dan akademis di Indonesia jauh lebih besar daripada di Malaysia. 
Konsep-konsep dan pemikiran kita tentang nasionalisme dan kemerdekaan jauh 
mendahului mereka, bahkan termasuk yang paling awal di kalangan pergerakan 
bangsa-bangsa terjajah, yaitu tahun 1908 dan 1928. Secara terus-menerus 
nilai-nilai ini terinternalisasi menjadi dorongan besar untuk melakukan 
reformasi dan demokratisasi di Indonesia yang digerakkan oleh para pemuda dan 
mahasiswa.

Prestasi besar

Karena itu, saya sering menegaskan dalam berbagai kesempatan, Indonesia 
mempunyai prestasi luar biasa besar, terlepas dari krisis yang telah melanda 
negeri ini. Pertama, prestasi demokrasi membuat kita tegak sebagai bangsa 
beradab dalam pergaulan internasional. Ini membuat kita amat bangga sebagai 
anggota keluarga besar Indonesia yang kini tidak boleh menundukkan kepala 
sebagai bangsa paria dalam masalah demokrasi dan HAM. Hal itu kita tunjukkan 
dalam sikap progresif para diplomat Indonesia dalam perdebatan tentang HAM 
ASEAN.

Kedua, kita mewarisi kekayaan kebudayaan yang indah dan beragam, yang membuat 
beberapa bangsa lain mungkin ngiri sampai harus mendaku kebudayaan kita. 
Kebudayaan strategis kita juga amat hebat sebagai salah satu dari tiga negara 
(Indonesia, Aljazair, dan Vietnam) yang melakukan perang kemerdekaan melawan 
penjajah seusai Perang Dunia II.

Ketiga, prestasi membentuk bangsa Indonesia yang terdiri dari ratusan suku dan 
bahasa-bahasa daerah. Yes, we are Indonesian.

Harus tegas

Klaim-klaim kebudayaan Indonesia oleh beberapa kalangan di Malaysia memang 
sebagian dibuat oleh nonpemerintah. Namun, bahwa itu terjadi berulang kali 
menunjukkan Pemerintah Malaysia terkesan membiarkan. Dan membiarkan adalah 
berarti ”merestui” hal itu.

Apa pun yang terjadi, kita dan pemerintah harus tegas terhadap Malaysia.


Edy Prasetyono Dosen pada Departemen Hubungan Internasional, FISIP, Universitas 
Indonesia, Depok


Kirim email ke