KOLOM OLAHRAGA
Mimpi Buruk Piala Dunia
Kamis, 10 September 2009 | 03:13 WIB

Oleh ANTON SANJOYO

Apa jadinya Piala Dunia tanpa Argentina? Jawaban pastinya, sebuah mimpi buruk! 
Seperti kata Kaka, bintang Brasil yang kini bermain untuk Real Madrid, Piala 
Dunia adalah pesta bola paling agung yang harus diikuti tim-tim terbaik di 
dunia. "Piala Dunia tanpa Argentina pastilah bukan pesta yang meriah," ujar 
Kaka.

Namun, seperti kekhawatiran semua pencinta sepak bola, kita barangkali akan 
kehilangan indahnya tarian tango di Piala Dunia mendatang di Afrika Selatan 
(Afsel). Saat tulisan ini dicetak, Argentina sedang berjuang mempertahankan 
peluang ke Afsel dengan melawan tuan rumah Paraguay di Stadion Defensores del 
Chaco, Asuncion.

Sepanjang ingatan kita pada kehebatan sepak bola Argentina, tidak akan pernah 
terbayangkan Piala Dunia tanpa mereka. Selama 40 tahun terakhir, ajang olahraga 
terbesar bagi umat manusia itu selalu dihebohkan oleh energiknya tarian tango, 
dan tentu saja rancaknya goyangan samba Brasil.

Ironisnya, semua kekhawatiran ini bermula dari Diego Armando Maradona, legenda, 
pahlawan, bahkan manusia yang disetarakan dengan dewa oleh orang Argentina. 
Sejak secara mengejutkan ditunjuk sebagai pelatih tim nasional, November tahun 
lalu, Argentina tiga kali kalah dari lima laga kualifikasi Piala Dunia, di 
antaranya dihancurkan Bolivia, 1-6, di ketinggian kota La Paz. Dan kekalahan 
1-3 melawan Brasil di Rosario, Sabtu lalu, membuat tim Maradona berada di tubir 
jurang.

Bayang-bayang Piala Dunia tanpa kehadiran Argentina segera mengambang di 
pelupuk mata.

Sebagai pemain, "kedewaan" Maradona yang tumbuh di wilayah kumuh di Buenos 
Aires itu tak perlu dipertanyakan lagi. Namun, sebagai pelatih, reputasi 
Maradona memang meragukan. Dia hanya punya pengalaman seujung kuku saat 
menangani klub tingkat provinsi Deportivo Mandiyu, sebelum melatih Racing Club, 
juga klub medioker.

Banyak orang mengernyitkan alisnya saat Presiden Asosiasi Sepak Bola Argentina 
Julio Grondona memintanya menangani tim "Tango". Reputasi Maradona sebagai 
pemakai kokain dan beberapa kali masuk rumah sakit khusus penderita stres 
membuat keraguan makin menyeruak. Sebagian khawatir, tingkat tekanan yang 
intens sebagai pelatih timnas akan memicu kembalinya Maradona ke masa-masa 
suram seperti beberapa tahun lalu.

Namun, Grondona bergeming. Dia hanya menunjuk Carlos Bilardo untuk mendampingi 
Maradona yang masih menderita obesitas sampai sekarang. Bilardo adalah pelatih 
yang bersama sang kapten Maradona memenangi Piala Dunia 1986 di Meksiko. Namun, 
Bilardo tak bisa berbuat banyak. Aksesnya ke pemain sangat dibatasi. Maradona 
tetap menjadi nakhoda utama pasukan Tango. Sejak berkuasa, Maradona mencoba tak 
kurang dari 62 pemain dan tak kunjung menemukan formasi paling ideal.

Sebagai "dewa", Maradona tak bisa dibantah meski secara pribadi dia sangat 
dekat dengan pemain-pemainnya. Dia kemudian berseteru dengan Juan Roman 
Riquelme, playmaker dan salah satu gelandang paling berpengalaman. Riquelme 
mengkritik gaya permainan arahan Maradona yang tidak sesuai dengan karakter 
cepat dan keras khas Argentina. Riquelme kemudian mundur dari timnas dan 
bersumpah tak ingin lagi bergabung selama Maradona masih berkuasa.

Namun, kehilangan Riquelme bukanlah masalah yang teramat rumit bagi Maradona 
dan juga Argentina. Dengan segudang pemain berkualitas tinggi di tiap lini, 
mereka tak seharusnya berada dalam posisi genting seperti sekarang.

Sebenarnya ini bukan kali pertama nasib Argentina begitu gawat. Tahun 1985, 
Argentina hanya ditolong gol menit terakhir saat menahan imbang Peru, 2-2, pada 
laga akhir kualifikasi. Mereka kemudian lolos dari lubang jarum untuk menjadi 
juara di Meksiko 1986. Di ajang itu, Maradona tampil memukau, mengecoh lima 
pemain Inggris, termasuk kiper Peter Shilton, setelah sebelumnya mencetak gol 
"Tangan Tuhan" yang fenomenal.

Tahun 1990, Maradona kembali menjadi tokoh sentral di tim Tango. Ia memancing 
kemarahan publik Italia setelah mengalahkan pasukan "Azzurri" di semifinal di 
Stadion San Paolo, Napoli. Uniknya, kala itu penonton San Paolo lebih "memihak" 
Argentina ketimbang Italia. Maklum, Maradona sudah menjadi "Santo", orang suci 
bagi penduduk Napoli. Maradona dan timnya kemudian "dikerjai" pada laga final 
dan kemenangan direbut Jerman.

Tahun 1994, Argentina kembali dalam kondisi kritis pada kualifikasi. Maradona 
yang praktis sudah pensiun diminta kembali ke tim untuk laga play-off melawan 
Australia. Terbukti Maradona kemudian menjadi penyelamat dan meloloskan 
Argentina ke putaran final di Amerika Serikat.

Di AS, tim Argentina terguncang hebat. Menjelang laga terakhir kualifikasi 
grup, Maradona terbukti menggunakan doping. Ia dikeluarkan dari tim, tetapi 
reputasinya sebagai pemain genius tak pernah pudar. Bahkan, setelah bolak-balik 
dirawat akibat kecanduan obat bius, nama Maradona tetap diucapkan dengan penuh 
rasa hormat. Di Buenos Aires, terutama di wilayah-wilayah kumuh, gambar wajah 
dan kostum nomor 10-nya mudah ditemukan di setiap sudut jalan.

Maka, meskipun mimpi buruk Piala Dunia 2010 benar-benar terjadi, reputasi 
Maradona tak akan pernah hancur. Kehebatannya di lapangan hijau selalu menjadi 
penyelamatnya. Kalaupun Argentina untuk pertama kalinya dalam 40 tahun absen di 
Piala Dunia, Maradona tetaplah sang idola. Sementara itu, jika Argentina bisa 
lolos ke Afsel, apalagi kemudian menjadi juara, itu semua hanyalah konfirmasi 
akan "kedewaan" Maradona.

Kita hanya berharap mimpi buruk Piala Dunia tanpa Argentina tidak akan pernah 
terjadi.



http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/10/0313287/mimpi.buruk.piala.dunia

Kirim email ke