Pengantar :

Artikel dibawah ini diambil dari Harian Media Indonesia, Sabtu 24 Oktober 2009. 
Sekedar tambahan :
Di artikel ini diungkapkan pedagang untuk menaikkan harga barang ketika menjual 
kembali, padahal tidak semua produk menggunakan sistem seperti itu. Ada yang 
dengan memberikan diskon bagi mereka yang belanja untuk dijual kembali, 
menggunakan harga distributor untuk produk seperti Air Oxy misalnya atau 
walaupun tidak dengan memberikan diskon, harganya memang harga untuk retailer 
seperti yang selama ini saya dapatkan ketika membeli barang-barang untuk dijual 
di warung saya di rumah.

So ... jadi tidak semata-semata dengan menaikkan harga beli. Kalender 2010 yang 
saya tawarkan juga misalnya harganya sama dengan Toko Buku Gramedia dan Gunung 
Agung, jadi untuk pedagang mendapat diskon (yang besarnya tergantung pembelian).

Semoga bemanfaat.

wassalam / agus rasyidi

======================================================


Berdagang, Jalan Menjadi Pewirausaha

Banyak pengusaha besar (konglomerat) di Indonesia pada mulanya berkarier 
sebagai pedagang atau penjual. Liem Sio Liong, ketika pertama berbisnis di 
Indonesia dan menginjakkan kaki pertama di Semarang dari China Daratan, awalnya 
juga mulai berdagang dengan kebutuhan pokok di Jawa Tengah.

William Suryajaya, pendiri Astra, bisnis awalnya adalah pedagang dan memasok 
kebutuhan beberapa instansi pemerintah. Awalnya mereka tidak punya produk 
buatan sendiri. Keluarga Katuari pendiri Group Wing awalnya juga pedagang sabun 
sebelum akhirnya sukses membangun industri sabun sendiri.

Namun banyak orang yang bingung ketika hendak memulai jadi pewirausaha 
(entrepreneur). Belum apa-apa, mereka sudah membayangkan yang berat-berat, 
seperti harus punya modal dan bisa membuat produk sendiri.

Kalau memulai usaha harus memikirkan tingkatan seperti itu memang berat. Banyak 
orang yang tidak tahu bahwa sesungguhnya berdagang adalah langkah bagus untuk 
memulai usaha.

Berdagang prosesnya lebih mudah, kita tidak perlu memikirkan produksi. Yang 
kita perlu pikirkan hanya pemasaran. Kita membeli produk dari pihak tertentu 
dan kemudian menjualnya ke pihak lain dengan harga yang lebih tinggi agar 
mendapatkan margin untung. Berdagang adalah media pembelajaran entrepreneur 
yang sangat baik dan sederhana yang akan mengajari kita untuk membedakan mana 
biaya modal dan mana untung.

Kuncinya kita cukup dengan cara menjual lebih tinggi barang dagangan kita, 
dibanding harga beli plus biaya transpor. Kita bisa mengoptimalkan keuntungan 
dari aspek tempat dan waktu. Misal semangka yang di Yogyakarta atau Jawa Tengah 
harganya rendah, tapi karena faktor tempat, saat di jual di Jakarta, harganya 
bisa dua kali lipat. Kalau kita menjual semangka tersebut satu truk, laba 
bersihnya bisa Rp 1 juta per sekali kirim.

Demikian juga kedelai, tempurung kelapa, bawang merah dan lain-lain yang di 
daerah tertentu amat murah, di tempat lain harganya bisa berlipat-lipat. Di 
Brebes bawang merah cuma Rp 8 ribu / kg, dibawa ke Jakarta yang hanya enam jam 
perjalanan, harganya sudah dua kali lipat.

Tidak usah jauh-jauh, Anda bisa saja beli pakaian jadi di Pasar Tanah Abang, 
Pasar Pagi (Mangga Dua) atau Pasar Cipulir yang harganya cuma Rp 20 ribu per 
potong, begitu barang tersebut ada di sekitar Anda, harganya bisa Rp 50 ribu.

Pedagang juga bisa mencari benefit dari waktu. Ketika musim padi kita beli 
gabah sebanyak-banyaknya karena harga murah. Lalu kita simpan di gudang 3-4 
bulan, sekalian mengeringkan gabah, lalu kita giling dan dijual di saat musim 
non panen. Harga di saat non panen biasanya lebih mahal. Di saat panen bahkan 
sering barang dibuang-buang, namun di saat tidak panen barang itu menjadi 
bernilai. Anda mau mencoba menjadi pedagang ?

sumber : harian Media Indonesia

Kirim email ke