Semoga kita bisa mengambil hikmah dari artikel ini.

        -- A. Yahya Sjarifuddin

Kemewahan yang Menggoda Senayan

Senin, 16 November 2009 | 03:15 WIB

Sutta Dharmasaputra

Tidak mudah menjadi wakil rakyat. Baru sebulan duduk di Senayan, godaan 
sudah datang segunduk. Pendirian yang tak benar-benar kuat, pragmatisme 
bisa melumat. Kesederhanaan tidak laku, kemewahan malah nomor satu.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah dari Provinsi Gorontalo, Elnino Mohamad 
Husein Mohi, merasakan itu. Belum sampai sebulan dilantik, aktivis dan 
bekas wartawan itu mengaku sudah mendapatkan banyak cobaan.

Oleh karena belum memiliki mobil, sebulan ini ia datang ke gedung 
DPR/DPD/MPR di Senayan dengan taksi. Pengalaman menarik pun dialaminya. 
Begitu taksi masuk pos penjagaan, seorang petugas langsung 
menghentikannya. ?Mau ke mana, Pak?? tanya petugas. ?Saya mau ke DPD,? 
ujar Elnino.

Petugas itu lalu bertanya lebih jauh, ?Ada keperluan apa?? Elnino pun 
menjawab, ?Mau rapat, Pak.?

Tak mengira Elnino sebagai anggota DPD, petugas itu pun langsung 
memerintahkan taksi itu segera parkir. ?Mobil tamu di sebelah sini 
parkirnya, Pak,? kata petugas itu.

Dengan sangat terpaksa, akhirnya Elnino pun menunjukkan pinnya. ?Saya 
mau sidang, Mas,? ucapnya.

Petugas itu langsung memberi hormat dan mempersilakan taksinya masuk. 
?Jadi, cuma pin kecil ini yang dihormati di Senayan,? kata Elnino, 
sambil tertawa, saat berbincang-bincang dengan Kompas di kediamannya, 
pekan lalu.

Pengalaman pahit itu bukan hanya terjadi sekali. Saat hendak mengisi 
daftar hadir untuk Rapat Paripurna MPR, seorang petugas pun mengira 
dirinya sebagai staf ahli karena tidak berjas. ?Dari provinsi mana? 
Namanya siapa? Mana bapaknya?? ucap petugas itu.

Elnino yang bergelar master manajemen politik dari Universitas Indonesia 
itu pun langsung menjawab ringan. ?Saya ini memang tidak ada tampang 
jadi pejabat, ya?? ujarnya.

Sang petugas pun langsung memohon maaf.

Saat mengurus uang tiket untuk pelantikan MPR lebih lucu lagi. Karena 
mengurus administrasi sendiri, begitu hendak menandatangani tanda 
terima, petugas langsung bertanya kepadanya. ?Bawa surat kuasanya, Pak,? 
tanya petugas itu.

Menurut Elnino, kalau pada masa lalu syarat seorang menjadi pemimpin itu 
harus berkorelasi dengan kecerdasan dan akhlak, saat ini tampaknya sudah 
berubah. ?Sekarang itu rupanya harus berbanding lurus dengan kekayaan,? 
ujarnya sambil tertawa.

Tuntutan penampilan pun dirasakan anggota DPR dari Partai Kebangkitan 
Bangsa (PKB), Abdul Malik Haramain. ?Jika dulu tidak berjas, sekarang 
mau tidak mau harus berjas,? ucapnya. Ia sebelumnya menjadi staf ahli di 
DPR.

Oleh karena pada masa kampanye Pemilu 2009 ia harus menjual mobil sedan 
tuanya sebagai modal, gaji pertamanya pun akan digunakan untuk membeli 
mobil. Tentunya, tidak lagi membeli sedan tua, tetapi Honda Stream.

Menurut Malik, ia pun harus menggunakan penghasilan yang diterimanya 
dengan sebaik-baiknya karena proposal pun langsung menumpuk. Tanggung 
jawab makin besar.

Seperti halnya Malik, Elnino pun berencana mengkredit mobil Toyota 
Innova. Tetapi, godaan juga datang. Seorang rekannya mendorong dirinya 
untuk membeli mobil lebih mewah karena kini menjadi tokoh nasional.

?Dinda kamu itu pintar. Cuma kita ini, kan, sudah jadi tokoh nasional. 
Nanti kita cari duitlah. Nanti kita cari proyek kebijakan Rp 100-an 
miliar. Cuma kalau urus itu harus berubah penampilan, dong. Pakai 
Fortuner-lah, masak Innova,? papar Elnino, yang saat ini masih tinggal 
di Asrama Mahasiswa Gorontalo di Jalan Salemba Tengah, Jakarta.

Penentuan diri

Menghadapi godaan itu, 560 anggota DPR dan 132 anggota DPD mempunyai 
banyak pilihan, apakah akan tergerus pada gaya kemewahan atau 
membudayakan kesederhanaan. Pasalnya, fasilitas yang diberikan negara 
memang besar.

Penghasilan rutin yang diterima anggota DPR tahun 2009, berdasarkan 
catatan Badan Urusan Rumah Tangga (BURT), hampir Rp 60 juta per bulan. 
Gaji pokok dan tunjangan, setelah dikurangi berbagai potongan pajak, 
mencapai Rp 16,17 juta; penerimaan tunjangan lain-lain Rp 43,6 juta. 
Jumlah ini di luar tunjangan reses, kunjungan kerja, rapat di luar kota, 
dan pembuatan undang-undang.

Penghasilan anggota DPD pun kurang lebih sama besar. Uang kehormatan 
sekitar Rp 31 juta, tunjangan perumahan Rp 13 juta, dan tunjangan 
komunikasi Rp 8 juta. ?Sekitar Rp 60 jutaan. Kalau ditambah dengan 
tunjangan kunjungan kerja, bisa lebih dari Rp 70 juta,? tutur seorang 
anggota DPD.

Kalau memasuki areal parkir di Senayan periode sebelumnya memang terasa 
seperti ruang pajang mobil. Segala mobil mewah berjajar mentereng. 
Seorang doktor dari Malaysia yang belum lama ini datang ke Indonesia pun 
sempat terheran-heran karena di Jakarta ini banyak sekali mobil mewah. 
Padahal, negara ini punya utang 1,5 kali dari APBN.

Malik pun berpendapat, gaya hidup anggota Dewan pada akhirnya ditentukan 
oleh masing-masing. Ia mencontohkan seniornya, Effendy Choirie, yang, 
meski sudah beberapa periode menjadi anggota DPR, tidak bermewah-mewah. 
?Choirie dari dulu mobilnya, ya, itu-itu saja,? ucapnya sambil tertawa.

Elnino punya cara lain untuk menjaga agar dirinya tidak larut pada 
tekanan pragmatisme. Dia menyerahkan semua penghasilan kepada Tim 
Sembilan. Tim itu yang menentukan berapa banyak yang layak digunakan 
dirinya dan berapa banyak untuk program konstituen. Pada bulan pertama 
ini, Elnino pun disepakati hanya menerima Rp 20 juta dari Rp 60 juta 
yang dia terima.

Menurut Elnino, gaji yang diterima anggota Dewan memang harus digunakan 
untuk kemakmuran rakyat karena gaji itu sesungguhnya berasal dari utang.

Berapa lama idealisme ini akan bertahan? Elnino tersenyum. ?Paling 
tidak, sebulan ini belum terkikis,? ujarnya.

Presiden pertama Amerika Serikat George Washington pernah mengatakan, 
setiap pemimpin harus mengalami proses penentuan diri. Pemimpin sejati 
melangkah pada jalurnya.

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/11/16/0315434/kemewahan.yang.menggoda.senayan
 

----- End forwarded message -----

--------------------------------------------------
Official Mailing List: Porsenipar ke IV Tahun 2007 
-=== Perumahan BDB2 dan BDB3, Cibinong, Bogor ===-
-= Menjiwai Semangat Kebangsaan dengan Prestasi =-

| Official Website: http://www.porsenipar.web.id |
------- Porsenipar Media Center: 6849-6001 -------

Kirim email ke