Perdagangan bebas (FTA) dengan China sudah diberlakukan per 1 Januari 2010. 
Perilaku tipikal chinese yang demikian rupa menjadikannya kelihatan demikian 
heboh termasuk pendapat bahwa sebagian mereka (maaf) termasuk asosial. Padahal 
sisi positifnya juga banyak termasuk etos kerjanya. Pada saat "masih susah" dia 
mau kerja apa saja. Tapi dia juga "bisa bekerja" pada level atasnya pada saat 
bisnisnya itu mulai besar. Kalau kita lihat boznya PT Sido Muncul, dia itu 
nyantai saja meskipun sudah mengungguli industri sejenis seperti PT Air Mancur 
dan PT Jamu Jago.

Soal FTA ini, yang sudah berlaku sebelumnya adalah FTA dengan New Zealand, 
Korea, dan Jepang. Tapi dengan mereka tidak terjadi "over expose" terutama yang 
dilakukan oleh media penyaran.

Just for refresh ....

Wass / Jaerony.-

*****************************************************

Kondom pada awalnya dimaksudkan sebagai salah satu alat kontrasepsi untuk 
tujuan menghalangi terjadinya pertemuan antara sperma dengan sel telur pada 
saat coitus sehingga tidak terjadi pembuahan.

Penggunaan kondom sudah lama dikenal oleh manusia. Konon di Mesir, berdasarkan 
lukisan kuno, kondom ini sudah ada sejak 3.000 tahun silam. 

Juga menurut cerita, sarung penis ini sudah dikenal di Jepang sejak tahun 
1.500-an. Begitu pun menurut di legenda Ynani sudah di kenal istilah kandung 
kemih kambing digunakan sebagai alat untuk tujuan protektif pada saat melakukan 
senggama.

Saat sekarang, kondom telah mengalami pergeseran juga perluasan dari maksud dan 
fungsi serta tujuan penggunaannya. Kondom oleh beberapa kalangan ahli medis 
telah dipromosikan sebagai salah satu alat ampuh, agar tetap nyaman dan aman 
dalam melakukan praktek perilaku seks bebas.

Kondom, saat ini tak lagi diproduksi untuk pemakai pria, tapi juga ada yang 
diproduksi untuk pemakai wanita. Produksi pun telah dilakukan secara massal, 
dan pengguna kondom juga telah meningkat dengan pesat. 

Berkaitan dengan cerita soal kondom ini, ada satu cerita menarik yang 
berhubungan dengan Republik Rakyat China.

Raksasa baru ekonomi dunia ini, dalam kaitan dengan kondom ini, telah dengan 
cerdik menggabungkan antara kreativitas inovasi produk dengan kelebihan jumlah 
populasinya sebagai salah satu modal tak tersaingi, untuk mendukung keunggulan 
komparatif bagi produk industrinya. 

Konon menurut kabar, industri barang pernak-pernik di RRC ini telah 
memanfaatkan kondom bekas pakai sebagai bahan bakunya. Kondom bekas pakai ini, 
diolah kembali selanjtnya diproduksi menjadi berbagai barang pernak pernik yang 
salah satu misalnya adalah pengikat rambut wanita.

Kondom bekas pakai ini dibersihkan, selanjutnya ada yang di potong-potong 
secara melintang untuk menghasilkan karet gelang yang kemudian dipasarkan 
sebagai karet kunciran pengikat rambut wanita. 

Selainnya itu, sebagian dimanfaatkan sebagai karet pelentur yang digabungkan 
dengan sisa-sisa kain perca, untuk menghasilkan produk pengikat rambut wanita 
berbahan kain dengan beraneka bentuk yang menarik. 

Hasilnya menjadikan harga jual produk pengikat rambut wanita hasil produksi 
mereka menjadi sangat murah, yang terkadang menjadi seperti tidak masuk akal. 
Dimana jika dihitung-hitung, harga jualnya itu tak sebanding dengan harga bahan 
bakunya secara harga normal.

Terlepas dari benar atau tidaknya cerita diatas. Sesungguhnya ada sisi yang 
dapat diambil sebagai pelajaran berharga bagi Indonesia. Paling tidak ada 
beberapa hal yang patut direnungkan, diantaranya adalah :

Pertama, inovasi dan kreativitas dalam memanfaatkan barang-barang yang dianggap 
sebagai limbah untuk bahan baku industrinya. 

Lantaran barang limbah, maka boleh dibilang harganya sudah tidak ada lagi. 
Boleh dibilang, secara sederhananya, hanya ongkos memulungnya saja yang 
dihitung sebagai harga bahan baku tersebut.

Kedua, pemanfaatan keunggulan yang dimilikinya, dalam hal ini adalah jumlah 
populasi penduduknya. 

Mungkin tingkat pemakaian kondom per kapita di RRC lebih rendah dibandingkan 
negara-negara di Eropa atau Amerika, namun karena jumlah penduduknya yang luar 
biasa banyak, maka secara total nasional tentu menghasilkan jumlah yang banyak.

Anggaplah, di RRC hanya satu dari sepuluh penduduknya yang memakai kondom, 
sedangkan salah satu negara di Eropa tingkat pemakaian kondomnya mencapai enam 
dari sepuluh penduduknya. Tetap saja RRC lebih banyak jumlah akhirnya, karena 
jika sepuluh prosen dikalikan satu milyar penduduk berarti sama dengan seratus 
juta. Sedangkan enam puluh prosen dikalikan lima puluh juta penduduk hanya 
menghasilkan tiga puluh juta saja. 

Ketiga, kejelian dan kemauan dalam memanfaatan sumber bahan baku dan sumber 
daya nasionalnya secara semaksimal mungkin untuk mendukung kepentingan industri 
dalam negerinya.

Sumber bahan baku yang melimpah tadi dipakai seluruhnya oleh industri dalam 
negeri RRC. Sampai saat ini, belum ada kabar bahwa pemerintah RRC mempunyai 
kebijakan yang mendorong peningkatan keran ekspor kondom bekas pakai dalam 
wujud aslinya.

Justru yang terjadi, pasar Indonesia dan pasar negara-negara lainnya yang 
dibanjiri oleh produk pengikat rambut produksi RRC dengan harga jual yang 
nyaris tak masuk akal.

Terlepas dari benar atau tidaknya cerita diatas, timbul rasa was-was dan 
khawatir jika hal berkebalikannya malahan yang terjadi di Indonesia. 

Walau tak serupa namun bisa jadi ada kaitan logikanya. Salah satu contohnya, 
jika rotan mentah dari Indonesia di ekspor keluar. Lalu hasilnya pasar dunia di 
bidang mebel dan furniture dibanjiri oleh produk dari negara lain yang diolah 
dari rotan mentahnya Indonesia.

Kain perca dari sisa industri konveksi maupun industri tekstil di ekspor ke 
RRC. Selanjutnya, pasar domestik Indonesia dibanjiri dengan produk sapu tangan, 
kaos tangan, kaos kaki, pengikat rambut wanita dari bahan kain, yang bisa jadi 
bahan bakunya adalah kain perca dari Indonesia.

Minyak mentah dan batu bara di ekspor untuk menghasilkan devisa yang besar bagi 
cadangan devisa negara. Di sisi lain, harga energi yang dihasilkan oleh minyak 
mentah dan batu bara untuk industri dalam negeri Indonesia menjadi sama 
harganya dengan industri di negara yang tak mempunyai sumber bahan baku minyak 
mentah dan batu bara.

Akhirulkalam, semoga celotehan yang dicoretkan tersebut diatas itu, yang timbul 
dari rasa was-was dan kekhawatiran dari orang awam yang bukan pakar ekonomi 
bergelar doktor atau phd ini, adalah tidak benar dan memang tidak terjadi serta 
tidak akan pernah terjadi di Indonesia.

Wallahualambishshaw ab.

*
Kondom Bekas
http://ekonomi. kompasiana. com/2010/ 01/13/kondom- bekas/

Kirim email ke