Artikel yang cukup menarik tentang "batasan" dari istilah MISKIN.
Ada satu hadits tentang orang miskin, kalau nggak salah (CMIIW), yang bunyinya,
"Orang yang disebut miskin yang sesungguhnya adalah orang yang dengan
kemiskinannya itu tetap menjaga kehormatannya dengan tidak meminta-minta".
Bandingkan dengan di antara kita yang "hobi" (bahkan mungkin maksa!) untuk
ngelaba meskipun bukan haknya! Atau "sinetron" di TV hari-hari ini yang
menjadikan para toke sumber labaan dalam kasus Anggodo dan juga Century
misalnya. Naudzubillah!
Salam / Jaerony.-
**********************************************
Miskin
Alkisah di sebuah sekolah dasar, tercatatlah seorang siswa kelas satu. Sebut
namanya Bakar. Ia anak konglomerat ternama.
Bukan cuma bapaknya yang pedagang besar. Kakek moyangnya pun demikian. Mereka
adalah rezim saudagar terkenal sejak era abad pertengahan. Ketika
Pires berkata, ''Tuhan menciptakan Timor untuk pala, Banda untuk lada, dan
Maluku untuk cengkih,'' di sanalah kakek moyang Bakar berperan.
Bakar masih menikmati warisan kebesaran itu. Ia bersekolah di SD unggulan
berstandar internasional dan bilingual, sekitar 2 kilometer dari rumah (mobil
senilai Rp 1 miliar yang ia pakai hanya mencatatkan perjalanan 4 kilometer
setiap hari). Seorang sopir dan ''baby sitter'' mengantar dan menungguinya
setiap hari saat ia belajar.
Laiknya sekolah mahal dan unggulan lainnya, mengarang adalah pelajaran yang
diposisikan amat penting di SD tersebut. Anak-anak didik, sejak kelas satu,
sudah dilatih untuk mengekspresikan isi kepala mereka dengan kata-kata yang
tertata baik, namun dengan isi yang mencerminkan kebebasan pikiran.
Sampailah, suatu ketika, sang guru meminta siswa kelas I membuat karangan
tentang kehidupan keluarga yang sangat miskin di seberang benteng sekolah. Sang
guru, yang berasal dari keluarga menengah, berharap dapat menumbuhkan empati
anak-anak didiknya yang serba berada terhadap nasib kelompok lain yang tak
berpunya. Bakar masih kelas satu SD. Tapi, ia penulis yang andal. Ia sefasih
bapaknya saat harus melontarkan kata-kata. Ia pun secerdas ibunya saat harus
membuat hitung-hitungan dan perbandingan.
Ia menulis, seperti saran gurunya, dengan penuh perasaan. ''Menulislah dengan
hati,'' begitu kata-kata sang guru yang selalu ia ingat. Lalu, dengan sesekali
menerawang dan membayangkan kehidupan keluarga miskin, Bakar menggoreskan
pinsilnya dengan huruf-huruf yang belum sempurna benar. Ia menamai tokoh dalam
karangannya sebagai Pak Abu.
''Pak Abu,'' tulisnya, ''adalah orang yang sangat miskin. Benar-benar miskin,
sampi-sampai pembantunya juga miskin, sopirnya miskin, dan tukang kebunnya pun
miskin.''''Karena sering tak punya uang, Pak Abu jarang membersihkan kolam
renang di rumahnya. Ia juga hanya bisa memelihara ikan-ikan kecil di akuarium
seperti lou han yang makannya sedikit, tidak seperti arwana dan koi di rumahku.
Kucing siam punya Pak Abu juga kurus, soalnya kurang makan. Ayam yang ia
pelihara juga yang kecil-kecil, jenis kate.''
Bakar yang berpikir bebas menulis karangannya itu dengan penuh haru. Ia
sesekali mengernyitkan dahi. Ia berpikir dirinya tak mungkin bisa menanggungkan
kemiskinan seperti yang terjadi pada keluarga Pak Abu. Alangkah malangnya
keluarga Pak Abu, pikirnya. Jangan-jangan anak-anaknya harus berebut saat
bermain PS2, karena alat permainan itu hanya ada satu di ruang keluarga. Lain
dengan di rumahnya, setiap kamar ada. Di kamar Bakar, di kamar kakak-kakaknya,
bahkan di kamar ibu-bapaknya .
Sopir dan pembantu Pak Abu pun, pikirnya, pasti sedih karena tidak seperti
pembantu dan sopir dirinya. Bakar membandingkan handphone yang dipegang sopir
dan pembantu Pak Abu mungkin jenis monophonic yang ketinggalan zaman, lain
dengan handphone pembantu dan sopirnya yang polyphonic dan bisa kirim MMS.
Ia membayangkan kepala urusan dapur di rumah Pak Abu mungkin hanya bisa belanja
di pasar yang becek atau supermarket kecil di perempatan jalan. Padahal,
pembantu di rumahnya sangat biasa berbelanja ke hypermarket Prancis dan
mal-mal. ''Anak-anak Pak Abu,'' tulisnya dengan empati penuh, ''kalau liburan
tidak bisa ke Eropa atau Amerika seperti aku. Mereka hanya bisa berlibur ke
Bali. Itu pun pakai pesawat yang murah, low cost carrier.''
Terserahlah, Pembaca, Anda mau bekomentar apa tentang cerita itu. Saya hanya
mau menyampaikan sebuah kegagalan empati. Bukan karena orangnya tidak tulus,
tapi ia memang tidak memiliki pengalaman yang memadai tentang dunia di luar
dirinya. Bakar adalah wakil dari kegagalan itu. Saya kembalikan kepada Anda
kisah-kisah di luar. Saat seorang menteri berkata, ''Kalau tidak mampu membeli
elpiji, ya jangan gunakan elpiji,'' apa komentar Anda?
Bagi saya, itu adalah kegagalan empati. Mungkin karena sekadar kurangnya
wawasan dia tentang penderitaan, mungkin juga karena kemalasan melihat dunia
luar. Bayangkan setelah si menteri berkata seperti itu, harga minyak tanah
melambung tiga kali lipat. Kita tentu tak berharap pejabat itu akan berkata,
''Kalau tidak mampu beli minyak tanah, jangan gunakan minyak tanah.'' Lalu,
ketika harga beras melonjak sekian kali lipat, ia pun berpidato lagi, ''Kalau
tidak mampu beli beras, jangan makan nasi.''
Empati adalah kemampuan menempatkan diri pada posisi orang lain. Di dalamnya
tercakup kecerdasan emosional dan sosial. Nah, jika Anda berempati kepada
orang miskin, maka Anda akan memerankan diri sepenuh perasaan sebagai orang
miskin. Persoalannya, apa fantasme Anda tentang kemiskinan? Penguasa kolonial
mendefiniskan kemiskinan sebagai buah kemalasan. Saat mendengar kata
''miskin'', mereka teringat pada kerbau yang hanya bergerak kalau dipacu dan
lebih suka berkubang di lumpur hitam.
Pemerintah kita mendefinisikan kemiskinan sebagai hasil perhitungan dari sebuah
nilai subsidi. Maka, ditemukanlah angka penghasilan Rp 175 ribu sebagai batas
kemiskinan. Kurang dari angka itu berarti miskin dan berhak mendapat santunan
Rp 100 ribu.Persoalannya, orang yang berpenghasilan di antara Rp 175 ribu dan
Rp 275 ribu masuk kategori apa? Tidak jelas, kecuali satu hal: Mereka kini
menjadi penduduk termiskin di negeri ini. (Arys Hilman)
Sumber: Republika
__,_._,___