Apalagi pas hari Senin (13/12) kemarin ya... ----- Original Message ----- From: Edy Kamoro To: [email protected] Sent: Thursday, December 16, 2010 4:44 PM Subject: Re: [porsenipar] Gubernur Duduk di Kelas Ekonomi
Pak Jay kalau beliau2 pada berani naik kelas ekonominya krl bogor -jkt
baru hebat kali ya.???...,
--- On Thu, 12/16/10, jaerony <[email protected]> wrote:
From: jaerony <[email protected]>
Subject: [porsenipar] Gubernur Duduk di Kelas Ekonomi
To: [email protected]
Date: Thursday, December 16, 2010, 12:39 AM
Yang jelas, pastinya standar flight-nya Garuda (atau maskapai
penerbangan nasional negara terkait). Saya kira, meskipun kelasnya ekonomi
dengan standar penerbangan nasional masih cukup bagus, tidak terlalu "merusak
jaim", dan bukan sesuatu yang istimewa. Kecuali kelas ekonominya semisal
penerbangan yang air mineral pun (aqua dsb.) tidak diberikan selama
penerbangan. Itu baru istimewa.
Fyi, standar bagi para profesi pada umumnya juga adalah maskapai
nasional resmi negara terkait tidak peduli apa kelasnya. Naaah ... yang
terakhir ini info buat yang suka KEMAYU / GEMBAGUS.
Just sharing ...
Wass / Jaerony.-
----- Original Message -----
From: A. Yahya Sjarifuddin
To: [email protected]
Sent: Thursday, December 16, 2010 11:14 AM
Subject: [porsenipar] Gubernur Duduk di Kelas Ekonomi
Gubernur Duduk di Kelas Ekonomi
Dikirim oleh Tim dakwatuna.com pada 14 Desember 2010 @ 20:12 di
Nasional | Tidak ada Komentar
Ilustrasi (inet)
dakwatuna.com – Pesawat Garuda GA 162 dari Padang, mendarat mulus di
Bandara Soekarno Hatta, Senin (13/12). Saya dan istri ada di pesawat yang sama.
Kami yang duduk di bagian ekonomi, tak tahu persis siapa saja gerangan yang
duduk di kelas eksekutif.
Perjalanan 90 menit setelah selesai, kami harus bergegas untuk urusan
masing-masing. Di antara yang bergegas itu, ada Gubernur Sumbar, Prof. Irwan
Prayitno.
Para penumpang kelas eksekutif dijemput dengan mobil khusus, namun
karena Irwan duduk di kelas ekonomi, maka naik buslah ia bersama-sama kami.
Bergelantungan. Apa adanya.
Menurut saya ada gubernur di Indonesia yang duduk di kelas ekonomi
dalam sebuah penerbangan adalah istimewa. Mungkin bagi orang lain tidak.
Kabarnya Gamawan Fauzi juga begitu ketika ia jadi gubernur. Pemilik Singgalang,
Basril Djabar, juga begitu, meski ia sudah jadi komisaris PT Semen Padang.
Gubernur Irwan terlihat oleh istri saya melangkah ke ruang ekonomi.
Di sini rakyat badarai memilih tempat duduk, sesuai kemampuan keuangan
masing-masing. Tidak seorang pun di antara kami yang akan berkecil hati, jika
Irwan Prayitno, duduk di eksekutif, sebab ia gubernur. Kami bangga kalau
gubernur duduk di kursi yang nyaman.
Namun saya tak percaya, kenapa ia melangkah ke ruang rakyat ini. Saya
dan istri duduk di kursi 5 AB, Gubernur Irwan justru lebih ke belakang lagi, 12
C. Kami berbasa-basi sejenak, lantas Irwan meluncur ke belakang, tenggelam di
kursinya.
Saya sudah lama juga hidup, sering naik pesawat bersama banyak orang
dari pejabat tinggi hingga orang biasa. Bagi saya ada gubernur rendah hati
seperti ini, menjadi obat. Ia tak berjarak dengan rakyat. Ia tampil apa adanya.
Begitulah ketika Garuda mendarat di Cengkareng, kami tak bisa pakai
pintu garbarata, sehingga harus dijemput pakai bus besar. Semua penumpang kelas
ekonomi naik ke sana. Juga Gubernur Sumbar.
Bersama kami, ia berdesak-desakan dan bergelentungan. Bagi saya ini
memang luar biasa, ketika para pejabat kita merasa risih duduk di kelas
ekonomi. Bagi saya ini juga sebuah keteladanan, ketika di banyak bandara, ada
lahan parkir khusus untuk pejabat, persis di mulut pintu kedatangan.
Naik train
Jika di Indonesia, para menteri, kepala daerah menggunakan jasa
transportasi umum dapat dinilai sebagai hal yang luar biasa. Tidak demikian
halnya di negara-negara maju di Eropa, seperti Belanda, Inggris dan Jerman.
Dalam keseharian, belakangan ini, pemandangan seperti itu di
negara-negara yang disebutkan tadi bukanlah pemandangan yang aneh. Bahkan,
mereka menggunakan transportasi umum tanpa pengawalan.
Di Eropa sana, menteri, gubernur maupun walikota sudah terbiasa naik
train, bus. Sedangkan mobil dinas mereka diperlukan sewaktu-waktu untuk
mengangkut dokumen-dokumen sang mentri maupun kepala daerah.
Menurut Willy Laurens, 61, pengusaha nasional Belanda, yang merupakan
indo Belanda Depok, belakangan ini pemerintah setempat menganjurkan para
menteri untuk menggunakan transportasi umum, hal itu dilakukan untuk mengurangi
defisit anggaran. Belanda tahun ini mengalami defisit anggaran untuk bidang
militer. Sedangkan Jerman dan Inggris melakukan pengurangan defisit anggaran
hingga 40 persen untuk periode 2010-2014, sebagai bagian dari upaya konsolidasi
fiskal.
(Taufiq Ismail seperti dituturkan pada susilo abadi piliang)
(singgalang)
<<image/jpeg>>
