Dari milis sebelah, mudah-mudahan memberikan inspirasi bagi kita ...

**********************************************
Menjaga Kemuliaan Pasangan Hidup
Oleh Endang TS Amir

Bergosip atau ngerumpi menjadi acara yang banyak diminati dan dinikmati banyak 
orang. Sepertinya ada semacam kebutuhan psikologis bagi sebagian kalangan, 
terutama kaum hawa untuk ngerumpi. Yang memprihatinkan adalah , bergosip 
tentang orang lain saja jelas tidak dibolehkan, apalagi bergosip tentang 
pasangan hidup.

Betapa sering, para istri yang secara sadar dan tidak sadar ngerumpi tentang 
suami-suami mereka. Terkadang secara terbuka para istri menceritakan tentang 
sikap dan sifat suami. Dari mulai hal-hal yang remeh temeh sampai kepada 
hal-hal yang besar dan pribadi. Sehingga, orang yang tadinya tidak “mengenal” 
suami kita jadi kenal. Akibat buruknya, orang yang tadinya menaruh hormat 
kepada suami, jadi mencibir. Orang yang tadinya segan terhadap suami, jadi cuek 
bebek.

Allah sebagai Dzat yang Maha Menciptakan, telah berfirman di surat Al-Baqarah : 
187, yang artinya,”…mereka (istri-istri) adalah pakaian bagimu dan kamu adalah 
pakaian bagi mereka…”

Betapa indahnya Allah menggambarkan bentuk hubungan suami dan istri yakni 
layaknya sebuah pakaian bagi pasangannya. Istri adalah pakaian suami, dan suami 
adalah pakaian istri. Mempersamakan pasangan (suami atau istri) dengan pakaian 
mengindikasikan bahwa suami atau istri dituntut untuk saling menutupi dan 
saling melindungi. 

Secara garis besar, mungkin kita bisa merumuskan manfaat pakaian adalah;
1. Sebagai penutup aurat. Menutupi bagian-bagian yang memang tidak bolah 
terlihat.
2. Sebagai pelindung. Melindungi tubuh dari sengatan matahari maupun hawa 
dingin.
3. Sebagai hiasan. Pakaian juga berfungsi memperindah atau mempercantik 
pemakainya. 

Menutupi dan melindungi. Inilah hal-hal yang sering diabaikan. Bukannya 
menutupi, kita justru sering membuka dengan menceritakan kepada orang lain 
tentang pasangan hidup kita. Suamiku tuh orangnya begini atau begitu. Dan lebih 
sering yang diceritakan adalah hal-hal yang negative. Dari mulai suami yang 
mata keranjang, galak, pelit dsb. 

Alkisah, ada seorang bapak yang cukup dihormati dan disegani baik karena 
kedudukan di masyarakat maupun kefahamannya tentang agama. Pada suatu ketika, 
istrinya ngumpul-ngumpul, ngobrol kesana-kemari, ujung-ujungnya saling 
bercerita tentang suami-suami mereka. Yang cukup mengagetkan adalah, si istri 
ini bercerita tentang masa kelam suaminya. 

Astaghfirullah….janganlah apa yang sudah ditutupi oleh Allah kemudian kita 
buka-buka, terlebih ini adalah pasangan hidup kita. Sama artinya kita bercerita 
tentang keburukan kita sendiri. Mungkin, kita memang sering mendengar para 
ustadz yang terkenal juga ‘menyiarkan’ keburukan-keburukan mereka di masa lalu, 
tapi niatnya mungkin sebagai ibroh bagi pendengarnya. Kalau kita bercerita 
keburukan suami? Apa manfaatnya? Justru kita menjatuhkan citra dan nama baik 
suami kita sendiri. 

Istri adalah pakaian suami, dan pakaian berfungsi sebagai penutup aurat. 
Layaknya penutup aurat, tentunya kita akan merasa malu jika pakaian kita 
tersingkap. Membicarakan tentang keburukan atau aib suami atau istri, sama saja 
menyingkap pakaian kita sendiri. Yang berarti kita mempermalukan diri kita 
sendiri. 

Bukan tidak boleh sama sekali bicara tentang pasangan hidup kita. Terlebih jika 
memang ada masalah yang harus diselesaikan. Tetapi kepada siapa kita 
membicarakan hal-hal tersebut, itu yang penting. Jika kita terpaksa curhat 
tentang perilaku buruk suami, maka carilah orang yang berilmu dan dan dapat 
dipercaya. Sehingga tujuan kita bercerita, sesungguhnya untuk mencari solusi, 
bukan sekedar memproklamirkan perilaku buruk suami. 

Dan satu hal yang penting, jikalau pasangan hidup kita bersifat dan bersikap 
buruk, jangan “mengadukan” kepada orangtua atau saudara-saudara kita maupun 
kerabat kita. Karena boleh jadi, kita rukun kembali dengan suami, sementara 
orang tua atau saudara-saudara kita jadi membenci dan menjadi tidak suka kepada 
suami. Alangkah baiknya, jika kita justru berkonsultasi atau musyawarah dengan 
keluarga atau kerabat dari pihak suami, sehingga suami kita tetap terjaga 
kehormatannya. 

Selain sebagai penutup aurat, pakaian juga berfungsi melindungi diri dari cuaca 
panas yang menyengat maupun hawa dingin yang menggigit. Maka, seyogyannya 
kitapun melaksanakan fungsi kita sebagai pelindung bagi pasangan hidup kita. 
Menjaga dari segala fitnah maupun hujatan-hujatan buruk. 

Karena tak jarang, bukannya memberi statement positif jika ada “berita” atau 
“keluhan” tentang suami, kita justru ikut menambah-nambahi atau mengompori. 
Sebagai contoh, ada seorang ibu bercerita bahwa sepulang dari berpergian, pada 
suatu sore menjelang maghrib ia melihat suami temannya sedang duduk-duduk di 
warung kopi. 

“Bu NN, aku kemarin kayanya lihat suamimu duduk-duduk di warung kopi 
dekerumahku.”
“Emang tuh, kebiasaan, pulang kerja bukannya langsung pulang ngopi di rumah 
malah ngopi di warung. Kadang-kadang pulang abis Isya. Dari dulu emang tukang 
nongkrong, sudah punya anak istri, kebiasaan enggak berubah.” Jawab bu Nn. 

Jikalau kita menyadari pentingnya menjaga kemuliaan pasangan hidup kita, 
mungkin kita bisa menjawab dengan lebih diplomatis, seumpama “Oh, mungkin 
suamiku sedang ada keperluan dengan seseorang.” Tidak perlu berbohong (karena 
memang tidak boleh), tapi juga tidak seterusterang seperti itu dengan 
mengatakan suami kita tukang nongkrong. Jadi, jagalah nama baik dan kehormatan 
suami kita dengan menjadi “pakaian” atau “pembungkus” yang baik. 

Selain faktor etika yaitu sebagai penutup aurat, memakai pakaian juga berkaitan 
erat dengan factor estetika. Karenanya, pakaian juga berfungsi memperindah 
pemakainya. Jika istri adalah pakaian suami, maka istri memperindah suami. Jika 
suami adalah pakaian istri, maka suami memperindah istri. 

Karenanya, jadilah kita pribadi-pribadi yang sholeh dan sholehah, yang 
dengannya kita dapat memberi keamanan dan kenyamanan bagi pasangan hidup kita. 
Sungguh indah Allah menggambarkan hubungan suami istri layaknya pakaian bagi 
pasangannya. Maka, jadilah kita sebagai pakaian bagi pasangan hidup kita yang 
menutupi, melindungi dan memperindah. 

Wallahu’alam 

Ummuali.wordpress.com 

http://www.eramuslim.com/oase-iman/endang-ts-amir-menjaga-kemuliaan-pasangan-hidup.htm
 


Kirim email ke