Luar biasa Soeharto dan Orde Barunya!
Setiap orang yang "diidentifikasi" sebagai musuh dilibas habis!

Mungkin karena kejawen dia, jika muslim dia akan dipandu Qur'an / Hadits (?) 
yang kira-kira bunyinya : "Bencilah orang itu sewajarnya, karena jangan-jangan 
ada kebaikan di dalamnya".

Hati-hati di kita yang perilakunya memakai pendekatan "kekuasaan" (atau gila 
kekuasaan), moga-moga tidak seperti yang dialami Ariel Sharon, mengalami koma 
akibat stroke selama 5 tahun!!! 
Naudzubillah!

Berikut postingan dari milis FPK, just sharing ...

Wallaahu a'lam.



Wassallam / Jaerony.-

***********************************************************

Dari: Al Faqir Ilmi <[email protected]>
Judul: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Inilah Orang Yang Menyumbangkan Emas Tugu Monas
Kepada: 
Tanggal: Minggu, 2 Januari, 2011, 6:06 PM

 

Inilah Orang Yang Menyumbangkan Emas Tugu Monas


Ternyata 38 kg emas yang dipajang di puncak tugu Monumen Nasional (Monas) 
Jakarta, 28 kg di antaranya adalah sumbangan dari Teuku Markam, salah seorang 
saudagar Aceh yang pernah menjadi orang terkaya Indonesia. Orang-Orang hanya 
tahu bahwa emas tersebut memang benar sumbangan saudagar Aceh. Namun tak banyak 
yang tahu, bahwa Teuku Markamlah saudagar yang dimaksud itu. Itu baru 
segelintir karya Teuku Markam untuk kepentingan negeri ini.

Karya lainnya, ia pun ikut membebaskan lahan Senayan untuk dijadikan pusat olah 
raga terbesar Indonesia. Tentu saja banyak bantuan-bantuan Teuku Markam lainnya 
yang pantas dicatat dalam memajukan perekonomian Indonesia di zaman Soekarno, 
hingga menempatkan Markam dalam sebuah legenda.

Di zaman Orba, karyanya yang terbilang monumental adalah pembangunan 
infrastruktur di Aceh dan Jawa Barat. Jalan Medan-Banda Aceh, Bireuen-Takengon, 
Meulaboh, Tapaktuan dan lain-lain adalah karya lain dari Teuku Markam yang 
didanai oleh Bank Dunia. Sampai sekarang pun, jalan-jalan itu tetap awet. Teuku 
Markam pernah memiliki sejumlah kapal, dok kapal di Jakarta, Makassar, Medan, 
Palembang. Ia pun tercatat sebagai eksportir pertama mobil Toyota Hardtop dari 
Jepang. Usaha lain adalah mengimpor plat baja, besi beton sampai senjata untuk 
militer.

Mengingat peran yang begitu besar dalam percaturan bisnis dan perekonomian 
Indonesia, Teuku Markam pernah disebut-sebut sebagai anggota kabinet bayangan 
pemerintahan Soekarno. Peran Markam menjadi runtuh seiring dengan berkuasanya 
pemerintahan Soeharto. Ia ditahan selama delapan tahun dengan tuduhan terlibat 
PKI. Harta kekayaannya diambil alih begitu saja oleh Rezim Orba. Pernah mencoba 
bangkit sekeluar dari penjara, tapi tidak sempat bertahan lama. Tahun 1985 ia 
meninggal dunia. Aktivitas bisnisnya ditekan habis-habisan. Ahli warisnya hidup 
terlunta-lunta sampai ada yang menderita depresi mental.

Hingga kekuasaan Orba berakhir, nama baik Teuku Markam tidak pernah 
direhabilitir. Anak-anaknya mencoba bertahan hidup dengan segala daya upaya dan 
memanfaatkan bekas koneksi-koneksi bisnis Teuku Markam. Dan kini, ahli waris 
Teuku Markam tengah berjuang mengembalikan hak-hak orang tuanya.

Siapakah Teuku Markam ??

Teuku Markam turunan uleebalang. Lahir tahun 1925. Ayahnya Teuku Marhaban. 
Kampungnya Seuneudon dan Alue Capli, Panton Labu Aceh Utara. Sejak kecil Teuku 
Markam sudah menjadi yatim piatu. Ketika usia 9 tahun, Teuku Marhaban meninggal 
dunia. Sedangkan ibunya telah lebih dulu meninggal. Teuku Markam kemudian 
diasuh kakaknya Cut Nyak Putroe.

Sempat mengecap pendidikan sampai kelas 4 SR (Sekolah Rakyat). Teuku Markam 
tumbuh lalu menjadi pemuda dan memasuki pendidikan wajib militer di Koeta Radja 
(Banda Aceh sekarang) dan tamat dengan pangkat letnan satu. Teuku Markam 
bergabung dengan Tentara Rakyat Indonesia (TRI) dan ikut pertempuran di 
Tembung, Sumatera Utara bersama-sama dengan Jendral Bejo, Kaharuddin Nasution, 
Bustanil Arifin dan lain-lain. Selama bertugas di Sumatera Utara, Teuku Markam 
aktif di berbagai lapangan pertempuran. Bahkan ia ikut mendamaikan clash antara 
pasukan Simbolon dengan pasukan Manaf Lubis.

Sebagai prajurit penghubung, Teuku Markam lalu diutus oleh Panglima Jenderal 
Bejo ke Jakarta untuk bertemu pimpinan pemerintah. Oleh pimpinan, Teuku Markam 
diutus lagi ke Bandung untuk menjadi ajudan Jenderal Gatot Soebroto. Tugas itu 
diemban Markam sampai Gatot Soebroto meninggal dunia.

Adalah Gatot Soebroto pula yang mempercayakan Teuku Markam untuk bertemu dengan 
Presiden Soekarno. Waktu itu, Bung Karno memang menginginkan adanya pengusaha 
pribumi yang betul-betul mampu menghendel masalah perekonomian Indonesia. Tahun 
1957, ketika Teuku Markam berpangkat kapten (NRP 12276), kembali ke Aceh dan 
mendirikan PT Karkam. Ia sempat bentrok dengan Teuku Hamzah (Panglima Kodam 
Iskandar 
Muda) karena "disiriki" oleh orang lain. Akibatnya Teuku Markam ditahan dan 
baru keluar tahun 1958. Pertentangan dengan Teuku Hamzah berhasil didamaikan 
oleh Sjamaun Gaharu.

Keluar dari tahanan, Teuku Markam kembali ke Jakarta dengan membawa PT Karkam. 
Perusahaan itu dipercaya oleh Pemerintah RI mengelola pampasan perang untuk 
dijadikan dana revolusi. Selanjutnya Teuku Markam benar-benar menggeluti dunia 
usaha dengan sejumlah aset berupa kapal dan beberapa dok kapal di Palembang, 
Medan, Jakarta, Makassar, Surabaya. Bisnis Teuku Markam semakin luas karena ia 
juga terjun dalam ekspor - impor dengan sejumlah negara. Antara lain mengimpor 
mobil Toyota Hardtop dari Jepang, besi beton, plat baja dan bahkan sempat 
mengimpor senjata atas persetujuan Departemen Pertahanan dan Keamanan 
(Dephankam) dan Presiden.

Komitmen Teuku Markam adalah mendukung perjuangan RI sepenuhnya termasuk 
pembebasan Irian Barat serta pemberantasan buta huruf yang waktu itu digenjot 
habis-habisan oleh Soekarno. Hasil bisnis Teuku Markam konon juga ikut menjadi 
sumber APBN serta mengumpulkan sejumlah 28 kg emas untuk ditempatkan di puncak 
Monumen Nasional (Monas).

Sebagaimana kita tahu bahwa proyek Monas merupakan salah satu impian Soekarno 
dalam meningkatkan harkat dan martabat bangsa. Peran Teuku Markam menyukseskan 
Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia Afrika tidak kecil berkat bantuan sejumlah 
dana untuk keperluan KTT itu.

Teuku Markam termasuk salah satu konglomerat Indonesia yang dikenal dekat 
dengan pemerintahan Soekarno dan sejumlah pejabat lain seperti Menteri PU Ir 
Sutami, politisi Adam Malik, Soepardjo Rustam, Kaharuddin Nasution, Bustanil 
Arifin, Suhardiman, pengusaha Probosutedjo dan lain-lain. Pada zaman Soekarno, 
nama Teuku Markam memang luar biasa populer. Sampai-sampai Teuku Markam pernah 
dikatakan sebagai kabinet bayangan Soekarno.

Sejarah kemudian berbalik. Peran dan sumbangan Teuku Markam dalam membangun 
perekonomian Indonesia seakan menjadi tiada artinya di mata pemerintahan Orba. 
Ia difitnah sebagai PKI dan dituding sebagai koruptor dan Soekarnoisme.

Tuduhan itulah yang kemudian mengantarkan Teuku Markam ke penjara pada tahun 
1966. Ia dijebloskan ke dalam sel tanpa ada proses pengadilan. Pertama-tama ia 
dimasukkan tahanan Budi Utomo, lalu dipindahkan ke Guntur, selanjutnya 
berpindah ke penjara Salemba Jln Percetakan Negara. Lalu dipindah lagi ke 
tahanan Cipinang, dan terakhir dipindahkan ke tahanan Nirbaya, tahanan untuk 
politisi di kawasan Pondok Gede Jakarta Timur. Tahun 1972 ia jatuh sakit dan 
terpaksa dirawat di RSPAD Gatot Subroto selama kurang lebih dua tahun.

Peralihan kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto membuat hidup Teuku Markam 
menjadi sulit dan prihatin. Ia baru bebas tahun 1974. Ini pun, kabarnya, berkat 
jasa- jasa baik dari sejumlah teman setianya. Teuku Markam dilepaskan begitu 
saja tanpa ada konpensasi apapun dari pemerintahan Orba. "Memang betul, saat 
itu Teuku Markam tidak akan menuntut hak- haknya. Tapi waktu itu ia kan 
tertindas dan teraniaya," kata Teuku Syauki Markam, salah seorang putra Teuku 
Markam.

Soeharto selaku Ketua Presidium Kabinet Ampera, pada 14 Agustus 1966 mengambil 
alih aset Teuku Markam berupa perkantoran, tanah dan lain-lain yang kemudian 
dikelola PT PP Berdikari yang didirikan Suhardiman untuk dan atas nama 
pemerintahan RI. Suhardiman, Bustanil Arifin, Amran Zamzami (dua orang terakhir 
ini adalah tokoh Aceh di Jakarta) termasuk teman-teman Markam. Namun tidak 
banyak menolong mengembalikan asset PT Karkam. Justru mereka ikut mengelola 
aset-aset tersebut di bawah bendera PT PP Berdikari. Suhardiman adalah orang 
pertama yang memimpin perusahaan tersebut. Di jajaran direktur tertera 
Sukotriwarno, Edhy Tjahaja, dan Amran Zamzami. Selanjutnya PP Berdikari 
dipimpin Letjen Achmad Tirtosudiro, Drs Ahman Nurhani, dan Bustanil Arifin SH.

Pada tahun 1974, Soeharto mengeluarkan Keppres N0 31 Tahun 1974 yang isinya 
antara lain penegasan status harta kekayaan eks PT Karkam/PT Aslam/PT Sinar 
Pagi yang diambil alih pemerintahan RI tahun 1966 berstatus "pinjaman" yang 
nilainya Rp 411.314.924,29 sebagai penyertaan modal negara di PT PP Berdikari.

Kepres itu terbit persis pada tahun dibebaskannya Teuku Markam dari tahanan. 
Proyek Bank Dunia Sekeluar dari penjara, tahun 1974, Teuku Markam mendirikan PT 
Marjaya dan menggarap proyek-prorek Bank Dunia untuk pembangunan infrastruktur 
di Aceh dan Jawa Barat. Tapi tidak satupun dari proyek-proyek raksasa yang 
dikerjakan PT Marjaya baik di Aceh maupun di Jawa Barat, mau diresmikan oleh 
pemerintahan Soeharto. Proyek PT Marjaya di Aceh antara lain pembangunan Jalan 
Bireuen - Takengon, Aceh Barat, Aceh Selatan, Medan-Banda Aceh, PT PIM dan 
lain-lain.

Teuku Syauki menduga, Rezim Orba sangat takut apabila Teuku Markam kembali 
bangkit. Untuk itulah, kata Teuku Syauki, proyek-proyek Markam "dianggap" angin 
lalu.

Teuku Markam meninggal tahun 1985 akibat komplikasi berbagai penyakit di 
Jakarta. Sampai akhir hayatnya, pemerintah tidak pernah merehabilitasi namanya. 
Bahkan sampai sekarang. 

Gbr monas :http://www.google.co.id/imglanding?q...=1&w=500&h=374

Sumber :  www.soloaja.com

Kirim email ke