Jumat, 25/02/2011 09:04 WIB
*Rumah dengan Dimensi Komunitas  *
*Tantan Hermansah* - detikNews

*Jakarta* - Pernahkah Anda 'nyasar' ke tempat di mana para buruh,
pekerja kasar, pekerja musiman, pengusaha sektor informal,
istirahat. Jika belum pernah, akan saya coba gambarkan sedikit.
Mereka tinggal di ruang-ruang sederhana, banyak beberapa sangat
kurang layak, bersama-sama, dengan satu rasa: merayakan kelelahan
setelah seharian hidup mencari nafkah buat keluarganya.

Apa yang mengikat mereka sehingga rela berdesak-desakan, kepanasan,
kamar mandi yang mengantri, dan sejumlah kekurangan lainnya? Ya,
karena mereka memiliki harapan, serta mereka hanya menjadikan ruang
tempat mereka tinggal itu, melepas penat.

Lalu, berapa banyak di antara kita yang juga memperlakukan rumah
seperti itu. Para pekerja yang terikat dengan ketatnya waktu,
menjadikan rumah hanya dua fungsi. Hotel dan Vila. Disebut hotel
karena umumnya mereka meninggalkan ruangan itu masih pagi. Bahkan
mungkin ketika anak-anaknya masih asyik dalam mimpi. Dan datang
kembali ketika keluarganya sudah lelap.

Jika demikian, kapan mereka membangu hubungan layaknya keluarga?
Hanya satu waktu: hari libur. Jadi rumah mereka hanya menjadi vila
yang diisi secara aritifisial pada hari libur.

Kita melihat itu merupakan gejala perkotaan yang ritme dan
dinamikanya berbeda dengan kultur pedesaan. Sehingga wajar jika
kemudian, unsur-unsur yang melekatkan antar individu tersebut bukan
lagi rasa berkomunitas, tapi hanya kepentingan. Coba lihat, ketika
mereka mau bertamu saja ke tetangganya, harus janjian dulu. Tidak
bisa lagi maen terobos seperti halnya di desa-desa.

Gambaran di atas ada dua model kehidupan yang sesungguhnya fakta
komunitasnya sama. Kita sudah mulai banyak kehilangan daya
kohesivitas sosial dalam bentuk ruang-ruang komunitas itu. Sehingga,
akibat dari fenomena seperti itu, kita dihadapkan pada model
individualisme estrim dan sangat transaksional.

Lalu mengapa para buruh masih bisa membangun kebersamaan pada
rumah-rumah sempit dan sesak itu? Karena daya rekatnya masih ada.
Jadi dibanding warga kota yang mapan dan sibuk itu, para buruh
relative tidak kehilangan ikatan berkomunitasnya meskipun direkat
oleh hal-hal pragmatis seperti pekerjaan atau asal daerah.

Tulisan ini ingin menawarkan gagasan lama yang sudah pudar itu.
Rumah yang berkarakter komunitas bagi warga kecil. Hal ini
didasarkan kepada kesalahan paradigmatic dari pemerintah tatkala
mengadakan pembangunan perumahan. Mari kita telisik beberapa
kesalahan tersebut.

Pertama, banyak perumahan bagi rakyat kurang mampu akhirnya tetap
dinikmati orang kaya. Hal ini terjadi karena meskipun disubsidi,
harga jual rumah tetap tinggi. Sehingga yang memiliki duit dan
jaminan ini itu yang bisa mendapatkannya.

Kedua, konsep rumahnya sendiri memang mengakibatkan harganya tetap
tinggi. Rumah dengan perhitungan setiap orang harus memiliki 8 meter
persegi menyebabkan luasan rumah bagi kalangan tidak mampu pun,
disamakan. Padahal praktiknya, ruangan tidak efektif dipergunakan 24
jam.

Ketiga, banyak rumah berdiri di tanah pemda, didirikan oleh
pemerintah pusat hanya mengejar target berdiri. Setelah itu
mekanisme pembangunan 'dalam' nya tidak digarap. Pindah rumah bukan
semata pindah fisik, tetapi juga pindah kebudayaan, sosial, ekonomi,
dan sebagainya, Akibatnya, banyak yang terbengkalai padahal sudah
ada pemiliknya.

Untuk itu, pendekatan baru dalam konsep RUMAH harus dibangun.
Misalnya prinsip rumah komunitas yang sesungguhnya sudah banyak
dilakukan oleh warga negeri ini. Di Padang Sumatera Barat misalnya,
kita misalnya mengenal rumah gadang. Sebuah rumah besar yang bisa
dihuni oleh beberapa keluarga batih. Di negara maju seperti Jepang,
konsep rumah bersama tetap dipertahankan meski tidak oleh seluruh
keluarga Jepang.
*
Rumah Bersama atau Rumah Komunitas*

Rumah bersama atau rumah komunitas adalah sebuah rumah besar yang
didalamnya bisa jadi dihuni oleh beberapa keluarga, misalnya 10
keluarga. Tiap keluarga dibolehkan memiliki kamar yang sifatnya
privasi. Sedangkan sisanya seperti ruang tengah, ruang tamu, atau
ruang dapur, adalah ruang bersama. Bagi para buruh, atau keluarga
para buruh seperti yang disinggung di atas, semestinya tidak
mendapat kesulitan jika mereka disatukan dalam sebuah rumah besar
itu. Sebab itu tetap jauh lebih baik dibandingkan di bedeng-bedeng
yang tak layak.

Agar menghemat tanah, tentu bangunannya dibuat vertikal. Tapi jangan
terlalu tinggi. Misalnya maksimal 4 atau 5 lantai. Satu lantai, satu
komunitas. Ke depan, jika kelembagaan sosialnya terbentuk, mungkin
satu gedung itu, bisa jadi satu RT.

Agar keberlangsungkan komunitasnya bisa terbangun, maka pemerintah
perlu melakukan pendampingan. Para pendamping ini misalnya bisa
diambil dari fresh graduate universitas, yang ditugaskan dalam masa
waktu yang cukup panjang. Tiap pendamping bisa mendampingi lebih
dari 1 rumah.

Pada pendamping ini yang kemudian menjadi fasilitator jika ada
masalah, atau mengelola potensi produktif dari komunitas itu agar
berimplikasi positif. Misalnya mengajarkan kerajinan tangan kepada
mereka yang tidak bekerja ke luar rumah sehingga bisa menambah
penghasilan.

Siapa saja yang tinggal di situ? Dan di mana akan dibangun?

Pertama, yang akan tinggal di rumah itu, adalah mereka yang tanahnya
selama ini mereka pergunakan untuk membangun rumah-rumah tak layak
itu. Pemerintah tinggal mendata, siapa saja yang nantinya bisa
tinggal. Sesuai aturan, misalnya, mereka yang tinggal di situ tapi
di bawah 5 tahun, harus mencari lokasi baru (itu berlaku jika tanah
negara). Atau jika pemiliknya ada mereka tinggal dikonvensasi ketika
rumahnya ditempati.

Kedua, harus dilihat juga proyeksi ke depannya. Sebagaimana para
buruh yang tengah bermimpi dalam kepenatan mereka itu, pasti mereka
tidak akan selamanya tinggal di situ. Begitu juga di rumah komunitas
ini. Mereka harus diingatkan agar punya cita-cita memiliki rumah
sendiri yang jauh lebih pantas dan layak bagi keluarga mereka tinggal.

Pendekatan di atas hanya awal dari sesuatu yang lebih besar, yakni
menata kembali sistem komunitas kita yang semakin hari meluruh
karena persoalan sehari-hari. Jika ini terbangun "tentu membutuhkan
waktu yang tidak sebentar" maka Indonesia yang memiliki 'imagine
community' itu, bisa hidup kembali dan menguat. Komunitas adalah
akar dari bangsa ini. Jika komunitas kita terus diperkuat, maka
tidak mustahil kita siap menjadi bangsa yang kuat.
/
**) Tantan Hermansah* adalah mahasiswa Program Doktor Sosiologi./

*(vit/vit)*

Kirim email ke