Besok PSSI akan melakukan Kongres untuk memilih Ketua Umum-nya.
Saya berharap, pengacara yang mengadukan FIFA ke Badan Arbitrasi Olahraga 
mendapat hasil positif agar berita soal PSSI ini jadi sejuk.

Lah, terkesan FIFA-nya juga kelihatan kurang fair gitu ...
Kita tunggu lah ...

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Agum : Saya 'Ditusuk' dari Belakang
Agum Gumelar akhirnya melakukan reshuffle terhadap Komite Normalisasi. 

Kamis, 12 Mei 2011, 12:43 WIB
Marco Tampubolon 
 

VIVAnews - Ketua Komite Normalisasi PSSI, Agum Gumelar sempat dianggap 
'pahlawan' oleh Kelompok 78 saat mengonversi pertemuan dengan pemilik suara 
PSSI pada 14 April lalu menjadi Kongres. Upaya Agum untuk menyampaikan hasil 
pertemuan tersebut ke FIFA juga mendapat sambutan yang hangat dari kelompok 
ini. Apalagi, mereka tahu bahwa keberangkatan Agum ke markas FIFA di Zurich 
juga bertujuan untuk memperjuangkan tiga nama yang sebelumnya telah dilarang 
maju pada bursa pemilihan PSSI. Mereka adalah Arifin Panigoro, Geroge Toisuta, 
dan Nirwan Bakrie. 

Namun sikap kelompok 78 kepada Agum berbalik 180 derajat saat perjuangan Agum 
gagal. Kelompok 78 bahkan semakin 'memusuhi' Agum saat Komite Normalisasi yang 
juga berfungsi sebagai Komite Pemilihan memutuskan untuk tetap menjalankan 
keputusan FIFA dengan menolak berkas pencalonan George Toisuta dan Arifin 
Panigoro untuk diverifikasi. 

Agum pun dicap sebagai pengkhianat dan terlalu otoriter dalam memimpin Komite 
Normalisasi. Agum juga dituding telah melaporkan kondisi yang terjadi di 
Indonesia tidak secara utuh kepada FIFA. Kelompok 78 juga menuding Agum tidak 
kredibel sebagai ketua Komite Normalisasi dan memintanya mundur. Ancaman 
lainnya adalah melengserkan Agum dari jabatannya saat Kongres PSSI digelar di 
Hotel Sultan, Jakarta, 20 Mei mendatang. 

Seperti apa pandangan Agum mengenai situasi ini, dan apa langkah yang akan akan 
dilakukannya? Seperti apa juga upaya Agum dalam mengakomodir aspirasi kelompok 
yang notabene adalah pendukung pasangan Geroge Toistuta dan Arifin Panigoro 
tersebut? Berikut adalah petikan wawancara VIVAnews dengan Agum dalam sebuah 
perbincangan yang berlangsung di kediamannya di Jalan Panglima Polim, Jakarta 
Selatan, Selasa, 11 Mei 2011. 

Keputusan Anda sebagai ketua Komite Normalisasi untuk berjalan sesuai keputusan 
FIFA telah menuai protes dari Kelompok 78. Mereka bahkan mengancam akan 
melengserkan Anda saat Kongres PSSI nanti. Bagaimana tanggapan Anda mengenai 
hal ini?

Begini ya, jadi pilihan kepada Indonesia saat ini hanya dua, apakah kita siap 
di-suspend atau tidak? Jadi kalau kita berpandangan jernih dan tidak emosional 
saya yakin sekali mayoritas masyarakat bola dan masyarakat Indonesia tidak 
menginginkan kita di-suspend. Artinya semua petunjuk dari FIFA yang disampaikan 
kepada pemegang mandat yaitu komite Normalisasi harus dipatuhi dan harus 
dipedomani. 

Kita harus bisa menempatkan kepentingan yang lebih besar di atas 
kepentingan-kepentingan pribadi dan golongan. Kalau kita di-suspend karena 
menentang keputusan FIFA yang rugi itu Indonesia. Inilah yang mendasar bagi 
Komite Normalisasi. Oleh karena itu semua langkah yang saya lakukan adalah demi 
mencegah itu. Bahwa ada orang berpendapat lain itu hal yang wajar, namun 
perbedaan ini jangan dijadikan suatu peluang untuk melakukan tindakan yang di 
luar ketentuan.

Di luar ketentuan seperti apa maksudnya?

Seperti kalau ingin membubarkan Komite Normalisasi jelas jalurnya harus ke FIFA 
bukan saat Kongres PSSI. Ajukan saja ke FIFA. 

Karena itu saya telah mengatakan kepada pak George dan Arifin serta 
pendukungnya, silahkan bentuk tim yang kuat untuk melobi FIFA agar menganulir 
keputusannya sehingga mereka bisa maju pada pemilihan nanti. Silahkan bentuk 
tim. Saya sudah berjuang untuk itu tapi gagal. Ini opsi pertama yang saya 
tawarkan kepada mereka (Kelompok 78). Silahkan bentuk tim, sampai batas waktu 
13 Mei 2011- Saat saya mengumumkan calon-calon yang defenitif untuk maju pada 
pemilihan nanti.

Opsi kedua adalah mengadukan FIFA ke CAS (The Court of Arbitration for Sport). 
Kalau tidak puas dengan keputusan FIFA, adukan saja ke CAS.  Jangan kami yang 
diobok-obok. 

Sedangkan opsi ketiga adalah, alangkah cantiknya, alangkah bahagianya bangsa 
ini bila Pak Arifin dan Pak George serta pendukungnya menerima keputusan FIFA 
dengan legowo. Saya yakin dengan sikap seperti ini, respek masyarakat terhadap 
pak Arifin dan Pak George akan baik dan sikap ini juga akan menyelesaikan 
permasalahan yang ada saat ini. 

Saya sempat kaget dengan sikap kandidat lain yang saya perjuangkan kepada FIFA, 
Nirwan Bakrie. Saya kaget saat saya memimpin rapat beliau datang dan menyatakan 
berterima kasih kepada saya karena sudah memperjuangkan dirinya dan menyatakan 
legowo menerima keputusan FIFA. 

Pada 14 April lalu, Anda mengonversi pertemuan dengan para pemilik suara PSSI 
menjadi Kongres PSSI. Keputusan ini sesuai dengan keinginan Kelompok 78 yang 
memang sejak awal menginginkan adanya Pra Kongres sebelum Kongres sebenarnya 
digelar 20 Mei 2011. Anda juga berusaha melobi FIFA agar meloloskan tiga nama 
termasuk Arifin Panigoro dan George Toisutta. Kenapa Anda melakukan ini?

Begitu saya ditunjuk sebagai ketua Komite Normalisasi yang saya lakukan adalah, 
saya berusaha akomodatif, aspiratif, dan komunikatif. Saya ingin memotret peta 
situasi sebenarnya seperti apa sih karena setiap mendapat tugas, saya selalu 
memtoret segala situasi yang ada. 

Oleh karena itu yang saya lakukan adalah menjalin komunikasi. Saya 
berkomunikasi dengan pengurus PSSI yang lama, Kelompok 78, dengan siapapun yang 
peduli dengan sepakbola nasional termasuk dengan pak George Toisuta dan Arifin 
Panigoro agar saya tahu apa aspirasi mereka. Pertemuan dengan pemilik suara 14 
April lalu juga bagian dari cara saya menampung aspirasi. 

Dari sini saya mendapatkan sedikit gambaran. Dari sini saya mengambil rencana, 
bahwa saya harus melaporkan hasil pertemuan secara langsung kepada FIFA. 
Ditentukanlah waktu 19 April 2011 untuk bertemu Presiden FIFA, Sepp Blatter di 
markas FIFA, Zurich, Swiss. Saya berangkat ke Swiss berbekal aspirasi yang 
sudah saya kumpulkan sebelumnya. 

Nah, Kelompok 78 juga saya akomodir. Saya mengerti mereka adalah pendukung 
berat Arifin dan George. Saya tampung aspirasi mereka sehingga dengan masukan 
dari mereka saya punya senjata ke FIFA agar mengubah keputusannya soal tiga 
kandidat yang dilarang maju pada pemilihan PSSI, yakni Nirwan Bakrie, Arifin 
Panigoro, dan George Toisuta.

Namun upaya saya kemudian tidak berhasil dan FIFA tetap berpegang pada hasil 
sidang komite darurat yang telah mereka lakukan. Sidang komite darurat seperti 
ini jarang sekali dilakukan, jadi FIFA harus konsisten dengan hasil sidang 
tersebut. 

Saya kemudian melaporkan secara periodik perkembangan di sini kepada FIFA dan 
pada 6 Mei 2011, FIFA setelah mendengar Arifin dan George akan dibanding 
mengancam akan menjatuhkan sanksi berupa suspend jika kami gagal menjalankan 
misi Komite Normalisasi. Ini yang ingin kami cegah.

Kelompok 78 menuding anda tidak menyampaikan informasi yang lengkap kepada FIFA 
saat berkunjung ke Zurich, Swiss. Dalam sebuah acara jumpa pers yang digelar 
oleh Kelompok 78, salah satu anggotanya, Hadiyandra bahkan menuding Anda sempat 
berusaha meloloskan George Toisuta saja. Hadiyandra juga menyebarkan rekamannya 
kepada wartawan. Bagaimana tanggapan Anda? 

Begini ya, saya utarakan saja. Selama di Zurich saya memperjuangkan ketiganya 
(Nirwan Bakrie, Arifin Panigoro, dan George Toisutta). Pertama saya jelaskan 
dulu mengenai pertemuan 14 April kepada FIFA. Bahwa saat itu adalah pertemuan 
dengan pemilik suara, saya mendapat saran dari mereka agar pertemuan ini 
dikonversi ke Kongres. Saya dengar alasan-alasannya. saya katakan kepada 
Thierry Regenass (Direktur Keanggotaan dan Pengembangan Asosiasi FIFA) kalau 
alasan mereka bisa masuk akal. Maka saya terima usulan mereka mengonversi 
menjadi Kongres.

Dan saat itu Thierry menyatakan dia mendengar kalau saya dalam tekanan dalam 
mengambil keputusan itu. Saya katakan, 'Tidak ada yang bisa menekan saya. Saya 
memutuskan itu dengan pertimbangan matang lalu saya laporkan ke FIFA'. Apa 
keputusan FIFA terserah saja. 

Thierry lalu mengatakan kalau FIFA tidak menerima pertemuan itu sebagai kongres 
dan tetap menganggap Komite Normalisasi bertindak sebagai komite pemilihan. Itu 
lah keputusan FIFA. Jadi FIFA tidak mau menerima keputusan Kongres namun soal 
pembentukan komite banding mereka setuju. 

Jadi soal tuduhan kepada saya bahwa saya melaporkan hal yang berbeda kepada 
FIFA tidak masuk akal. Bagaimana bisa? Situasi di sini kan transparan sekali. 
Semua media memuatnya, mulai cetak dan elektronik. Bagaimana saya bisa 
memanipulasi informasi kepada FIFA. Tidak mungkin. Saya laporkan apa adanya.

Yang kedua mengenai upaya saya dalam meloloskan ketiga calon yang sebelumnya 
telah dilarang FIFA. Ini yang menjadi poinnya. Ada ungkapan yang mengatakan 
bahwa FIFA merasa sangat tabu bila ada satu pergerakan yang berada di luar 
sistem. Ini sebuah preseden buruk bagi FIFA. 

Inilah yang membuat Arifin ditolak. Karena adanya LPI (Liga Primer Indonesia) 
di luar sistem. Karena itu misi kedua kepada kami adalah; segera LPI ditarik ke 
dalam sistem atau dibubarkan, karena bagi FIFA ini sesuatu yang mengganjal. 
Karena FIFA tahu Arifin adalah pengagasnya, maka secara tidak langsung Arifin 
pun di-black list di sana. 

Terus saya tanya, mengenai George bagaimana? Geroge kan tidak ada salah. What's 
wrong with George? Dia kan tidak salah. Mereka tidak jawab. Saya juga tanya 
kepada Sepp Blatter (Presiden FIFA) dan juga tidak menjawab soal itu. Blatter 
hanya membahas soal laporan saya. Blatter lalu bilang saya minta waktu sehari 
dua hari untuk memutuskan. 

Artinya, saya melaporkan, saya sudah berjuang. Kalau tidak, tidak mungkin 
Blatter meminta waktu. Nah ini lah, kenapa saya heran kepada mereka (Kelompok 
78). Mereka harusnya tahu saya berjuang seperti itu, tapi tidak ada rasa terima 
kasih. Sudah capek di sana (Swiss) cuma sehari malah dituduh macam-macam. 

Zurich itu apa sih, perjalanan hampir 15 jam dan saya hanya satu hari di sana 
untuk memperjuangkan ini. Tapi apa yang saya terima? Bukannya rasa terima kasih 
atau dihargai.
Apakah Anda menyesal?


Tidak menyesal, tapi kami harus tetap konsisten untuk mematuhi pedoman atau 
keputusan FIFA. FIFA adalah organisasi sepakbola dunia dimana ada 206 
anggotanya. Kalau dari 2006 ada satu yang nyeleneh kan sangat tidak bagus. Ini 
juga demi nama baik bangsa, bukan hanya sepakbola.

Komite Normalisasi didominasi oleh Kelompok 78. Setidaknya lima dari tujuh 
anggotanya adalah bagian dari Kelompok 78. Namun Komite Normalisasi justru 
memutuskan untuk menolak berkas pendaftaran George dan Arifin. Bagaimana hal 
ini bisa terjadi?

Saya ingin semua mengerti masalah ini. Ketika saya menerima mandat sekaligus 
beberapa petunjuk mengenai tugas kami dan saya  juga disebut sebagai ketua 
dengan 7 anggota, langkah pertama yang saya lakukan adalah mengundang seluruh 
anggota pada keesokan harinya, 5 April 2011. Saya minta Pak Joko (Driyono) 
untuk mengundang rapat pertama dengan saya karena pak Joko yang ada di sini. 

Alhamdulillah semua bisa hadir dalam rapat. Saya lalu menyampaikan mengenai 
misi yang diberikan FIFA kepada Komite Normalisasi. Saya katakan kalau kami 
berdelapan mendapat tugas yang berat namun mulia demi masa depan sepakbola 
Indonesia. 

Karena itu saya ingin mengajak semuanya untuk bekerja sama untuk menyelesaikan 
misi ini. Kemudian saya utarakan, bahwa saya tidak ingin tahu latar belakang 
politik mereka. Saya juga tidak ingin tahu pada kemelut yang lalu, mereka 
berada di kubu yang mana. Saya tidak ingin tahu itu. Yang saya ingin adalah 
mari berasma-sama menyelesaikan misi ini. Artinya kami berorientasi kepada 
kepentingan yang lebih besar. Saat itu saya bagikan pin Merah Putih. Ini bukan 
untuk gagah-gagahan tapi saya ingin mereka mengingat kepentingan negara selalu 
di atas kepentingan golongan dan kelompok. 

Dua hari berikutnya saya ke rumah pak Arifin di Jenggala dalam rangka menjalin 
komunikasi. Saya juga bertemu Pak George di sana. Begitu selesai ngobrol dengan 
pak Arifin dan pak George, saya lihat di sana banyak pendukung keduanya. Dan 
ternyata, lima orang Komite Normalisasi ada di sana. Saat itu saya baru sadar, 
mereka pendukung pak Arifin.

Ketika saya ke FIFA, Thierry juga menanyakan kepada saya, apakah di Komite 
Normalisasi ada pendukung pak Arifin. Saya jawab, 'Bukan hanya ada tapi ada 
lima orang, mayoritas'. Lalu saya bertanya, dari mana FIFA dapat nama saya dan 
ketujuh anggota Komite Normalisasi. Tapi Thierry tidak menjawabnya.

Thierry lalu mengatakan 'Terserah pak Agum, apakah kelimanya mau diganti. 
Ajukan saja siapa nama penggantinya'. Tapi saya jawab tidak, karena saya bisa 
menggiring mereka untuk mengangkat kepentingan nasional.

Nah yang menyangkut keputusan mengenai pak George dan pak Arifin ditolak atau 
gugur verifikasi, pada 27 April kita rapat dengan seluruh anggota Komite 
Normalisasi kecuali pak Samsul (Ashar). Saya katakan, 'Kita dibentuk FIFA, 
karena itu kita harus mematuhi petunjuk dari FIFA. Artinya apa, FIFA mengatakan 
George dan Arifin tidak layak maju sebagai calon. Sudah ditolak, maka ini harus 
jadi pegangan kita .

Saya tahu Anda-Anda pendukung pak George dan Arifin, tapi Anda-Anda berada di 
lembaga yang dibentuk FIFA yang membawa misi FIFA. Jadi kita harus mengikuti 
petunjuk FIFA. Ini stand point saya sebagai ketua. Terserah Anda-Anda. Kalau 
tidak sependapat dengan saya, tetap Pak George dan Arifin itu hak Anda. Kalau 
seperti itu Anda mengabaikan petunjuk FIFA, tidak bisa dong berada dalam satu 
wadah yang dibentuk FIFA. Silahkan Anda memilih. Kalau tetap Pak Arifin dan 
George, kita harus pisah.'

Mereka lalu minta waktu, satu hari. Keesokan harinya kami kembali bertemu, 
kecuali Samsul. Saya tanyakan kepada mereka satu persatu. Saya persilahkan 
mereka menyampaikan pendapat satu per satu.  Semuanya sepakat untuk 
mendahulukan bangsa dan negara. Saya merasa sangat terharu dan saya katakan 
kalau saya hormat kepada mereka semua karena meski tetap mendukung  Pak George 
dan Arifin tetapi akhirnya demi kepentingan yang lebih besar mereka mau 
menerima keputusan FIFA.

Malam itu diputuskan, Geroge, Arifin, dan Nirwan tidak disertakan pada proses 
verifikasi beserta ketujuh anggota Komite Eksekutif PSSI yang lama. Itu juga 
dari saran mereka. Semuanya tanda tangan. 

Keesokan harinya, 29 April 2011 jumpa pers untuk mengumumkan keputusan Komiter 
Normalisasi. Sebelumnya kita kumpul dulu di ruang rapat, saya cek lagi mengenai 
kesiapan bertujuh, tidak ada perubahan. Sebelum jumpa pers saya ajak 
berangkulan dan berdoa agar keputusan ini diridhoi yang Maha Kuasa.

Nah setelah jumpa pers, saya heran mulai muncul komentar-komentar mereka yang 
saya juga kaget kenapa begini. Ada yang Yang menyatakan saya otoriter. Saya 
akhirnya tanya pak Joko, kenapa bisa begini. Saya undang untuk bertemu 
responnya juga tidak bagus. Sampai kemarin, saya coba mengumpulkan mereka tidak 
juga bisa. 

Saya juga sedih kenapa keluar omongan seperti itu. Buktinya mereka sudah tanda 
tangan. Jadi tidak gentle, menusuk lagi dari belakang dengan mengatakan saya 
otoriter. Kalau saya otoriter saya tidak perlu ke Zurich sana. Dengan mandat 
yang diberikan FIFA sejak awal saya juga bisa menjalankan Komite Normalisasi. 
Tapi saya sudah berusaha akomodatif dan aspiratif. Saat menghadapi ke Zurich 
kelompok 78 mengatakan saya pahlawan. Tapi ketika perjuangan saya gagal, saya 
dituduh pengkhianat. 

Lalu apa langkah Anda selanjutnya?

Kalau sudah seperti ini, sabar saya sudah habis. Saya sudah terlalu 
komunikatif, terlalu akomodatif. Sudah saatnya saya harus bersikap tegas karena 
di sana (FIFA) Thierry juga sudah menyarankan saya untuk reshuffle sejak dua 
minggu lalu. Saat itu saya masih punya keyakinan, namun sekarang apa boleh buat.

Kami telah mengirimkan nama-nama calon pengganti. Ada enam yang kami ajukan, 
tapi keputusan FIFA apa mau mengganti dua atau berapa itu terserah mereka. Nama 
yang kami sodorkan ada ada enam orang.

Yang tiga kan sudah sudah oke, saya (Agum Gumelar), Joko (Driyono), dan Rudi 
Hadiatmo. Jadi yang lima lainnya (Sukawi Sutarip (Pengprov PSSI Jawa Tengah), 
Siti Nuzanah (Arema), Samsul Ashar (Persik Kediri), H. Satim Sofyan (Pengprov 
PSSI Banten), dan Dityo Pramono (PSPS Pekanbaru)) yang akan diganti.

Kalau memang FIFA menilai Komite Normalisasi cukup 5 orang berarti hanya dua 
yang diganti. Terserah merekalah. Kami mengirim nama-nama itu dua hari lalu. 
Katanya sih besok (Kamis, 12 Mei 2011) sudah ada balasannya. 

Apa saran Anda kepada Kelompok 78?

Dukungan kelompok 78 terhadap George dan Arifin itu wajar-wajar saja. Namun 
mereka harus legowo menerima kenyataan bahwa perjuangan yang saya lakukan telah 
gagal. Usaha-usaha yang lain juga gagal atau tim yang mereka bentuk untuk ke 
FIFA juga gagal. Saya tetap berharap kelompok 78 bisa berjiwa besar.

Bahwa pada Kongres nanti mereka tidak mau datang karena George dan Arifin  
tidak lolos itu silahkan saja. Memboikot kongres itu juga hak mereka. Namun, 
jangan ada keinginan menyabot Kongres dengan cara-cara anarkis atau dengan 
tindakan lain yang menimbulkan anarkis. Ah tolong lah, saya sarankan urungkan 
niat itu. Kalau sampai melakukannya kami siap menghadapinya. Masyarakat juga 
sudah bosan dengan aksi anarkis. 

Saya ingin spirit rekonsiliasi kita angkat ke permukaan. Artinya, lupakan masa 
lalu yang kelam yang banyak diwarnai sikap arogan, saling tuduh, saling maki, 
saling caci. Marilah kita lupakan itu. Jangan lagi kita ungkit-ungkit kesalahan 
yang lama. Dari pemerintahan yang lama ada beberapa hal yang baik yang harus 
kita teruskan namun banyak hal yang harus kita lupakan tanpa harus lewat caci 
maki. 

Sekarang yang penting kita berdoa agar kongres bisa berjalan. Apapun hasil 
kongres ini saya akan tetap mengawal agar kepengurusan baru ini tidak sama 
seperti kepengurusan dulu. Saya akan duduk di dewan kehormatan. Saya ingin 
mengajak masyarakat Indonesia menyadari bahwa warisan sejati dari olahraga 
adalah persahabatan bukan kebencian. Ini yang dikumandangkan oleh tokoh 
olahraga kita, pak Wismoyo Arismunandar.

. VIVAnews 

Kirim email ke