Tulisan yang bikin gerah buat Para Feodalis ………

Hari gini masih feodal ???


**********************************************************


TULISAN TERBARU


 
<http://dahlaniskan.wordpress.com/2011/12/12/kursi-feodal-bertabur-puntung-rokok/>
 Kursi Feodal Bertabur Puntung Rokok


POSTED BY  <http://dahlaniskan.wordpress.com/author/pramudyaputrautama/> 
ADMINISTRATOR ⋅ 12 DESEMBER 2011

 

Gaji dan fasilitas sudah tidak kalah. Kemampuan orang-orang BUMN juga sudah 
sama dengan swasta. Memang iklim yang memengaruhinya masih berbeda, namun 
plus-minusnya juga seimbang. Apakah yang masih jauh berbeda? Tidak meragukan 
lagi, kulturlah yang masih jauh berbeda. Di BUMN pembentukan kultur korporasi 
yang sehat masih sering terganggu.

Terutama oleh kultur saling incar jabatan dengan cara yang curang: menggunakan 
backing. Baik backing dari dalam?maupun dari luar. Backing dari dalam biasanya 
komisaris atau pejabat tinggi Kementerian BUMN. Tidak jarang juga ada yang 
menunggangi serikat pekerja. Sedangkan, backing dari luar biasanya pejabat 
tinggi kementerian lain, politisi, tokoh nasional, termasuk di dalamnya tokoh 
agama.?

Saya masih harus belajar banyak memahami kultur yang sedang berkembang di semua 
BUMN. Itulah sebabnya sampai bulan kedua ini, saya masih terus-menerus 
mendatangi unit usaha dan berkeliling ke kantor-kantor BUMN. Saya berusaha 
tidak memanggil direksi BUMN ke kementerian, melainkan sayalah yang mendatangi 
mereka.

Sudah lebih 100 BUMN dan unit usahanya yang saya datangi. Saya benar-benar 
ingin belajar memahami kultur manajemen yang berkembang di masing-masing BUMN. 
Saya juga ingin menyelami keinginan, harapan, dan mimpi para pengelola BUMN 
kita. Saya ingin me-manufacturing hope.?

Dengan melihat langsung kantor mereka, ruang direksi mereka, ruang-ruang rapat 
mereka, dan raut wajah-wajah karyawan mereka, saya mencoba menerka kultur apa 
yang sedang berkembang di BUMN yang saya kunjungi itu. Karena itu, kalau saya 
terbang dengan Citilink atau naik KRL dan kereta ekonomi, itu sama sekali bukan 
untuk sok sederhana, melainkan bagian dari keinginan saya untuk menyelami 
kultur yang lagi berkembang di semua unit usaha.?

Kunjungan-kunjungan itu tidak pernah saya beritahukan sebelumnya. Itu sama 
sekali bukan dimaksudkan untuk sidak (inspeksi mendadak), melainkan untuk bisa 
melihat kultur asli yang berkembang di sebuah BUMN. Apalagi saya termasuk orang 
yang kurang percaya dengan efektivitas sidak.

Karena itu, kadang saya bisa bertemu direksinya, kadang juga tidak. Itu tidak 
masalah. Toh, kalau tujuannya hanya ingin bertemu direksinya, saya bisa panggil 
saja mereka ke kementerian. Yang ingin saya lihat adalah kultur yang berkembang 
di kantor-kantor itu. Kultur manajemennya.

Dari tampilan ruang kerja dan ruang-ruang rapat di BUMN itu, saya sudah bisa 
menarik kesimpulan sementara: BUMN kita masih belum satu kultur. Kulturnya 
masih aneka ria. Masing-masing BUMN berkembang dengan kulturnya 
sendiri-sendiri. Jelekkah itu” Atau justru baikkah itu” Saya akan 
merenungkannya: perlukah ada satu saja corporate culture BUMN” Ataukah 
dibiarkan seperti apa adanya” Atau, perlukah justru ada kultur baru sama sekali”

Presiden SBY benar. Ada beberapa kantor mereka yang sangat mewah. Beberapa 
ruang direksi BUMN “beberapa saja” sangat-sangat mewahnya. Tapi, banyak juga 
kemewahan itu yang sebenarnya peninggalan direksi sebelumnya.

Salahkah ruang direksi BUMN yang mewah” Belum tentu. Kalau kemewahan itu 
menghasilkan kinerja dan pelayanan kepada publik yang luar biasa hebatnya, 
orang masih bisa memaklumi. Tentu saja kemewahaan itu tetap salah: kurang peka 
terhadap perasaan publik yang secara tidak langsung adalah pemilik perusahaan 
BUMN.

Kemewahan itu juga tidak berbahaya kalau saja tidak sampai membuat direksinya 
terbuai: keasyikan di kantor, merusak sikap kejiwaannya dan lupa melihat bentuk 
pelayanan yang harus diberikan. Namun, sungguh sulit dipahami manakala 
kemewahan itu menenggelamkan direksinya ke keasyikan surgawi yang lantas 
melupakan kinerja pelayanannya.?

Di samping soal kemewahan itu, saya juga masih melihat satu-dua BUMN yang dari 
penampilan ruang-ruang kerja dan ruang-ruang rapatnya masih bernada feodal. 
Misalnya, ada ruang rapat yang kursi pimpinan rapatnya berbeda dengan 
kursi-kursi lainnya. Kursi pimpinan rapat itu lebih besar, lebih empuk, dan 
sandarannya lebih tinggi.

Ruang rapat seperti ini, untuk sebuah perusahaan, sangat tidak tepat. Sangat 
tidak korporasi. Masih mencerminkan kultur feodalisme. Saya tidak mempersoalkan 
kalau yang seperti itu terjadi di instansi-instansi pemerintah. Namun, saya 
akan mempersoalkannya karena BUMN adalah korporasi.

Harus disadari bahwa korporasi sangat berbeda dengan instansi. Kultur menjadi 
korporasi inilah yang masih harus terus dikembangkan di BUMN. Saya akan cerewet 
dan terus mempersoalkan hal-hal seperti itu meski barangkali akan ada yang 
mengkritik “menteri kok mengurusi hal-hal sepele”.

Saya tidak peduli. Toh, saya sudah menyatakan secara terbuka bahwa saya tidak 
akan terlalu memfungsikan diri sebagai menteri, melainkan sebagai chairman/CEO 
Kementerian BUMN.

Efektif tidaknya sebuah rapat sama sekali tidak ditentukan oleh bentuk kursi 
pimpinan rapatnya. Rapat korporasi bisa disebut produktif manakala banyak ide 
lahir di situ, banyak pemecahan persoalan ditemukan di situ, dan banyak langkah 
baru diputuskan di situ. Saya tidak yakin ruang rapat yang feodalistik bisa 
mewujudkan semua itu.

Saya paham: kursi pimpinan yang berbeda mungkin dimaksudkan agar pimpinan bisa 
terlihat lebih berwibawa. Padahal, kewibawaan tidak memiliki hubungan dengan 
bentuk kursi. Susunan kursi ruang rapat seperti itu justru mencerminkan bentuk 
awal sebuah terorisme. Terorisme ruang rapat.

Ide-ide, jalan-jalan keluar, keterbukaan, dan transformasi kultur korporasi 
tidak akan lahir dari suasana rapat yang terteror. “Terorisme ruang rapat” 
hanya akan melahirkan turunannya: ketakutan, kebekuan, kelesuan, dan 
keapatisan. Bahkan, “terorisme ruang rapat” itu akan menular dan menyebar ke 
jenjang yang lebih bawah. Bisa-bisa seseorang yang jabatannya baru kepala 
cabang sudah berani minta agar kursi di ruang rapatnya dibedakan!

Tentu saya tidak akan mengeluarkan peraturan menteri mengenai susunan kursi 
ruang rapat. Biarlah masing-masing merenungkannya. Saat kunjungan pun, saat 
melihat ruang rapat seperti itu, saya tidak mengeluarkan komentar apa-apa. Juga 
tidak menampakkan ekspresi apa-apa. Saya memang kaget, tetapi di dalam hati.

Yang juga membuat saya kaget (di dalam hati) adalah ini: asbak. Ada asbak yang 
penuh puntung rokok di ruang direksi dan di ruang rapat. Ruang direksi yang 
begitu dingin oleh AC, yang begitu bagus dan enak, dipenuhi asap dan bau rokok.

Saya lirik agak lama asbak itu. Penuh dengan puntung. Menandakan betapa serunya 
perokok di situ. Saya masih bisa menahan ekspresi wajah kecewa atau marah. Saya 
ingin memahami dulu jalan pikiran apa yang kira-kira dianut oleh direksi 
seperti itu. Apakah dia merasa sebagai penguasa yang boleh melanggar peraturan? 
Apakah dia mengira anak buahnya tidak mengeluhkannya? Apakah dia mengira untuk 
hal-hal tertentu pimpinan tidak perlu memberi contoh?

Soal rokok ini pun, saya tidak akan mengaturnya. Sewaktu di PLN saya memang 
sangat keras melawan puntung rokok. Tetapi, di BUMN saya serahkan saja soal 
begini ke masing-masing korporasi. Hanya, harus fair. Kalau direksinya boleh 
merokok di ruang kerjanya, dia juga harus mengizinkan semua karyawannya merokok 
di ruang kerja mereka. Dia juga harus mengizinkan semua tamunya merokok di situ.

“Kursi feodal” dan “puntung rokok” itu terserah saja mau diapakan. Saya hanya 
khawatir jangan sampai “nila setitik merusak susu se-Malinda”. Bisa menimbulkan 
citra feodal BUMN secara keseluruhan. Padahal, itu hanya terjadi di satu-dua 
BUMN. Selebihnya sudah banyak yang sangat korporasi.(*)

Dahlan Iskan
Menteri  BUMN

http://dahlaniskan.wordpress.com/

Kirim email ke