Ini yang menurut Jamil Azzaini, motivator, adalah yang didasarkan pada Hukum 
Kekekalan Energi. Energi tidak akan musnah tapi hanya berganti bentuk. Energi 
positif akan menjadi sesuatu yang positif. Demikian juga energi negatif, ianya 
akan menjadi sesuatu yang negatif ....

Waspadalah !!!

===========================================

Harta yang tiada habisnya (bagian kedua-terakhir)
Posted on Oktober 15, 2008 | 3 Komentar


Di bagian pertama saya sudah cerita soal harta pertama yaitu pendidikan.

Bagian kedua ini saya akan bercerita tentang EBA (Emotional Bank Account).

Perkenalan pertama saya dengan EBA sebenarnya sudah cukup lama, waktu saya 
dapat pelatihan tentang 'Seven Habits'-nya Stephen Covey, sebagai bagian dari 
Astra Basic Management Program (ABMP).

Tetapi perkenalan pertama itu terus terang tidak terlalu berkesan, dan memori 
saya tentang EBA kemudian menguap tidak berbekas.

Perkenalan kedua adalah beberapa tahun kemudian, ketika saya kembali secara 
tidak sengaja membaca tentang EBA. Waktu itu saya sedang di masa -masa 
menyenangkan sesudah melewati masa-masa sulit waktu pertama kali jadi Dept Head 
di Volex Indonesia (buat yang belum tahu kisahnya, silahkan tilik tulisan saya 
sebelumnya : Bekerja di negeri orang - bagian ketiga ).

Saat saya waktu itu membaca kembali tentang EBA, pelan-pelan saya refleksikan 
dengan pengalaman hidup yang sudah saya alami dan saya sampai pada kesimpulan 
bahwa tanpa saya sadari saya sebenarnya sudah melakukan cara-cara yang disebut 
Stephen Covey untuk mengumpulkan EBA, dan sekaligus saya sudah merasakan 
manfaatnya.

Apa itu EBA ? Kalau diterjemahkan secara harafiah, EBA berarti 'rekening bank 
emosional'. Tetapi berbeda dengan bank yang kita kenal selama ini, untuk 
memiliki EBA, Anda tidak perlu uang sama sekali.

Dengan bahasa sederhana, sepemahaman saya EBA adalah suatu tabungan emosional 
yang Anda akan miliki dalam interaksi dengan orang lain, yang jumlahnya 
tergantung pada neraca (selisih) antara 'kebaikan' yang Anda lakukan secara 
tanpa pamrih dengan 'kejahatan' yang Anda lakukan (baik sadar maupun tidak 
sadar) pada orang tersebut. Otomatis, semakin sering Anda berbuat 'kebaikan' 
dan semakin jarang melakukan 'kejahatan', tabungan Anda akan semakin besar. 
Demikian sebaliknya, kalau Anda lebih sering melakukan 'kejahatan', otomatis 
tabungan Anda akan berkurang dan malah akan berada di posisi negatif.

Apa maksudnya dengan 'kebaikan' tanpa pamrih? Banyak hal, termasuk hal-hal yang 
kelihatannya kecil tetapi karena Anda melakukannya dengan sepenuh hati dan 
tanpa pamrih buat orang lain, sebenarnya bermakna besar terutama buat orang 
itu. Semisal, kata-kata yang baik dan sopan, pujian, menguatkan dan 
menyemangati orang lain, senyuman dan sapaan, memahami dan emphaty dengan orang 
lain, perhatian pada orang lain hingga ke hal-hal kecil yang besar artinya buat 
seseorang (contoh : ingat nama orang yang baru kenalan sekali), senang berbagi 
dan memberi tanpa pamrih, menjaga komitment dan janji, jujur, terbuka termasuk 
dalam menyampaikan aspirasi dan ekspektasi, menjaga integritas, berani 
bertanggung jawab dan mau minta maaf dengan sepenuh hati kalau melakukan 
kesalahan pada orang lain.

Lalu apa yang dianggap 'kejahatan' yang bisa mengurangi EBA ? Gampangnya adalah 
semua yang berlawanan dengan hal-hal yang dikategorikan 'kebaikan' di atas. 
Kalau Anda sering tidak memenuhi janji, otomatis rekening EBA Anda akan 
berkurang. Kalau Anda suka bohong, Anda suka menyalahkan orang lain, Anda 
selalu memberi dengan suatu pamrih, maka rekening EBA Anda akan berkurang, dan 
begitu seterusnya.

EBA tidak hanya tercipta dengan orang lain dalam pengertian bukan dalam 
lingkungan keluarga atau orang-orang terdekat Anda. EBA juga berlaku buat 
orang-orang terdekat Anda termasuk yang berada di lingkungan keluarga. Berlaku 
dalam hubungan Anda dengan istri/suami, hubungan Anda dengan anak/orangtua, 
paman, sepupu, dan sebagainya.

Berbeda dengan konsepnya Stephen Covey yang mengatakan EBA bisa habis dan malah 
negative, saya berpendapat bahwa EBA akan menjadi harta yang tiada habisnya 
kalau memang pada dasarnya Anda adalah orang baik. Artinya, 'baik' itu adalah 
karakter Anda, sifat dasar Anda, bukan sesuatu yang dibuat-buat untuk suatu 
kepentingan.

Kalaupun sampai Anda menyakiti hati seseorang atau berbuat jahat kepada 
seseorang sedemikian rupa, mungkin saja EBA Anda di orang tersebut akan jadi 
negatif. Tapi kalau memang Anda orang baik, kecil kemungkinan Anda melakukan 
hal sejahat itu kepada semua orang yang Anda kenal, bukan ? Jadi kalau Anda 
punya EBA positif di setiap anggota keluarga Anda, di setiap kenalan Anda, 
setiap orang dalam network Anda, bahkan mungkin kepada orang yang Anda baru 
temui di jalan, otomatis neraca EBA Anda secara keseluruhan tidak akan pernah 
negatif dan Anda akan punya harta yang tiada habisnya. Bagaimana bisa habis 
kalau dasarnya adalah sesuatu yang tanpa pamrih, otomatis gak pernah 'ditarik' 
dan kemungkinan besar malah bertambah terus..   

Dalam pengertian lain, saya memandang EBA itu sesuatu yang tumbuh dari kasih 
yang kita bagikan atau kita tunjukkan kepada keluarga, kenalan, orang lain dan 
sesama kita. Otomatis ini tidak akan pernah habis kalau kita sering (atau 
selalu) berbagi kasih tanpa pamrih kepada orang lain.

Saya sampai kepada pemahaman ini berdasarkan refleksi pengalaman hidup saya 
selama ini, baik dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan profesional / 
karir/pekerjaan. Sebagai contoh seperti saya ceritakan tentang masa-masa sulit 
waktu awal masuk Volex Indonesia, alih-alih membalas resistensi orang-orang di 
sekitar saya dengan sesuatu yang negatif, saya berusaha berbagi dan menunjukkan 
bahwa saya orang yang bisa dipercaya dan berintegritas baik sebagai rekan 
sejawat maupun atasan. Yang saya lakukan waktu itu adalah secara rutin pada 
rapat bulanan Departemen saya selalu buat agenda setengah jam untuk sharing 
knowledge. Apa yang pernah saya pelajari di AIT termasuk ilmu-ilmu manajemen 
ala Astra, saya bagikan dengan anak-anak buah saya, terutama yang sudah di 
level Ka Shift sampai Supervisor. Efeknya ternyata luar biasa. Anak-anak buah 
saya yang tadinya resisten atas kehadiran saya sebagai atasan mereka, 
pelan-pelan mulai menunjukkan respek. Mereka mulai rajin bertanya dan 
berdiskusi. Semakin saya berusaha membantu mereka mencari jawaban atas 
pertanyaan atau permasalahan mereka, semakin mereka respect dan akhirnya 
hubungan profesional dengan anak-anak buah saya menjadi sangat harmonis. Saya 
juga memberlakukan 'English Day' di departemen kami, dan meski English saya 
tidak bagus2 amat, tetapi dengan membantu mereka latihan dan conversation in 
English, pelan-pelan rasa percaya diri mereka terbangun dengan rutin latihan 
berbicara dalam bahasa Inggris. Maklum, urusan dengan Regional staff, supplier 
dan customers mayoritas harus dilakukan dengan Bahasa Inggris.

Selain itu saya selalu menjaga integritas dan komitment. Saya tidak pernah plin 
plan di depan anak-anak buah dan saya selalu memperjuangkan mereka jika saya 
tahu mereka benar. Pekerjaan sebagai QA/QC di manufacturing adalah pekerjaan 
yang sulit karena harus selalu 'fight' dengan Produksi, PPC, Purchasing dan 
Engineering. Tapi sejalan dengan semakin banyak ilmu2 yang diterima team QA/QC 
termasuk QC inspector di floor, plus semakin confident berbahasa Inggris, 
pelan-pelan mereka mendapatkan respect dari Departemen lain. Otomatis judgement 
mereka sebagai QC pun semakin dihargai Departemen lain, termasuk Departemen 
Head di Produksi (yang expat) dan Dept Head Engineering (yang expat juga). 
Prinsip2 EBA yang disebut Stephen Covey tanpa sadar sudah saya lakukan dan 
akhirnya terbukti manjur dalam melalui masa-masa sulit di Volex dan pada 
akhirnya membantu saya menjalankan tugas sebagai atasan. Dengan EBA yang 
positif, hubungan saya dengan anak buah dan rekan sejawat menjadi harmonis.

Begitu pula jika kita aplikasikan pada kehidupan pribadi kita, terutama dalam 
hubungan dengan keluarga. Kasih dalam keluarga menurut saya merupakan sumber 
EBA yang sangat penting.

Sering kali saat masih anak-anak sampai remaja, EBA diantara sesama saudara 
neraca positifnya masih sangat besar. Tapi biasanya sesudah pada menikah dan 
menjalani hidup masing-masing, EBA menjadi berkurang, malah pada akhirnya bisa 
berujung pada pertengkaran. Ini sesuatu yang jamak terjadi, padahal awalnya 
mungkin dimulai dari melupakan hal-hal yang kelihatannya kecil tapi sebenarnya 
berarti besar buat keluarga kita. Misalnya, lupa janji pada saudara, lupa 
mengucapkan selamat ultah pada saudara, istri, atau jarang komunikasi meski 
hanya sekedar nanya kabar, dan lain-lainnya. Akhirnya neraca EBA kita dengan 
sanak keluarga pelan-pelan menjadi negatif. Saat sudah negatif, yang ada  
adalah hubungan yang tidak harmonis dan berujung pada pertengkaran. Di sekitar 
kita banyak saudara kandung sedarah yang tidak saling omongan satu sama lain 
sesudah punya kehidupan masing-masing. Kemana kasih saat masih anak2 dulu ? 
Jawabannya, menguap bersama neraca EBA yang negatif.

Hal yang sama berlaku dalam hubungan suami dengan istri. Hubungan yang menjadi 
hambar biasanya tanda-tanda bahwa EBA sudah negatif. Kalau Anda mulai mengalami 
hubungan yang hambar, cobalah mulai introspeksi kapan terakhir kali Anda memuji 
suami/istri, kapan terakhir kali Anda berterima kasih pada suami / istri, 
berapakali Anda ingkar janji pada suami/istri, berapa kali Anda membentak 
suami/istri atau mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan hati. Saya yakin 
jawaban untuk hubungan yang mulai hambar adalah 'tidak pernah' buat dua 
pertanyaan pertama dan 'sering' buat pertanyaan lainnya. Jika hubungan mulai 
hambar itu tandanya EBA di antara Anda berdua sudah negatif neracanya.. 
Bagaimana memperbaikinya ? Cobalah mulai menabung lagi supaya neraca kembali 
positif:-)

Orang memang bisa saja berubah sejalan dengan waktu. Tapi kalau sifat dasar 
Anda adalah berbagi, berbuat baik dan mengasihi orang lain tanpa pamrih, 
berintegritas, berkomitment, jujur dan terpercaya, dan Anda setia melakukan 
semua hal itu, yakinlah bahwa EBA Anda akan semakin bertumbuh ke arah neraca 
positif. Inilah jenis harta lain yang tidak ada habisnya dan tidak bisa dinilai 
besarnya dalam ukuran Rupiah, Dollar atau ukuran harta duniawi lainnya. Karena 
dengan harta yang ini, Anda akan memiliki hubungan jangka panjang yang harmonis 
dengan orang-orang yang Anda kasihi, orang-orang yang Anda kenal, termasuk 
orang-orang dalam lingkaran network Anda.

Selamat mencoba membuka rekening bank emosional (EBA) sebanyak-banyaknya dan 
menjaga neracanya terus bertumbuh positif .. 

---SELESAI-------



http://erwinbaja.wordpress.com/2008/10/15/harta-yang-tiada-habisnya-bagian-kedua-terakhir/

Attachment: icon_smile.gif?m=1336659725g
Description: Binary data

Kirim email ke