Kalo semua orang mudik (tidak ada yang tidak mudik), trus yang menerima zakat 
dan menyalurkan zakat siapa dong, pak ? Sama halnya ketika, aturan i'tikaf 
harus tetap bermukim di Masjid (tidak keluar dari area Masjid), siapa yang 
mengatur perekonomian, organisasi, perusahaan, keamanan dsb.

just intermezzo ....
  ----- Original Message ----- 
  From: jaerony 
  To: [email protected] 
  Sent: Thursday, August 16, 2012 9:07 AM
  Subject: [porsenipar] Budaya Mudik dan Dampak Positifnya


  Mudik sama dengan berheboh-ria. Tidak mudik berarti tidak heboh. Selamat 
mudik!
  ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

  Budaya Mudik dan Dampak Positifnya
  Musni Umar - detikNews
  Jakarta Fenomena pulang kampung (mudik) pada saat Idul Fitri telah menjadi 
peristiwa budaya dan keagamaan yang sangat semarak. Menjelang Idul Fitri 1433 
H, menurut Suroyo Alimoeso, Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan 
RI, diprediksi jumlah pemudik mencapai 16 juta jiwa.
  Besarnya jumlah pemudik yang puncaknya diperkirakan dua-tiga hari menjelang 
Idul Fitri, telah menimbulkan permasalahan yang tidak mudah dipecahkan. Karena 
dalam waktu yang hampir bersamaan puluhan juta orang melakukan perjalanan 
mudik, melalui darat dengan kendaraan sepeda motor, mobil, kendaraan umum (bus) 
dan kereta api, serta udara dengan pesawat terbang, dan laut dengan kapal laut. 
Permasalahan yang ditimbulkan dari mudik antara lain: 

  Pertama, banyak kecelakaan lalulintas. Dari tahun ke tahun, terus meningkat 
angka kecelakaan. Tahun ini H-9 dan H-8 (Sabtu 11/8 dan Minggu 12/8), menurut 
Data Kepolisian Republik Indonesia telah meninggal sebanyak 88 orang. 
Kecelakaan paling banyak ialah pengendara sepeda motor. Faktor kecelakaan 
banyak disebabkan oleh faktor manusia, kendaraan, jalan raya, dan cuaca. 
Walaupun angka kecelakaan tinggi, para pemudik tidak takut dengan bahaya yang 
mengancam.

  Kedua, berutang dan menggadaikan barang demi mendapatkan uang untuk biaya 
mudik. Ini merupakan permasalahan dan tantangan yang setiap tahun dijalani 
sebagian pemudik. Demi mudik ke kampung halaman, mereka berutang dan 
menggadaikan barang.

  Ketiga, biaya perjalanan meningkat berlipat kali, karena semua moda 
transportasi menaikkan biaya menjelang dan sesudah lebaran Idul Fitri. Karena 
itu para mudik sebagian besar menggunakan kendaraan sepeda motor, walaupun 
tingkat kecelakaan sangat tinggi dari tahun ke tahun.

  Tujuan Mudik

  Beratnya tantangan yang dihadapi para pemudik, tidak pernah menyurutkan niat 
dan kemauan mudik ke kampung halaman. Paling tidak ada lima alasan yang menjadi 
tujuan para pemudik pulang kampung.

  Pertama, dorongan keagamaan yang telah menjadi budaya. Begitu kuat tarikan 
keagamaan yang telah menjadi budaya, karena Islam mengajarkan bahwa mereka yang 
sudah berpuasa akan diampuni dosa-dosanya. Akan tetapi, yang diampuni hanya 
dosa di hadapan Allah, sedang dosa kepada orang tua, saudara kandung, tetangga 
dan sekampung, tidak akan diampuni kecuali saling bermaaf-maafan dengan jabat 
tangan melalui silaturahim antara satu dengan yang lain. 

  Kedua, ziarah ke kubur. Telah menjadi budaya di kalangan masyarakat bahwa 
menjelang puasa Ramadan dan Idul Fitri, anak-anak, menantu, keluarga dan famili 
pergi berziarah ke kubur orang tua, kakek, nenek dan leluhur serta keluarga 
terdekat sambil mendoakan. Itu tidak mungkin dilakukan kalau tidak mudik. Bagi 
mereka yang berasal dari kampung. Maka dalam kesempatan Idul Fitri dilakukan 
ziarah ke kubur, selain silaturahim.

  Ketiga, rindu kampung halaman. Setiap tahun kerinduan kepada kampung halaman 
selalu diobati dengan mudik. Ini adalah fenomena sosial yang menarik sebagai 
makhluk sosial, rindu kepada asal usulnya di kampung halaman. Oleh karena itu, 
tantangan berat yang dihadapi untuk pulang kampung, tidak menjadi persoalan, 
mereka tetap lakoni dengan penuh kegembiraan dan kebahagiaan.

  Keempat, bernostagia di kampung halaman. Masa kecil di kampung halaman adalah 
masa-masa yang paling indah dan menyenangkan. Maka setiap tahun, kenangan indah 
itu, selalu ingin diperbaruai dengan pulang kampung sambil membawa keluarga 
seperti anak, menantu dan istri supaya ikut menghayati suasana kampung di masa 
dahulu.

  Kelima, unjuk diri kesuksesan di perantauan. Hal itu, ikut juga mewarnai 
perasaan sebagian pemudik untuk pulang kampung. Budaya pamer berlaku kepada 
semua tingkatan sosial. Maka momentum Lebaran, pulang kampung dengan niat yang 
bermacam-macam, salah satu adalah unjuk diri (pamer).

  Dampak Negatif Mudik

  Mudik Lebaran yang sudah menjadi budaya, diakui atau tidak, mempunyai dampak 
negatif. Pertama, konsumerisme, pamer kemewahan, boros dan berbagai perilaku 
yang tidak sepenuhnya sesuai dengan ajaran Islam dan tujuan puasa itu sendiri. 
Di mana hasil puasa selama sebulan penuh, seharusnya semakin menghadirkan 
ketakwaan yaitu kedekatan kepada Allah dan sesama manusia yang sebagian besar 
masih mengalami kesulitan hidup. Mereka masih dihimpit kemiskinan, kebodohan 
dan keterbelakangan. �
  Kedua, bisa mengundang cemburu dan iri hati para penduduk kampung.

  Pulangnya para pemudik untuk berlebaran di kampung halaman, dengan memamerkan 
kemewahan misalnya mobil yang bagus, baju dan sepatu yang baru, bisa 
menimbulkan 'cultural shock' (goncangan budaya). Di mana orang-orang kampung 
atau desa meniru dan mengikuti cara hidup orang kota yang pulang kampung, 
misalnya berutang dan atau menjual harta benda seperti tanah untuk membeli 
motor, mobil dan sebagainya sebagai asesori kemewahan.

  Bisa juga orang-orang kampung terutama anak-anak muda, laki-laki dan 
perempuan merantau, dalam rangka mengikuti jejak para pemudik. Untuk 
mendapatkan harta dan kemewahan, mereka menghalalkan segala cara untuk 
mendapatkan uang dan harta, supaya tahun berikutnya, mereka juga bisa mudik dan 
menampilkan kekayaan dan kemewahan seperti saudara-saudaranya yang mudik tahun 
lalu. 

  Ketiga, memacu urbanisasi dan migrasi. Mudik Lebaran, juga bisa berdampak 
negatif yang memacu peningkatan urbanisasi, yaitu perpindahan penduduk dari 
kampung atau desa ke berbagai kota di Indonesia. Selain itu, juga dapat 
mendorong meningkatnya migrasi, yaitu perpindahan penduduk dari satu negara ke 
negara lain. Dalam sejarah mudik Lebaran, sudah terbukti bahwa usai mudik 
lebaran, semakin banyak orang kampung yang melakukan urbanisasi, meninggalkan 
kampung halamannya untuk mencari kehidupan di kota.

  Sebenarnya peristiwa urbanisasi dan migrasi adalah sesuatu yang lumrah dalam 
kehidupan modern, dan merupakan hak asasi setiap orang yang dijamin dan 
dilindungi oleh hukum dan undang untuk melakukan sesuai yang diinginkan. Akan 
tetapi, urbanisasi dan migrasi ke negara lain misalnya ke negeri jiran 
Malaysia, dan Arab Saudi, banyak menimbulkan masalah, karena mereka yang 
melakukan urbanisasi dan migrasi ke negara lain, tidak memiliki pendidikan dan 
kepakaran (skill) yang memadai. Akibatnya untuk bertahan hidup di kota atau di 
negara lain, mereka terpaksa melakukan berbagai perbuatan yang bertentangan 
dengan hukum seperti menjadi penjual seks, peminta-minta, bahkan pencuri dan 
perampok.

  Dampak Positif Mudik

  Mudik Lebaran, di samping menimbulkan dampak negatif, juga banyak dampak 
positifnya. Pertama, dampak ekonomi. Mudik para perantau telah menimbulkan 
dampak positif bagi ekonomi di kampung halaman. Mereka pulang dengan membawa 
uang dan berbelanja telah mendorong perputaran ekonomi yang tinggi di kampung, 
sehingga para petani, nelayan dan pemerintah daerah mendapat manfaat ekonomi. 
Mereka menyewa hotel dan penginapan, telah mendorong kemajuan kampung halaman 
karena membuka dan memajukan bisnis penginapan dan hotel. Belum lagi, pemudik 
memberi sedekah, zakat fitrah dan zakat harta (mal) kepada keluarga dan 
penduduk di kampung halaman mereka.

  Kedua, silaturahim (hubungan kasih sayang) antara pemudik dan penduduk 
kampung terbangun kembali, yang selama hampir satu tahun tidak pernah bertemu. 
Ini sangat positif untuk memelihara, merawat dan menjaga bangunan kebersamaan 
satu kampung.

  Ketiga, persatuan dan kesatuan terjaga dan terpelihara. Bangsa Indonesia yang 
amat tinggi rasa keagamaan (religiusitas)-nya, telah memberi andil yang besar 
untuk menjaga, merawat dan memupuk rasa persatuan dan kesatuan seluruh bangsa 
Indonesia melalui medium silaturahim Idul Fitri. Hal ini, tidak bisa dinilai 
dengan pengorbanan harta dan tenaga yang dilakukan para pemudik.

  Keempat, pengamalan agama. Peristiwa mudik Lebaran, juga mempunyai dampak 
positif dalam pengamalan ajaran Islam. Karena di tengah kemajuan yang membawa 
manusia kepada perilaku individualistik, yang enggan berhubungan dengan pihak 
lain dan merasa terganggu, melalui medium silaturahim Idul Fitri dalam rangka 
hubungan manusia (hablun minannaas) tetap diamalkan, dan bahkan telah menjadi 
budaya seluruh bangsa Indonesia.

  Kelima, secara sosiologis, mudik Lebaran mendekatkan si perantau yang sudah 
sukses dengan mereka yang masih berdomisi di kampung halaman seperti orang tua, 
famili dan teman-teman. Peristiwa mudik, bisa memperbaharui kembali hubungan 
sosial dengan masyarakat sekampung, yang tentu berdampak positif dalam 
memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa.

  Kesimpulan

  Peristiwa mudik Lebaran yang telah menjadi budaya, harus terus dipelihara, 
dijaga dan dilestarikan, karena dampak positifnya lebih banyak ketimbang dampak 
negatifnya. Yang harus dilakukan ialah mengurangi dampak negatif mudik dengan 
melakukan, pertama, meningkatkan kesadaran para pemudik bahwa keselamatan dalam 
perjalanan mudik adalah segalanya.

  Mereka yang akan mudik, dan sedang dalam perjalanan mudik, diharapkan semakin 
hati-hati menjaga keselamatan. Jangan memaksakan diri dalam perjalanan, harus 
berhenti dan beristirahat secukupnya baru melanjutkan lagi perjalanan. 

  Pada tahun-tahun mendatang, mudik dengan kendaraan bermotor secara bertahap 
harus dihentikan dengan menitipkan kendaraannya di kapal laut, dan kereta api 
untuk diantar ke kampung halaman. Suami istri, dan dan anak-anak, sebaiknya 
memilih kendaraan umum, kereta api atau kapal laut untuk keselamatan dalam 
perjalanan mudik.

  Kedua, pemerintah harus terus meningkatkan penyediaan transportasi massal 
untuk melayani pemudik. Selain itu, berbagai perusahaan yang peduli pemudik, 
dari jauh hari harus bekerja sama dengan media untuk memberitahu masyarakat 
tentang adanya penyediaan fasilitas mudik.

  Ketiga, para pemudik harus membuat perencanaan. Paling kurang tiga bulan 
sebelum mudik sudah memesan tiket dan menghubungi perusahaan atau organisasi 
yang biasa menyelenggarakan mudik bareng secara gratis.

  Keempat, pemerintah terutama Kementerian Pekerjaan Umum RI, sudah saatnya 
membuat jalan yang berkualitas tinggi untuk jangka waktu yang panjang. Jangan 
seperti sekarang, setiap tahun jalan raya yang dilalui pemudik dilakukan tambal 
sulam dan tidak pernah baik.

  Kelima, sudah saatnya seluruh bangsa Indonesia terutama para pemudik 
meningkatkan disiplin dalam berlalu lintas. Pada saat yang sama, aparat 
kepolisian sebagai aparat penegak keamanan, menindak mereka yang tidak disiplin 
dalam berlalu lintas.

  Semoga semangat mudik Lebaran mendorong seluruh bangsa Indonesia untuk 
mengambil hikmah yang positif dan negatif dari peristiwa mudik, demi perbaikan 
di masa depan.

  *) Musni Umar adalah pengamat sosial. Penulis tinggal di Jakarta.

  (vit/vit) 

Kirim email ke