Assalamu Alaikum

        Dari semua kejadian ada hikmahnya,

Saya cuman mengutip cerita seorang guru ngaji (nyambung lidah),

Versi Suroboyoan,
        
        " Dulu pada jamannya Rosullullah saw, ada seorang sahabat yang
dulunya bekas pemabuk, jagal dsb. Kemudian dia sadar dan akhirnya menikah
dan dia anggap sebagai karunia dari Allah SWT, dan tidak beberapa lama
juga dikaruniai seorang anak yang lucu. Beliaunya ini rajin datang ke
masjid untuk berjamaah dan pada suatu ketika tidak datang dibarisan saf
yang ada. Kemudian nabi bertanya "Di manakah si Fulan kok tidak biasanya
ia tidak berjamaah ?", ada sahabat lain yang memberi tahukan bahwa
beliaunya ini telah kehilangan putranya.
        
        Sepulang dari sholat berjamah di masjid nabi berkunjung ke rumah
beliaunya, dan ditanyakan oleh nabi "kenapa wahai fulan engkau tidak
datang berjamaah ?", maka jawab si fulan " Allah tidak adil, saya sudah
beribadah bersungguh-sungguh kemudian saya dikaruniai seorang anak dan
saya tingkatkan ibadah saya, kok anak saya sedang lucu-lucunya di panggil
(meninggal) oleh Allahg ", si fulan bercerita dengan menahan emosinya.
Kemudian nabi berkata " Maukah kamu saya beri kabar gembira ? ", maka nabi
menceritakan " Nanti pada suatu saat matahari tepat di atas kita (di
padang mashar), orang-orang pada kehausan mencariair minum, datanglah
seorang bayi membawa gelas berisi air minum dan orang-orang saling berebut
untuk menjangkaunya tetapi tidak bisa (krn bukan miliknya) kemudian bayi
itu menuju ke seseorang dan memberikan minum kepadanya. Kemudian ia
menunggu di dekat orang tersebut, sampai suatu saat oleh malaikat disuruh
kembali ketempatnya (surga) tapi si bayi ini tidak mau sambil berucab "
aku tidak mau kembali ketempatku kalau tidak dengan abaku( bapakaku) ",
dan oleh malaikat diulang tiga kali dan begitu terus jawab sang bayi.
Sampai akhirnya dengan perintah Allah SWT " Ya tuntunlah abamu ke surga ".
Kenudian Rosullullah saw menerangkan siapa bayi tersebut, yaitu bayi
(anak-anak) yang meninggal waktu kecil dan orang tuanya sabar waktu
ditinggalkannya.
        Kalau dilihat dari cerita tersebut maka hikmah yang terkandung
terlihat sangat-sangat jelas. Bisa jadi si anak kalau sudah besar jadi
lawan untuk bapaknya atau bikin jengkel, oleh sebab itu bener sekali kata
mas mahfud tadi kalau semua kejadian itu mesti ada hikmahnya dan untuk
orang yang patuh kepada Allah SWT hikmahnya pasti lebih besar. 

        "Dadine, nek weruh ilmune iku kabeh dadi gampang lan enteng di
         lakoni. Mangkane ayo kabeh podo nambahi ilmu terutama ilmu agomo"

Untuk mas Prazz dan istri semoga diberi kesabaran dan ketabahan, dan
semoga cerita ini dapat menambah kesabaran.


        " Anake uwong iku akeh salahe, aku iki cuman penyambung lidahe "

Kalau ada kekurangannya mohon dimaafkan.

Wassalamu Alaikum  
 

  • RE: Effendi Mahfud
    • Yazid Hasan

Kirim email ke