> -----Original Message-----
> From: Ilfantri
> Sent: Monday, July 31, 2000 9:55 AM
> To: Ade Nurhayati; Ahmad Tuhfah; 'Andree'; Arie Syam; Aris Ramlan;
> Asep Syafaat; Bagas Adikusumo; Bambang Yusbiadi; Bobby RBS; Budi Prakoso;
> Dicky Guntara; Dudy Rahmansyah; Edi Santosa; Fadhil Agustian; Gungun
> Gunawan; H. Irwan Syahrizal; Hamida Laksmi; Hasanudin; Heri Kurnia;
> Herman; Herry Hendrawan; Irman Frihatman; Ivan Surya; Julistiono; Meilya
> Sari Putri; Murtono; Muzaffar Muchtar; Nanang Harnoko; Nurhanny; Ophie
> Armaini; Wahyudi Prayogo; Ravi Firmansyah; Rio Rudianto; Rudi Setianto;
> Setiarso; Setio Koesoemo; Slamet Suryadi; Sri Prastuti; 'Subhan'; Suksie
> Syufaah; Sulamensi; Suryadi; Syafri Sumarli; Tedy Suhartono; Tejo Hatyono;
> Totok Priyambodo; Muhammad Iskandar; Wignyo Pranoto; Wiwin Windarti;
> Suzarah; Mukhtarudin; 'ERRY'
> Subject: KEDAHSYATAN SAAT MENJELANG MAUT ( tausiyah Al-istiqomah )
> bag. I
> Importance: High
>
> KEDAHSYATAN SAAT MENJELANG MAUT (1)
>
>
> Ketahuilah bahwa seandainya di hadapan manusia yang malang itu tidak
> ada teror, malapetaka ataupun siksaan kecuali sakratul maut saja, maka itu
> sudah cukup untuk menyusahkan hidupnya, menghalangi kegembiraannya, dan
> mengusir kealpaan maupun kelengahannya. Seharusnya dia senatiasa
> memikirkan hal ini dan meningkatkan perhatian dalam mempersiapkan diri
> untuk menghadapinya, apalagi karena setiap saat dia berada di dalam
> genggamannya. Sebagaimana pernah dikatakan oleh seorang filsuf,
> "malapetaka di tangan orang lain tak bisa diramalkan". Dan Luqman pernah
> berkata kepada anaknya, "Wahai, anakku. Jika ada sesuatu yang tak bisa kau
> pastikan bila dia datang, maka persiapkan dirimu untuk menghadapinya
> sebelum dia mendatangimu sedangkan engkau dalam keadaan lengah."
>
> Yang mengherankan adalah bahwa seringkali seorang manusia, meskipun
> dia tengah menikmati hiburan atau berada di tempat yang paling
> menyenangkan , akan merasakan cemas dengan kemungkinan kedatangan seorang
> tentara yang akan menyerangnya. Karena rasa cemas itu, kenyamanannya pun
> merasa terganggu dan napasnya terasa sesak. Akan tetapi, dia lalai akan
> keadaannya yang setiap saat bisa didatangi oleh Malaikat Maut yang akan
> menimpakan ke atas dirinya derita pencabutan nyawa. Tak ada lagi sebab
> bagi kelalaian seperti ini kecuali sikap masa bodoh dan keteperdayaan.
>
> Ketahuilah bahwa ke-luarbiasa-an rasa sakit dalam sakratul maut tak
> dapat diketahui dengan pasti kecuali oleh orang yang telah merasakannya.
> Sedangkan orang yang belum pernah merasakannya hanya bisa mengetahuinya
> dengan cara menganalogikannya dengan rasa sakit yang benar-benar pernah
> dialaminya, atau dengan cara mengamati orang lain yang sedang berada dalam
> keadaan sakratul maut. Lewat jalan analogi, yang akan membuktikannya
> derita sakratul maut, akan diketahui bahwa setiap anggota badan yang sudah
> tidak bernyawa tidak lagi bisa merasakan sakit.
>
> Jika ada jiwa, maka serapan rasa sakit itu tentulah berasal dari
> aktivitas jiwa. Dan ketika ada anggota tubuh yang terluka atau terbakar,
> maka pengaruhnya akan menjalar kepada jiwa. Dan sesuai dengan kadar yang
> menjalar ke jiwa, maka sebesar itu pula rasa sakit yang dialami oleh
> seseorang. Derita rasa sakit itu terpisah dari daging, darah, dan semua
> anggota tubuh yang lain. Tak ada yang bisa mencederai jiwa kecuali
> penyakit-penyakit tertentu. Jika salah satu dari sekian banyak penyakit
> langsung mengenai jiwa dan tidak berpencar ke bagian-bagian yang lain,
> maka betapa pedih dan kerasnya rasa sakit itu.
>
> Sakratulmaut adalah ungkapan tentang rasa sakit yang menyerang inti
> jiwa dan menjalar ke seluruh bagian jiwa, sehingga tak ada lagi satupun
> bagian jiwa yang terbebas dari rasa sakit itu. Rasa sakit tertusuk duri
> misalnya, menjalar pada bagian jiwa yang terletak pada anggota badan yang
> tertusuk duri. Sedangkan pengaruh luka bakar lebih luas karena
> bagian-bagian api menyebar ke bagian-bagian tubuh lain sehingga tidak ada
> bagian dalam ataupun luar anggota tubuh yang tidak terbakar, dan efek
> terbakar itu dirasakan oleh bagian-bagian jiwa yang mengalir pada semua
> bagian daging.Adapun luka tersayat pisau hanya akan menimpa bagian tubuh
> yang terkena,dan karena itulah rasa sakit yang diakibatkan oleh luka
> tersayat pisau lebih ringan daripada luka bakar.
>
> Akan tetapi rasa sakit yang dirasakan selama sakratulmaut menghujam
> jiwa dan menyebar ke seluruh anggota badan, sehingga pada orang yang
> sedang sekarat merasakan dirinya ditarik-tarik dan dicerabut dari setiap
> urat nadi, urat saraf, persendian, dari setiap akar rambut, kulit kepala
> sampai ke ujung jari kaki. Jadi, jangan Anda tanyakan lagi tentang derita
> dan rasa sakit yang tengah dialaminya.
>
> Karena alasan inilah dikatakan bahwa "maut lebih menyakitkan
> daripada tusukan pedang, gergaji atau sayatan gunting". Karena rasa sakit
> yang diakibatkan oleh tusukan pedang terjadi melalui asosiasi bagian tubuh
> yangtertusuk dengan ruh, maka betapa sangat sakitnya jika luka itu
> langsungdirasakan oleh jiwa itu sendiri ! Orang yang ditusuk bisa
> berteriakkesakitan karena masih adanya sisa tenaga dalam hati dan
> lidahnya.
> Sedangkan suara dan jeritan orang yang sekarat, terputus karena rasa sakit
> yang amat sangat dan rasa sakit itu telah memuncak sehingga tenaga menjadi
> hilang,semua anggota tubuh melemah, dan sama sekali tak ada lagi daya
> untuk berteriak meminta pertolongan. Rasa sakit itu telah melumpuhkan
> akalnya,membungkam lidahnya, dan melemahkan semua raganya. Dia ingin
> sekali meratap, berteriak, dan menjerit meminta tolong, namun dia tak
> kuasa lagi melakukan itu. Satu-satunya tenaga yang masih tersisa hanyalah
> suara lenguhan dan gemeretak yang terdengar pada saat ruhnya dicabut.
>
> Warna kulitnya pun berubah menjadi keabu-abuan menyerupai tanah liat,
> tanah yang menjadi sumber asal-usulnya. Setiap pembuluh darah dicerabut
> bersamaan dengan menyebarnya rasa pedih ke seluruh permukaan dan bagian
> dalamnya, sehingga bola matanya terbelalak ke atas kelopaknya, bibirnya
> tertarik ke belakang, lidahnya mengerut, kedua buah zakar naik, dan
> ujungjemari berubah warna menjadi hitam kehijauan. Jadi, jangan lagi Anda
> tanyakan bagaimana keadaan tubuh yang seluruh pembuluh
> darahnyadicerabut,sebab satu saja pembuluh darah itu ditarik, rasa
> sakitnya sudah tak kepalang. Jadi, bagaimanakah rasanya jika yang dicabut
> itu adalah ruh, tidak hanya dari satu pembuluh, tetapi dari semuanya?
>
> Kemudian satu per satu anggota tubuhnya akan mati. Mula-mula
> telapak kakinya menjadi dingin, kemudian betis dan pahanya. Setiap anggota
> badan merasakan sekarat demi sekarat, penderitaan demi penderitaan, dan
> itu terus terjadi hingga ruhnya mencapai kerongkongannya. Pada titik ini
> berhentilah perhatiannya kepada dunia dan manusia-manusia yang ada di
> dalamnya. Pintu
> taubat ditutup dan diapun diliputi oleh rasa sedih dan penyesalan.
>
> Rasulullah SAW bersabda : "Taubat seorang manusia tetap diterima
> selama dia belum sampai pada sakratulmaut." (Hakim, IV.257) Mujahid
> mengatakan [dalam menafsirkan] Firman Allah SWT, "Taubat bukanlah untuk
> mereka yang berbuat jahat, dan kemudian manakala maut telah datang kepada
> salah seorang di antara mereka, dia berkata : Sekarang aku bertaubat :"
> (QS 4:18) , yakni 'ketika dia melihat datangnyautusan-utusan maut' (yakni
> para malaikat).
>
> Pada saat ini, wajah Malaikat Maut muncul di hadapannya. Janganlah
> Anda bertanya tentang pahit dan getirnya kematian ketika terjadi
> sakratulmaut Karena itulah Rasulullah SAW bersabda : "Ya Allah Tuhanku,
> ringankanlah sakratulmaut bagi Muhammad." (Ibn Majah, Janaa'iz, 64)
> Sesungguhnya sebab manusia tidak memohon perlindungan darinya dan tidak
> memandangnya dengan penuh rasa gentar adalah karena kebodohan mereka. Ini
> karena banyak hal yang belum pernah terjadi hanya bisa diketahui melalui
> cahaya kenabian dan kewalian. Itulah sebabnya para nabi alaihimussalaam
> dan para walisenantiasa berada dalam keadaan takut kepada maut. Bahkan Isa
> a.s bersabda, "Wahai, para sahabat. Berdoalah kepada Allah SWT agar DIA
> meringankan sekarat ini bagiku. Sebab rasa takutku kepadanya setiap saat
> justru bisa menyeretku ke tepi jurangnya."
>
> (bersambung)
>
>