Suara Hidayatullah : September 2000
Berombongan Menuju Neraka, 
Sendirian Masuk Surga 
Rumah masa depan yang pasti bagi manusia adalah surga, atau neraka. Dengan
hanya ada dua finish tanpa alternatif ketiga itulah manusia dihidupkan
selama puluhan tahun, diberi fasilitas dan segala macam kemudahan, diberi
kesempatan, ilmu, juga arena bermain dan bertarung. Arena itu terus
dipergilirkan sesuai urutan yang sudah disusun, sejak dari manusia pertama
hingga manusia terakhir yang mati pada saat datang hari kiamat. Warisan
generasi sebelumnya, menjadi modal bagi generasi pelanjut agar pertarungan
dan permainan berkembang lebih menarik karena tidak harus dimulai dari nol
lagi. 
Blok calon penghuni neraka dengan blok calon penghuni surga masing-masing
merupakan kelompok besar dengan kekuatan massa luar biasa. Hanya, hampir tak
pernah terjadi kekuatan kedua blok itu seimbang. Kecenderungan yang terjadi
adalah, kelompok calon penduduk neraka senantiasa jauh lebih banyak
jumlahnya. Kampanye pendukung kesesatan terus-menerus menguasai atmosfir
bumi dan menghantui siang maupun malam. Manusia rela mengeluarkan berapapun
dana yang bisa dikumpulkan, untuk kepentingan kesenangan sesaat yang
menyesatkan, hanya demi kian banyaknya kawan yang akan menghuni bersama
rumah masa depan. 
Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan tentang rombongan orang kafir yang disebutkan
Al-Qur'an dalam surah az-Zumar: 71-72, bahwa mereka akan digiring
berbondong-bondong ke gerbang pintu neraka dalam keadaan hina-dina. Setelah
sampai, pintu gerbang neraka jahanam dibuka lebar-lebar. Para penjaganya
menegur mereka, "Apakah tak pernah datang kepada kalian rasul-rasul Allah
yang membacakan ayat-ayat-Nya serta mengancam kalian akan datangnya hari
ini, hari tersedianya adzab bagi orang seperti kalian?" 
Mereka menjawab, "Benar telah datang, tapi kami mengingkarinya, menolak,
bahkan melecehkan ajarannya." 
Maka para penjaga neraka berkata, "Masuklah kalian ke dalam neraka jahanam
yang telah terbuka pintunya lebar-lebar untuk menerima kalian sebagai
penghuninya yang kekal di dalam tempat terburuk ini, tempat yang disediakan
bagi orang kafir dan sombong." 
Keadaan hina-dina, biasanya merupakan sesuatu yang begitu dijauhi oleh orang
kafir semasa hidup di dunia. Justru gemerlapnya malam, menterengnya
penampilan, kegagahan, dan kemewahan adalah simbol yang mereka
agung-agungkan. Demi mencapai itu semua, mereka berani menabrak rambu atau
bahkan melenyapkannya, karena memang tidak memiliki rasa takut terhadap
ancaman kehinaan nasib di akhirat. Bila terhadap rambu ciptaan Allah saja
mereka tak peduli, apalagi terhadap rambu bikinan manusia, yang tidak
memiliki pengawas berupa malaikat. Begitu tidak ada manusia yang
menyaksikan, segalanya seakan boleh dilakukan. Lama-lama bahkan manusia tak
lagi malu-malu melakukannya secara terang-terangan. Kesesatan
terang-terangan itu dibungkus dengan kemewahan dan glamourisme sehingga kian
meningkat gengsinya, sambil menjatuhkan citra para pembela kebenaran.
Manusia, yang memang memiliki sifat mudah tersilaukan oleh penampilan fisik,
pun tersihir ramai-ramai. 
Tetapi semenarik-menarik kampanye, tentu hasilnya tidak akan sehebat bila
kampanye itu merupakan sebuah bagian dari rangkaian pengorganisasian yang
lebih besar. Pengorganisasian yang didukung oleh sarana hampir tak terbatas
adalah bila diwujudkan dalam bentuk negara, atau bahkan trans-nasional. Bila
negara telah dikuasai oleh konspirasi yang mengarahkan manusia ke neraka,
maka kecelakaan besar telah mengancam warganya. Ciri dari negara yang
mencegah warganya masuk surga di antaranya adalah bila keinginan untuk
berbuat baik tidak didukung atau difasilitasi. Sebaliknya, negara malah
mengutamakan kesan megah dan mewah yang melupakan Tuhan. Negara juga tidak
memberikan arahan yang jelas tentang kebenaran dan ketidakbenaran, alias
cenderung tidak peduli terhadap nilai. Secara praktis dapatlah disebut
sebagai negara sekuler, yang menyerahkan segala urusan keinginan masuk surga
warganya sebagai semata kepentingan pribadi. Bila sudah demikian, maka
pertarungan pendukung neraka dengan pendukung surga biasanya tidak seimbang,
karena perbedaan kekuatan dasar mereka. 
Bagaimana dengan kekuatan dan rombongan para penghuni surga? Pada ayat ke-73
Surah az-Zumar yang dikutip di atas, Allah berfirman: 
"Dan orang-orang yang bertakwa kepada Rabb-nya, mereka digiring berombongan
(pula). Setelah sampai di gerbang, pintu surga dibuka lebar-lebar dan
penjaga berkata kepada mereka, `Kesejahteraan atas kalian, dan
berbahagialah. Masuklah ke surga, dan kalian kekal di dalamnya.'" 
Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan, dalam memasuki pintu surga ini, kaum
Mukminin harus melewati banyak prosedur. Sebelumnya mereka harus meniti
shirath (jembatan) yang menggelincirkan. Kemudian untuk dibukakannya pintu
surga, mereka harus meminta bantuan para nabi, yang kesemuanya tidak sanggup
kecuali Nabi Muhammad saw. Kaum Mukminin itupun harus melewati penghitungan
secara teliti sebelum diklasifikasikan sebagai calon penghuni surga. 
Tetapi sayang, kampanye menuju surga, di dunia, selalu kalah gencar
dibanding kampanye ahli neraka. Penampilan mereka juga kalah menarik,
sebagian malah cenderung kumuh. Yang lebih memprihatinkan,
pengorganisasiannya tanggung. Tidak ada institusi kuat berskala
internasional yang mendukung secara sungguh-sungguh merencanakan, menggalang
pendanaan, men-support (mendukung) dengan kekuatan fisik maupun non-fisik.
Kampanye menuju surga lebih banyak dilakukan kaum Muslimin secara
pribadi-pribadi, atau kelompok berskala kecil. Seakan-akan, umat Islam tidak
menginginkan kapling di surga diisi dengan sebanyak-banyaknya orang.
Padahal, sebanyak apapun penghuni, surga tidak akan kehabisan kapling,
sebagaimana neraka juga tersedia seluas-luasnya. 
Negara yang bersungguh-sungguh mewujudkan keinginan membawa warganya masuk
surga juga tidak banyak, dan kalaupun ada niscaya selalu dimusuhi
tetangga-tetangganya atau negara lain. Kesadaran perlunya pengorganisasian
ini belum cukup tumbuh, yang mengakibatkan kampanye alias dakwah yang
bersifat integratif dan komprehensif belum juga muncul. 
Dakwah pribadi alias fardiyah itu memang tidak ada jeleknya, dan tetap
merupakan kewajiban melekat bagi setiap Muslim. Tetapi berhadapan dengan
berbagai kekuatan yang terorganisasi, sesuatu yang tidak terorganisir tentu
tidak akan menang. Di samping itu, kontrol terhadap pribadi-pribadi untuk
sebuah tujuan yang simultan juga sulit. Untunglah bahwa keikhlasan serta
niat suci dari para pelaku dakwah Islam cukup besar, sehingga ada kompensasi
lain atas kekurangan dalam hal pengorganisasian. Para vote-getter surga itu
melakukan kegiatan tanpa pamrih duniawi, karena teringat akan firman Allah: 
"Katakanlah, `Upah apapun yang aku minta kepadamu, maka itu untuk kamu.
Upahku hanyalah dari Allah, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.'
Katakanlah, `Sesungguhnya Tuhanku mewahyukan kebenaran. Dia Maha Mengetahui
segala sesuatu.'" (QS Saba': 47-48) 
Sesuatu yang perlu ditingkatkan dari barisan para da'i Islam adalah
pengorganisasian. Agar tidak ada lagi istilah ingin masuk surga sendirian.

Kirim email ke