TOPIK-E CAK IRWIN: |Buat Mas Rahmadi, Cak wachid , chandra D. lan lia liane, piye tanggapan | sampian kok ketoane SDM indonesia mengalami "BRAIN DRAIN" (nyilih istilahe | wong wong). Kok podo mlayu kabeh kerjo nang luar negri ??? Pertama. win, aku dhurung kerjo. dhurung bar-2 sekolah-e. insyaallah tahun depan (april) aku ngelanjutno maneh nang S2. alhamdulillah wes lulus ujian pas musim panas yang baru lalu (sak iki musim gugur mau masuk ke dingin). mumpung masih enerjik... engko lek wes gak enerjik baru golek-2 gawean... Kedua. pada dasarnya, siapa pun dari kita, tidak masalah untuk bekerja di LN untuk mencari pengalaman yang sebanyak-2nya yang kelak nantinya (entah kapan) insyaallah akan bermanfaat buat negeri kita. ini kalau setiap dari kita punya K E M A U A N untuk memikirkan nasib negerinya yang sekarang jauh tertinggal dengan jiran-2nya. padahal dulu untuk kawasan AsTeng kita unggul dan banyak meng-ekspor dosen-2 ke negara tetangga. dan sekarang terbalik. banyak faktor yang menjadi penyebabnya. salah satunya sistem pendidikan itu sendiri. (kalau sekarang lebih kompleks lagi...) kita bisa bandingkan dengan malaysia sekarang... malaysia itu termasuk yang paling mengirim mahasiswa-2nya ke luar negeri. apa lagi yang dikirim ke jepang. hampir setiap tahun ratusan mahasiswa dari malaysia datang ke jepun ini. mulai program D3,S1 dan S2. mereka semua dibiayai oleh Kerajaan (Pemerintah untuk istilah kita. semacam program STAID, BPPT dll). Hebatnya... setelah tamat mereka diijinkan oleh DR. Mahatir untuk bekerja di LN. tidak ada istilah ikatan dinas. Mahatir berpkiri ke depan. karena dia tahu, akhirnya pasti mereka akan kembali ke negeri nya sendiri lagi. Mahatir yakin sekali. dan memang begitu kenyataannya. Mahatir punya program alih teknologi jepang sampai 2020 (saat era globalisasi dijalankan). bagaimana dengan kita, Indonesia... diikat sebisa mungkin supaya balik... tapi yang balik malah sedikit... dan aku yakin, mereka pasti akan kembali ke indonesia. ditambah... kesadaran orang-2 indonesia thd pengembangan iptek sangat minim sekali. hampir semua lebih memikirkan masalah ekonomi (bisnis). kompleks memang... padahal jati diri bangsa itu bukan melulu didapat dari sektor ekonomi saja, melainkan juga dalam sektor iptek itu sendiri. kalau iptek suatu bangasa maju, otomatis akan menaikan perekonomian negara tsb (bila kondisinya normal. orang-2nya jujur tidak korup dsb). pak habibie sudah susah-2 ingin menjadikan indonesia menjadi negara yang maju dalam hal tekonologi. tapi apa boleh buat... kita yang seharusnya bangga purnya nurtanio, malah sebaliknya. orang-2 yang cuman mikir bisnis atau orang-2 yang tidak setuju dengan nurtanio akan merasa bangga bila pt tersebut bangkrut. sementara orang-2 di luar indonesia amat sangat menyangkannya. itu cuman suatu contoh saja. akhirnya... iptek kita nggak maju-2 dan tertinggal... kita cuman bisa sebagai operator (pengguna) iptek saja. tidak mampu menjadi pembuatnya. susah memang... tapi harus dimulai... hasilnya memang tidak sesegara bisa kita didapat, tapi harus dicoba. inilah yang dikerjakan oleh jepun dalam pengembangan ipteknya setelah negaranya dibom (hiroshima dan nagasaki). dalam waktu singkat mereka bisa menjadi negara maju. padahal saat itu perekonomian mereka sedang parah. tapi mereka berhasil. faktor utamanya adalah mereka punya K E M A U A N untuk maju dan tidak mau tergantung dengan orang lain. (sementara kita tanpa rasa malu sedikitpun jilat sana jilat sini cari utangan... kalau bisa maunya tergantung terus...) wes, kepanjangan... laporanku dhurung mari rek... regards, cd
