> Palestina Tanah Wakaf Umat Islam
> yang Terampas
wttp://www.sabili.ku.org
> Bangsa Yahudi menumpahkan kebencian dan kedengkiannya terhadap Islam di
> Palestina. Tak bisa dibiarkan rakyat Palestina menderita terlalu lama.
> Sanggupkah umat Islam bergerak?
> Ketika disintegrasi mengintip umat Islam (1000-1250), mulailah Palestina
> menjadi ajang pertikaian berdarah. Salah satunya adalah Perang Salib.
> Menurut catatan sejarah, Perang Salib I (1096-1144) diawali terhalangnya
> ziarah umat Kristen Eropa ke Yerusalem, lantaran Dinasti Seljuk yang
> mengusai Anatolia. Sehingga Paus Urbanus II berseru mengobarkan perang
> melawan umat Islam (1095).
> Tapi, Tampaknya, kasus terhalangnya umat Kristen ini hanya entry point
> agar Kristen punya alasan menguasai Palestina, tempat lahirnya Nabi Isa
> as. Tak aneh bila perang Salib pun harus berjilid-jilid, yakni Perang
> Salib kedua pada tahun 1144-1192, dan Perang Salib ketiga 1193-1291.
> Namun, yang jelas kaum Muslim mampu mempertahankan tanah wakaf Palestina,
> yang awalnya telah dimerdekakan Al-Faruq, Khalifah Umar ibnul Khattab,
> dari penjajah Romawi.
> Kala Palestina di bawah Kekhalifahan Turki Utsmani, Inggris mampu
> menguasai kawasan Bulan Sabit (Fertile Creescent) di Yordania dekat
> Palestina (1917/1918). Sejak itu Palestina selalu menjadi ajang rebutan
> pengaruh negara-negara Eropa. Seiring kekalahan Turki Utsmani yang
> bersekutu dengan Jerman, pada Perang Dunia I (1914-1918), akhirnya
> Palestina jatuh ke tangan Inggris. Sejak itulah malapetaka Palestina
> menemui babak baru.
> Pasalnya, atas prakarsa Menteri Luar Negerinya Arthur James Balfour (2
> November 1917), yang terkenal dengan Deklarasi Balfour. Inggris memberi
> dukungan berdirinya negara Yahudi di Palestina dengan Boleh jadi
> keberpihakan Inggris terhadap bangsa Yahudi karena trauma Perang Salib
> yang berkarat. Deklarasi Balfour disambut bangsa Yahudi dengan suka cita,
> karena telah melegimitasi cita-cita Kongres I bangsa Yahudi di Basel
> Swiss.
> Kongres yang berlangsung pada tanggal 29 Agustus 1897 itu menyepakati
> gerakan Zionisme sebagi usaha menuju negara Yahudi. Lebih dari itu,
> Zionisme tidak sekadar membentuk negara Yahudi, tapi merupakan batu
> loncatan terbentuknya Israel Raya di permukaan bumi, seperti yang
> tercantum dalam Protokol Yahudi. Cita-cita Zionis ini berkaitan erat
> dengan perasaan lebih unggul bangsa Yahudi ketimbang bangsa lain. "Yahudi
> memang mengklaim dirinya sebagai bangsa pilihan Tuhan. Sedangkan bangsa
> lain mereka anggap ghayem, binatang ternak yang harus ditunggangi," jelas
> Wakil Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan, Abu Ridho. Dengan terbentuknya
> Negara Israel, maka obsesi Yahudi menjadi penguasa dunia akan lebih mudah
> jalannya.
> Ideolog Zionisme Theodore Herzl dalam buku Der Judenstaat (The Jewish
> State), mengupas pentingnya Palestina sebagai negara Yahudi, setelah
> mereka tercerai-berai. Awal tercerai-berainya bangsa Yahudi terjadi pada
> saat Palestina dikuasai Cyrus Agung (memerintah 576-529 SM) pendiri
> Kerajaan Persia. Kemudian mereka kembali terusir ketika Pasukan Romawi di
> bawah Panglima Papyrus (tahun 70) menguasai Palestina.
> Akibat itu semua, mereka tersebar di segenap penjuru dunia. Dan, di setiap
> daerah sebaran Yahudi, mereka ditolak atau diusir bangsa setempat.
> Penolakan bangsa setempat itu, karena bangsa Yahudi kerap menimbulkan
> masalah. Peristiwa yang paling monumental adalah dari pengusiran Kabilah
> Yahudi Madinah di zaman Rasulullah saw, lantaran mereka melanggar
> perjanjian Piagam Madinah.
> Keberadaan bangsa Yahudi baru muncul pada abad 19, setelah sebagian dari
> mereka muncul menjadi usahawan sukses dan ilmuwan ternama seperti ekonom
> Adam Smith, sosiolog Karl Marx, atau fisikawan Albert Einsten. Hanya saja
> pengaruh besar bangsa Yahudi itu tidak searah dengan kecemasan hidup
> mereka ketika harus tinggal bersama-sama bangsa lain. Tak aneh, bila
> pengamat politik R William Liddle melihat kecemasan itu masih ada hingga
> saat ini, khususnya di Amerika Serikat.
> Pada tanggal 14 Agustus 1922, Inggris menempatkan Herbert Samuel sebagai
> wakilnya di Palestina. Dan sejak itulah secara resmi izin imigrasi Yahudi
> Eropa efektif berlaku. Izin ini menimbulkan amarah bangsa-bangsa Arab.
> Lantaran, jumlah Yahudi tidak lebih dari 5% persen penduduk Palestina,
> sedangkan sekitar 85% penduduknya beragama Islam. Sejak itu negara-negara
> Arab menolak kekuasaan Inggris atas Palestina.
> Akibat Deklarasi Balfour jumlah penduduk Yahudi meningkat tajam. Pada
> tahun 1944 jumlahnya telah mencapai 554.000 orang, padahal tahun 1931 baru
> 83.610 orang. Pertumbuhan inilah yang membuat marah Muslimin Palestina,
> hingga memberontak terhadap Inggris.
> Melihat situasi yang tidak menguntungkan ini, Inggris meminta bantuan PBB
> untuk berperan aktif menyelesaikan masalah Palestina. Muncullah Resolusi
> PBB No. 181 pada tanggal 29 November 1947, yang isinya membagi Palestina
> menjadi negara Arab dan negara Israel. Dan, untuk sementara Palestina di
> bawah pengawasan internasional. Keputusan PBB disambut dengan antusias
> oleh bangsa Yahudi. Setelah Inggris mengundurkan diri, mereka dengan culas
> memproklamirkan negara Israel dengan ibukota Yerussalem.
> Tapi sebaliknya bagi Muslimin Palestina. Resolusi No. 181 itu telah
> menabuh genderang perang Arab-Israel. Pada bulan Mei 1948 kaum Muslim
> menyerbu Israel dengan dukungan bangsa-bangsa Arab lainnya. Peperangan itu
> akhirnya memaksa PBB memprakarsai genjatan senjata, hanya saja tanpa ada
> perjanjian. Sehingga perang kedua pun pecah kembali pada tahun 1967 yang
> dikenal dengan Perang Enam Hari. Sayangnya, seluruh Palestina sampai Port
> Said Mesir dikuasai Israel.
> Tentu saja jatuhnya Palestina ke tangan Zionis membuat kesedihan kaum
> Muslim dan bangsa Arab makin menjadi-jadi. Sehingga, tidak ada jalan lain,
> perang pun dikobarkan. Pada tahun 1973 perang pecah kembali, yang terkenal
> dengan Perang Yom Kipur. Hanya saja perang ini tidak mampu mengembalikan
> wilayah Palestina secara utuh, hanya mengembalikan Gurun Sinai dan
> Bar-lev.
> Ironisnya, perjuangan Muslimin Palestina justru dinodai sikap Presiden
> Mesir Anwar Sadat yang mengakui secara diplomatik Negara Israel (1977).
> Inilah awal dari lemahnya posisi Muslimin Palestina, karena kehilangan
> sekutu terdekat dalam menghadapi Israel. Maka, tak aneh bila posisi
> Muslimin Palestina semakin terjepit.
> Posisi terjepit semakin menjadi-jadi setelah perundingan Camp David antara
> Mesir dan Israel, dengan sponsor Amerika. Lantaran, secara diplomatik
> Mesir mengakui wilayah Palestina yang dirampok Israel. Dan hanya
> membicarakan otonomi beberapa wilayah Palestina seperti Gaza dan Tepi
> Barat, serta sedikit menyelesaikan Sinai.
> Di satu pihak kemenangan diplomatik ini membuat Israel percaya diri, dan
> semakin brutal. Ini terbukti dengan tindakan Israel merampok tanah Lebanon
> Selatan pada tahun 1982. Dan, biadabnya lagi, pasukan Israel dipimpin
> Ariel Sharon membantai pengungsi Palestina yang berada di kamp Sabra dan
> Satila (17 September 1982). Pembantaian itu mengisyaratkan bahwa Israel
> tidak ada niatan berhenti berperang, dan tidak mau kalah sejengkal pun
> dari muslimin Palestina. Karena itu, AS sebagai sekutu utama Israel
> mencoba menggandeng Yordania. Inisiatif ini diprakrsai oleh Presiden AS
> Ronald Reagan (1982). Boleh jadi perundingan ini untuk menghindari adanya
> perundingan langsung Israel dengan kaum Muslim, yang bisa secara eksplisit
> memaksa Israel mengakui keberadaan Muslimin Palestina.
> Untuk menghindari perundingan dengan kaum Muslim, Israel mencoba memecah
> belah bangsa Palestina. Caranya dengan mengajak berunding faksi
> nasionalis-sekuler Palestina yakni PLO (Palestine Liberation
> Organization), pimpinan Yasser Arafat. Sementara faksi Islam seperti Hamas
> tidak dilibatkan. Politik pecah-belah ini mulai menemui hasil ketika PLO
> mengadakan perundingan damai dengan Israel di Madrid Spanyol (Oktober
> 1991), yang hasilnya berupa pengakuan PLO terhadap negara Israel beserta
> seluruh wilayahnya.
> Kegigihan Israel untuk meluluhlantakkan kekuatan umat Islam di Palestina,
> menurut Abu Ridho, sejalan dengan sikapnya menjadikan umat Islam sebagai
> musuh bersama. Abu Ridho lebih jauh menegaskan bahwa permusuhan Islam dan
> Yahudi akarnya adalah ideologi, bukan sekadar perebutan wilayah. Karena
> itu, peperangan yang ingin dilancarkan Yahudi juga bersifat semesta.
> Senada dengan Abu Ridho, ahli tafsir Dr. Ahzami Samiun Jazuli menyatakan,
> pertempuran antara Islam dan Yahudi adalah abadi. Menurut Ahzami,
> peristiwa-peristiwa yang terjadi di Palestina hanyalah pengingat kaum
> Muslim bahwa ada musuh abadi yang menentang Islam, yaitu Yahudi.
> Terkait dengan Yahudi, Dr. Yusuf Qardhawi memberikan pandangan. Penulis
> puluhan buku ini mengatakan, saudara terdekat Islam dalam tauhid adalah
> Yahudi bukan Nasrani. Karena mereka tidak menganggap Isa sebagai Tuhan,
> mengharamkan babi, dan memerintahkan berkhitan. Hanya, meski ketauhidannya
> dekat, tapi kebencian dan kedengkiannya pada Islam amat kental. Ketika
> Muhammad saw diangkat menjadi rasul, mereka tidak segera mengimani bahkan
> menentangnya, hanya karena Rasulullah bukan orang Yahudi. Lebih dari itu,
> bangsa Yahudi telah meneteskan darah nabi-nabi yang datang pada mereka.
> Termasuk persekongkolan mereka dalam usaha pembunuhan Isa as, nabinya umat
> Nasrani. Repotnya, negara-negara barat yang mayoritas Nasrani seperti
> Amerika Serikat, justru dikangkangi Yahudi.
> Menurut pengamat politik R William Liddle, pengaruh Yahudi di Amerika
> Serikat sangat kuat, lantaran Yahudi Amerika menguasai semua bidang
> kehidupan di sana. Padahal jumlah mereka cuma 3% dari penduduk Amerika
> Serikat yang mencapai 248 juta jiwa (1989). Tapi dengan jumlah yang kecil
> itu, menurut Liddle, membuat mereka ulet. Sehingga bangsa Yahudi Amerika
> Serikat mampu menyusup dan mempengaruhi berbagai bidang kehidupan, seperti
> George Soros di bidang ekonomi dan Henry Kissinger dalam politik. Padahal
> menurut Guru Besar Politik The Ohio State University ini, bangsa Yahudi
> awalnya hanyalah peddlers, pedagang eceran keliling dan pengusaha bankir
> kecil. Kerja keras mereka memang luar biasa. Dan kerusakan yang mereka
> timbulkan juga amat besar.
> Karena itu, wajar bila Abu Ridho mengatakan bahwa tidak cukup melawan
> Yahudi dengan bekal semangat saja. Tapi lebih dari itu. Untuk itu,
> menurutnya, jihad harus selalu dikobarkan di segala bidang. Umat Islam di
> seluruh dunia harus menyiapkan diri agar mampu memenangkan pertempuran
> semesta ini. Allahu Akbar! n
>
>