Mabes Polri: Ada Brain Washing di Ponpes Al Zaitun
Reporter : Lukmanul Hakim

detikcom - Jakarta, Keberadaan Ponpes Al Zaitun yang diduga beraliran sesat cukup meresahkan masyarakat bahkan keluarga yang menjadi anggota Ponpes tersebut. Mabes Polri menduga ada brain washing dalam prakteknya.

“Ada semacam brain washing setelah masuk ke Ponpes itu. Hal ini sudah dilaporkan di beberapa Polda seperti Jabar, Jatim dan Jateng,” jelas Kabahumas Mabes Polri Irjen Pol Saleh Saaf di Mabes Polri Jakarta, Jumat (22/3/2002).

Sekadar diketahui, Ponpes yang berlokasi di Indramayu Jawa Barat itu memperbolehkan pernikahan tanpa wali dan menganggap orang-orang diluar anggota Al Zaitun, termasuk keluarganya sendiri, adalah orang kafir.

Keluarga Beri Testimoni

Sementara sejak pukul 15.30 WIB hingga saat ini, Bahumas Polri menerima 20 orang yang merupakan keluarga dari anggota Ponpes Al Zaitun yang memberikan testimoni.

Seperti dituturkan Saleh, pihak keluarga melihat adanya perubahan sikap setelah anggota keluarganya masuk ke Ponpes tersebut.

“Ada yang merongrong dengan paksa, seperti meminta uang dari orang tuanya dengan kekerasan untuk kepentingan NII (Negara Islam Indonesia) karena ada rencana mendirikan NII. Ada juga yang berhenti kuliah. Pokoknya mereka melakukan hal itu dengan cara tidak wajar,” papar Saleh.

Untuk itu, lanjut dia, pihaknya mengumpulkan bahan dan keterangan dari 20 orang tersebut sebagai langkah penyelidikan untuk kemudian diserahkan kepada MUI mengenai ajaran tersebut untuk ditentukan apakah memenuhi syariat Islam atau tidak.

“Saat ini kita belum melakukan langkah penyelidikan karena belum ditemukan adanya tindak kriminal. Karena polisi melakukan penyelidikan dimulai dari adanya tindakan kriminal,” jelas Saleh.

Dianggap Najiz

Saat wartawan menunggu selesainya testimoni keluarga anggota Ponpes tersebut, ada seorang ibu berusia sekitar 50 tahun yang mengaku dari Pamulang keluar dari ruangan testimoni.

Ibu itu mengaku kalau kedua anak dan kedua mantunya ikut Ponpes Al Zaitun. Namun setelah menjadi anggota Ponpes tersebut, mereka berubah sikap terhadap dirinya.

“Mereka menganggap ibunya sendiri sebagai orang yang menjijikkan. Jadi kita ini kayak dianggap najiz bagi mereka,” keluh ibu itu dengan nada sedih.

Beberapa pertanyaan pun kembali dilontarkan wartawan, namun tiba-tiba seorang petugas menghampiri dan menegur ibu tersebut, serta menghardik wartawan.

“Kita kan masih mengumpulkan data dan keterangan. Nanti ada waktunya kita memberikan keterangan,” ujar petugas kepada wartawan, kemudian meminta ibu tersebut masuk kembali ke ruangan testimoni. (sss)

Kirim email ke