Title: Republika Online : http://www.republika.co.id
26 April 2002
Melawan AS dan Israel dengan Boikot

Kampanye boikot terhadap produk Amerika Serikat (AS) dan Israel di dunia Arab memasuki babak baru. Sebelumnya, seruan boikot dilakukan dengan tidak serius dan hanya mencakup kalangan tertentu. Kali ini aksi boikot yang mengusung jargon "tidak untuk keuntungan bisnis yang hanya menghancurkan warga Palestina" ini juga diikuti kelompok bisnis dan perusahaan besar.

Di Uni Emirat Arab, seperti dilansir Islamonline, aksi ini mengalami sukses besar. Grup usaha Chazles yang memiliki ratusan jaringan usaha supermarket menghentikan semua pembelian produk AS sebagai protes atas politik negeri itu yang mendukung Israel. Bos grup usaha ini, Said Nasser Rumaisi, bahkan turun langsung ke lapangan melihat aksi grupnya tersebut.

Kepada televisi Al-Jazirah, Said menegaskan aksi ini adalah dukungan minimal terhadap perjuangan rakyat Palestina. "Dukungan tanpa batas AS terhadap Israel harus dilawan dengan segala upaya, termasuk boikot produk AS," ujarnya.

Menurutnya, aksi boikot ini menunjukkan bahwa umat Islam juga memiliki senjata, yakni boikot, untuk menekan AS. Sementara itu, Ketua Dewan Direktur Persatuan Kerja Sama Ekonomi Swasta Emirat, Sulaiman Jassem, menegaskan lembaga yang dipimpinnya akan melakukan usaha semaksimal mungkin guna membantu korban Palestina. Ia juga menyerukan usaha-usaha besar untuk ikut serta dalam kampanye tersebut.

Dalam catatannya, sebagian besar grup usaha di Emirat telah sepakat untuk memberikan 20 persen keuntungannya selama tiga bulan untuk rakyat Palestina. Selain itu, mereka juga akan mengirimkan obat-obatan ke sana.

Abdul Hamid Ahmed, pemimpin redaksi harian Gulf News, mengatakan akibat boikot ini, perusahaan asing yang memproduksi produk-produk AS dan Israel menderita kerugian hingga 40 persen dalam waktu dua bulan.

Menurut Ahmed, penduduk Emirat yang berjumlah 2,4 juta itu sebagian besar adalah warga asing, meliputi warga Arab dan Iran 23 persen, warga Asia Selatan 50 persen, dan warga Eropa/Barat 8 persen.

Di Bahrain, grup perdagangan Al-Mair menghentikan pasokan semua produk AS di puluhan supermarket yang dimilikinya. Abdul Mun'im Mair, pemilik grup usaha ini, mengatakan sebanyak 150 macam produk AS telah diboikot.

Yang paling menarik adalah di Mesir. Berbagai macam aksi boikot dilakukan di negeri piramid ini. Selebaran boikot disebar ke mana-mana. Seruan tersebut juga bergaung di masjid-masjid, di kampus, dan tempat-tempat umum. Seruan ini didukung ulama kondang Yusuf Qardlawi dan ulama Al-Azhar lainnya.

Sebagaimana dilaporkan wartawan Republika Irwan Kelana dari Kairo, selebaran itu menyebut dengan jelas jenis barang, produsen, merek, serta produk alternatif. Misalnya, Wafer Samba dan Lays diusulkan diganti dengan Wafer Sham'adan dan Chipsy. Permen Chiclets, Halls, Clorets dan Adams, diganti Batook dan Menthos. Makanan siap saji Mc Donald's, Arbys, Pizza Hut, KFC, dan Tikka diganti dengan Babay, Mo'men, Syabrawy, dan Sheikh ell-Balad. Sunsilk, Signal 2 diusulkan diganti dengan B-Fresh dan Siwak. Produk Jhonson & Jhonson seperti kosmetik bayi dan pembasmi nyamuk diganti dengan produksi Nunu (Saudi), dan Bayer.

Seruan itu ternyata berdampak besar. Perusahaan-perusahaan AS dan Israel yang beroperasi di Mesir mengalami kerugian sangat besar. Mingguan 'Afaq 'Arabiyah yang terbit di Kairo menyebutkan perusahaan-perusahaan Israel rugi sampai 90 miliar dolar AS di seluruh Timur Tengah. Sainsburry, jaringan supermarket terbesar di Mesir milik seorang Yahudi Inggris, yang memiliki 122 cabang di Mesir, kini bangkrut.

Outlet-outlet perusahaan makanan asal AS, seperti KFC, Mc Donald's, A&W, dan Pizza Hut, kini nyaris sepi. Omzet mereka turun drastis. "Omzet kami turun lebih dari 50 persen. Kami terpaksa merumahkan sebagian karyawan kami," kata Muhammed, manajer KFC Rab'ah El Adawea kepada Republika.

Untuk membujuk konsumen agar bersedia membeli produk-produk AS dan Israel, para pengusaha Israel dan AS, melakukan berbagai upaya pengembangan komunitas (community development). Misalnya Coca Cola menjanjikan lima persen keuntungan untuk masyarakat Mesir. Mc Donald's memberikan setiap 10 piester (sen) pound Mesir pembelian produk untuk membangun rumah sakit kanker bagi anak-anak di Heliopolis, Kairo. Perusahaan snack Lion menjanjikan lima persen keuntungannya untuk rakyat Palestina.

Pada saat bersamaan, supermaket milik pengusaha Muslim Mesir, seperti Ragab Sons, Mahmal, Tauhid El Noor, justru makin laris. Fenomena itu juga tampak pada penjualan buku. "Buku-buku saku tentang sejarah Yahudi dan perlunya mendukung Palestina makin laku," tutur salah seorang penjaga toko buku Al I'lam di Nasr City.

Aksi boikot itu pada awalnya damai. Namun, ada kekuatan kiri menyusup sehingga masyarakat terpancing merusak outlet Mc Donald's. Seorang kolumnis Mesir mengatakan penyusupan itu untuk mengesankan bahwa aksi tersebut bersifat ekstrem dan merusak. Ini dimaksudkan untuk mempengaruhi pemerintah agar menekan dan memberangus aksi boikot.
Kapan Indonesia menyusul? her



Berita ini dikirim melalui Republika Online http://www.republika.co.id
Berita bisa dilihat di : http://www.republika.co.id/cetak_detail.asp?id=72540&kat_id=3

Kirim email ke