From: anaswulan [mailto:[EMAIL PROTECTED]]

Hati-hati dengan kelompok Naga. Proses pembodohan dan pemiskinan 
Bangsa sedang terjadi.

Rakyat kecil yang miskin akan bertambah miskin. karena penghasilannya 
yang kecil yang seharusnya untuk biaya sekolah ataupun untuk 
perputaran usaha, habis di hisap perjudian.

Bagi anda yang tidak peduli dengan kondisi rakyat miskin, dukunglah 
perjudian yang akan menambah terpuruknya Bangsa.

Mereka tidak peduli, karena mereka bisa bebas meninggalkan negara. 
Mereka tidak peduli, karena mereka tidak ada kaitannya 
dengan "Kebanggaan Bangsa".
Mereka hanya mementingkan diri sendiri.
Kalau ini diberantas, maka cacian dan sumpah serapah akan anda terima.


Anastasia Wulanjari

Membedah Lingkaran Setan
Reporter: Adhi/Dani/Eka 
Adil - Jakarta, Telinga penguasa Daerah Istimewa Yogyakarta sontak 
memerah. Gubernur dan Kapolda, ditantang bandar judi. Sri Sultan H.B. 
X dan Brigjen Pol. Johanes Wahyu Saronto melarang judi mickey mouse 
di arena judi Mahkota di Jl. Tanjung Baru. Tapi, geng bandar judi, 
Irawan Sutanto, Gani dan Heru, cuek saja. Hingga kini, ketiga bandar 
itu masih membuka perjudian di arena Mahkota.

Tak hanya di Yogyakarta. Irawan cs. buka cabang di Surabaya. Operator 
di Yogyakarta diserahkan pada Jusuf dan Rohadji. Sedang di Surabaya, 
Irawan cs. menyerahkan pelaksanaannya ke Widodo. Selain Irawan dkk., 
usaha judi di Kota Pahlawan itu juga digelar Iwan, Oentoro, Wee Fan, 
dan Jhoni F. Pasar Atom, Andhika Plaza, dan Darmo Park adalah daerah 
perjudian elite.

Di pentas judi nasional, ada beberapa nama. Sebutlah Wang Ang 
(Bandung), Pepen (Manado), Firman (Semarang), Olo Panggabean (Medan 
dan Aceh) serta Handoko (Batam, Tanjungpinang dan sekitarnya). Belum 
di daerah lainnya. Kini, Olo melakukan ekspansi bisnis perjudiannya 
hingga Depok dan Bogor. Pertarungan kian seru. Daerah Batam, 
Palembang, Riau, Balai Karimun, dan Bagansiapi-api, sekarang di bawah 
kekuasaan seorang pria bernama Rustam.

Memang, Rustam dapat titah mengurusi pusat perjudian di daerah. Ada 
juga Eng Sui dan Eng San. Keduanya mengelola bisnis judi, meliputi, 
judi bola tangkas, toto gelap, kasino, mickey mouse, rolet dsb. Tugas 
lain; keduanya pun bertindak selaku pengontrol keluar masuknya uang 
haram itu.

Masih segaris Rustam, Eng Sui, dan Eng San, pun ada nama Arief 
Prihatna. Di dunia persilatan judi, Arief dikenal dengan nama Cocong. 
Tugas Cocong adalah mendekati lalu memberi upeti kepada oknum aparat 
keamanan. Mulai, tingkat Kepolisian Sektor hingga Mabes Polri. Guna 
melancarkan kerjanya, Cocong dibantu anak buahnya. Misal Rudi, Abaw, 
Manti, Lim Seng dan Hadi.

Rustam, Eng Sui, Eng San, dan Cocong merupakan kaki tangan Tommy 
Winata. Ia disebut-sebut sebagai God Father. ''Kita memakai nama 
singkatan si TW (Tommy Winata),'' kata bekas bandar judi yang kini 
mengasuh Ponpes At-Taibin, Anton Medan. Sebab, menurut mantan raja 
judi itu, TW menguasai saham, perbankan, narkotika dan obat 
terlarang, hingga ke penyelundupan.

Anton Medan mengungkapkan tempat bermain judi terbesar di Jakarta 
adalah Gedung ITC Mangga Dua, Jakarta Barat. Di sini bandar-bandar 
judi kumpul. Mereka merajut jaringan di Jakarta serta seluruh 
Indonesia. Jaringan itu mengerucut pada sembilan orang, yang kemudian 
dikenal dengan "Gang of Nine" atau "Nine Dragons", atau disebut 
kelompok Sembilan Naga.

Selain Tommy Winata dan Cocong, nama lain yang termasuk Sembilan 
Naga; disebut-sebut, Yorrys T. Raweyai, Edi "Porkas" Winata, Arie 
Sigit, Jhony Kesuma, Kwee Haryadi Kumala, Iwan Cahyadi serta Sugianto 
Kusuma (Aguan). Yorrys sebagai "panglima" yang mengamankan operasi 
kelompok ini. Tapi ia membantah. Juga, Arie membantah soal 
keterkaitannya dalam Sembilan Naga.

Perputaran uang di Gedung ITC Mangga Dua mencapai Rp 10 miliar hingga 
Rp 15 miliar tiap malam. Jumlah itu lebih besar dibandingkan di 
bisnis judi milik Rudi Raja Mas. Tapi, dalam semalam, ia mengeruk 
keuntungan sebesar Rp 5 miliar. Satu bulan, Rp 150 miliar. Fantastis. 
Selain di darat, Rudi juga punya usaha perjudian di Pulau Ayer, 
Kepulauan Seribu. Di sana, ia berkongsi dengan bandar judi lain; 
Hasten, Arief, Cocong, Edi, dan Umar.

Rudi juga punya koran yang terbit di Jakarta. ''Media massa itu 
berguna membangun opini di masyarakat bahwa perjudian memberi 
keuntungan,'' kata Anton Medan. Kesuksesan Rudi membangun imperium 
bisnis perjudiannya, tak lepas dari peran Gubernur DKI Jakarta, 
Sutiyoso. Bahkan, perkenalan Rudi dan Sutiyoso, sudah lama. ''Rudi 
dekat Sutiyoso, sejak Sutiyoso bertugas di Kodam (Jaya),'' terang 
Anton yang kini punya nama H. Ramdhan Effendi.

Pemain lain di meja perjudian adalah Apoh. Dia merupakan mantan anak 
buah Anton Medan. Apoh punya beberapa lokasi yang jadi arena judi 
mickey mouse cukup besar. Misal di kawasan Glodok, Kelapa Gading, 
Mangga Besar, Green Garden dan Jl. Kejayaan, Jakarta Barat. Apoh 
meraup untung; Rp 2 miliar.

Sumber di Mabes Polri menyebut, para bandar judi tersebut yang 
menguasai mafia judi di beberapa titik di Indonesia. Bahkan, mereka 
sudah masuk di dalam mafia judi Hong Kong dan Singapura. Bandar-
bandar judi di Singapura, Malaysia dan Makao itulah yang gerah dengan 
lokalisasi perjudian di Pulau Seribu. Sebab, kata Rizal Hikmat dari 
LP3-UI, jaringan mereka terpotong.

Tentu, kehadiran lokasi-lokasi judi ini telah melahirkan banyak 
centeng. Juga, tukang pukul yang menjaga lokasi. Asal-asul mereka, 
beragam. Salah satu dari ormas. Seorang sumber di bisnis perjudian 
mencatat adanya tiga ormas yang terkait dengan usaha beking 
perjudian. ''Salah satunya, ormas partai,'' katanya. Juga, ormas 
Islam disebut-sebut terlibat di dalamnya. Kehadiran ormas Islam --
kalau benar-- makin menyulitkan judi diberantas. Karena, menurut 
Anton, saat ini perjudian sudah seperti lingkaran setan.
(kar)


H. Anton Medan, Mantan Bandar Judi/Pengasuh Ponpes At-Taibin

Kita Pakai Singkatan TW

Anda setuju soal melokalisasi perjudian?
Jika tujuannya untuk APBD, umat Islam harus menolak. Tapi untuk 
mencegah judi kolektif alias kasino, boleh saja. Dibicarakan juga, 
judi masalnya. Ada dua bentuk perjudian. Judi kolektif atau kasino. 
Dampak kasino tidak langsung terhadap masyarakat bawah, orang 
tertentu saja. Yang berbahaya, judi massal, contohnya, togel, Pa 
Kong, Sampurna, Bola Mas, dan Wah Woi.

Judi kasino dilokalisir, Anda setuju?
"Setuju". Maksudnya, disahkan Keppres. Kalau disahkan kebijakan 
gubernur karena otonomi daerah, semua daerah boleh buka, saya gempur 
habis dengan massa saya. Tapi kalau Keppres, Indonesia hanya ada satu 
keputusan. Umat Islam tidak boleh masuk dan jadi karyawan. Jika itu 
yang dilakukan, saya mendukung. Dengan catatan, aturan judi di pasal 
303 KUHP, direvisi.

Bagian mana yang perlu direvisi dari pasal 303 KUHP?
Ada klasifikasi jelas bentuk judi kolektif dan judi massal. Sanksinya 
pun harus ditambah bagi yang pasang badan. Karena, tidak pernah ada 
bos judi masuk penjara. Kapan bos judi masuk penjara, kecuali Hong 
Li.20Apa dengan melokalisasi judi kolektif sudah menjawab persoalan? 
Menurut saya tidak.

Kenapa?
Yang meresahkan masyarakat; judi massal seperti togel. Padahal togel 
bisa dicegah. Barang bukti lengkap. Pengecer diseret hukuman minimal 
5 tahun. Siapa yang berani pasang badan?

Sebenarnya ada apa di balik lokalisasi perjudian?
Sutiyoso dimanfaatkan Tommy Winata. Tanpa disadari, Sutiyoso masuk 
dalam jebakan. Yang terpenting, itu proyek besar, yang mengeluarkan 
kebijakan. Nilai kontraknya bisa mencapai Rp 50 miliar hingga Rp 100 
miliar.

Indikasinya?
Anda cek di Pulau Seribu. Judi mickey mouse ada atau tidak? Ada. 
Menurut bupati, judi di Pulau Seribu dikelola grup Rudi Raja Mas, 
pemilik koran di Jakarta. Ada Tommy Winata, Ali Cocong, dan Eng San. 
Jika Apoh, sepertinya tidak. Sebab, ia bekas anak buah saya. Ini 
sangat mengerikan, seorang bandar judi gelap punya media massa. 

Siapa yang berkepentingan dengan lokalisasi perjudian?
Kepentingan pejabat untuk kekayaan pribadi. Kita tidak dapat 
menyalahkan bos judi, Tommy Winata, Rudi, Ali Cocong dsb. Kita tidak 
bisa salahkan. Kenapa? Mereka bisnis. Naluri bisnis itu semudah-
mudahnya. Sekarang yang diuji kan moral, mentalitas dan etika pejabat.

Bagaimana peta perjudian saat ini?
Ada oknum Angkatan Darat yang ikut campur tangan. Sutiyoso dari 
Angkatan Darat (AD). Tommy Winata dengan kekuatan AD. Kalau Apoh, dia 
murni upeti dengan polisi. Sejak reformasi, tokoh-tokoh yang tadinya 
tidak berperan, sekarang muncul.

Siapa God Father (penguasa) dari bisnis perjudian ini?
Ya... itu, kita pakai nama singkatan si TW. Karena apa? untuk 
membuktikan, dia tidak di lokasi. Kan sulit. Tapi, sopir taksi pun 
tahu, kalau TW itu punya Tommy Winata. Semua orang tahu, mereka juga 
kan? Namun, bisa tidak dibuktikan. Tak pernah yang namanya bos judi 
turun langsung ke lapangan. Kenapa koin kok tidak uang kontan? Karena 
kalau digerebek tak jadi masalah, uang dapat dikembalikan dari hasil 
penukaran koin. Kalau polisi menangkap sulit dengan barang bukti 
duit. Paling yang ada, receh-receh.

Kenapa Tommy Winata ditakuti terutama di kalangan etnis Tionghoa?
Siapa yang takut? Demi Allah, saya tidak takut pada dia. Dia makan 
nasi. Dulu, siapa yang tidak kenal raja judi Hong Li. Habis oleh 
saya. Lantas, saya naik bendera. Karena saya masuk Islam, haram buat 
saya, saya jauhi. Tapi, bekas anak buah saya tidak sedikit. Sekarang, 
Apoh big boss. Dia, anak buah saya. Apa saya ngiler dengan harta 
mereka? Tidak.

Tommy Winata bisnis judi togel dan ketangkasan?
Dari bola tangkas, togel, kasino, HPH, sampai bursa efek. Sekarang, 
dia rajanya. Dia punya majalah yang terbit di Ibukota.

Siapa beking mereka?
Kalau dibilang upeti, oknum dari tingkat Polsek sampai Mabes Polri 
tidak sedikit yang menolak (upeti). Mulai tingkat Koramil sampai 
Kodam, banyak yang menerimanya. Kalau tidak dikasih upeti, digerebek. 
Contoh, Hendarji (dulu di Pomdam Jaya, kini Wakil Danpuspom), 
nggerebek judi. Kenapa? Boleh jadi, tidak dapat jatah. Marinir juga 
ikut nggerebek, coba. Lucu kan?

Berapa upeti bandar judi ke polisi?
Kapolsek bisa Rp 5 juta hingga Rp 10 juta tiap minggu. Kapolres 
seminggu dapat Rp 20-50 juta. Kapolda, Rp 100 juta. Perwira Mabes 
Polri bisa Rp 500 juta. Bayangkan. Ketika Sofjan Jacoeb jadi Kapolda, 
ia minta bantuan pada saya, Rp 1 miliar. Ia bilang, ''Tolong Pak Haji 
Anton, saya meminta satu miliar''. Saya menjawab, ''Limaratus juta 
deh karena tempat kita tidak ramai''. Lantas, ia bilang, ''Kalau Anda 
tidak sanggup memberikan ya jangan buka''. Kapolda saja, Rp 1 miliar. 
Bayangkan, saja.

Berapa total upeti yang dikeluarkan bandar judi tiap bulan?
Besar sekali. Tapi, jika untuk judi, itu tidak terlalu besar. Yang 
besar untuk perempuanlah, yang tiketlah, yang tamulah, kemudian mau 
beli tanah untuk bangunanlah, anaknya mau kawinlah, segala macam. 

Mereka minta terang-terangan?
Biasanya, dia melalui ajudannya. ''Tolong kamu hubungi, nanti saya 
yang ngomong dengan Anton''. Begitu sudah berbicara dengan saya, 
tolong dong, ini, ini, ini. Ya dijalani. Jika tidak dijalani, ia 
menyuruh anak buahnya untuk menangkap.

Siapa yang menikmati uang judi?
Dari Kepala Pos Polisi, Kapolsek, Kapolres, Kapolwil, Kapolda, sampai 
ke perwira tinggi di Mabes Polri, menikmati uang judi. Lalu, dari 
Danramil, sampai ke Pangdam. Kemudian, oknum wartawan yang biasa 
mangkal di Polsek sampai Mabes Polri, juga. Bukan cuma oknum polisi, 
tentara dan wartawan, namun sudah sampai ke oknum jaksa, hakim, 
bahkan lembaga pemasyarakatan.

Saya tidak katakan bahwa Pak Makbul (Kapolda Metro Jaya) pernah 
menerima jatah. Tapi saat saya membuka kasino gelap, ia Kapolsek 
Taman Sari. Hari Montolalu dulunya Kapolsek Penjaringan. Nurfaizi, 
Kapolres 702. Noegroho Djajoesman, dulu Kapolres Jakarta Pusat. 
Pokoknya semua. Dengan logika, apa hubungan saya dengan mereka. 
Tinggal bagaimana Anda menerjemahkan.

Bagaimana dengan organisasi kepemudaan?
Zaman saya, organisasi pemuda, saya tidak menyebutkan siapa ia tapi 
Anda dapat mengasumsikan. Dulunya, siapa organisasi kepemudaan yang 
terkenal? Kini, sampai pada oknum ormas Islam. Jika dia tak 
mengatasnamakan ormas, tapi orang tahu dia berada di ormas. Juga OKP, 
bahkan mereka membekingi.

Partai juga kebagian upeti?
Zaman saya, tidak. Partai cuma PPP, PDI, dan Golkar. Semua, tak ada 
itu. Tidak saya pandang kok. Seperti, PP (Pemuda Pancasila), juga 
tidak ada. Paling, saya merekrut jagoan-jagoannya. Dia mau ambil 
jatah jagoan, gue jagoan. Kalau lu kuat tahan bacok, lu nggak apa-apa 
lawan gue. Kalau saya kasih, itu paling hanya kebijakan antara teman. 
Tapi, kalau untuk oknum wartawan dan aparat memang harus dikasih. 
Daripada digerebek terus ditutup, ya dikasih.

Siapa di belakang Yayasan Bina Dana Sosial?
Siapa yang dulu mengelola SDSB? Kini sudah bergeser. Tadinya tidak 
punya peran, sekarang muncul dengan nama yayasan. Tapi di belakangnya 
tetap si Tommy Winata, Rudi Raja Mas, Ali Cocong dan Engsan. Kelompok 
Delapan itu kan mereka. Mereka masih berperan besar. Perputaran uang 
di Harco Mangga Dua, Rp 1 triliun tiap hari.
(kar/dan/ad)


 
  
       
 | Profil Adil | Kontak  
 

Kirim email ke