Rudy Swardani
MIS Department
PT.Indonesia Epson Industry
Phone : (021)-8970101 Ex:2205
mailto : [EMAIL PROTECTED]


-----Original Message-----
From: Pesantren Virtual [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Thursday, June 06, 2002 4:22 AM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [pesantren] Risalah Ibnu Arabi (kelima) : Buah-buah Perjalanan


#############################################
Pesantren Virtual - "Pondok Pesantren era Digital"
Website: http://www.pesantrenvirtual.com
Informasi: [EMAIL PROTECTED]
Konsultasi: [EMAIL PROTECTED]
#############################################

Risalah Ibnu Arabi (kelima) : Buah-buah Perjalanan

Allah berfirman "Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan 
asap, Dia berkata kepadanya dan kepada bumi :"Datanglah kamu keduanya 
menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa", keduanya menjawab 
:"Kami datang dengan suka hati". Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam 
dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi 
langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami 
memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha 
Perkasa lagi Maha Mengetahui" (Fussilat : 11-12).

Allah juga berfirman :"Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui 
bahwasannya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, 
kemudian Kami pisahkan antara keduanya". (al-Anbiya : 30)

Kata "kemudian" mengisyaratkan bahwa kejadian tersebut terjadi setelah 
melewati tenggang waktu penciptaan bumi dan kekuatan-kekuatannya selama 
empat masa, yaitu dua masa untuk penciptaan zat dan fisik bumi, satu masa 
untuk kelahirnya yang kasat mata dan satu masa untuk isi dan 
rahasia-rahasianya, atau dua masa untuk memberikannya kekuatan ghaib dan 
dua masa untuk memberinya kekuatan lahir.

Lalu terjadilah perjalanan suci Allah dalam menyatukan langit dan 
menciptakannya. "Maka dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia 
mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya". Lalu diberikannya kepada 
langit apa yang diperlukannya untuk perubahan, dari susunan, unsur-usurnya, 
pergantian dan perubahannya dan perpindahannya dari satu bentuk ke bentuk 
lainnya, inilah ketentuan ilahi terhadap langit-langit dalam firman-Nya : 
"Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya", yaitu mengenai sisi 
rohaniahnya, lalu ditampilkannya pergerakan dalam bentuk orbit di atas 
angkasa untuk membentuk satu susunan sesuai dengan pola peredarannya. 
Ketika Allah meyatukan langit dari ketercerai-beraiannya lalu berputar, ia 
tembus pandang sehingga tidak menghalangi terlihatnya apa yang ada di 
baliknya, maka kita bisa melihat dengan mata kita gemerlapnya lampu-lampu 
bintang yang berada di langit ke delapan seakan-akan menghiasi langit dunia 
ini, Allah berfirman :" Dan Kami hiasi langit yang dekat (dunia) dengan 
bintang-bintang yang cemerlang". Hiasan untuk sesuatu, tidak selalu berada 
di dalamnya.

Adapun maksud dari "pemeliharaan Allah" ialah dengan lemparan batu 
di atas angkasa untuk menghancurkan mereka dari golongan setan yang hendak 
mencuri pendengaran, maka Allah memberikan untuk mereka batu yang meluncur, 
yaitu bintang yang mempunyai ekor, membelah angkasa hingga jatuh ke langit 
dunia. Meskipun demikian tidak sedikitpun terlihat keretakan hingga 
menyebabkan kebocoran langit-langit tersebut, demikian hingga mereka 
kembali dengan hina dan lelah.

Kemudian Allah menciptakan di setiap langit dari ketujuh langit tersebut, 
bintang-bintang yang senantiasa beredar "Semuanya beredar sesuai dengan 
garis edarnya" (al-Anbiya:33). Demikianlah sebenarnya kegiatan angkasa 
tidak lain pergerakan bintang-bintang bukan pergerakan langit-langit. 
Pergerakan-pergerakan tersebut terlihat meskipun berada di langit 
tertinggi, Allah berfirman "Dan aku hiasi langit dunia", karena mata 
manusia tidak akan mampu melihat kecuali apa yang ada di langit dunia, 
itulah mengapa Allah mengungkapkannya dengan kata "menghiasi" tidak dengan 
kata "menciptakan". Perhiasan tidak selalu merupakan bagian dari sesuatu 
yang dihiasinya, bala tentara dan kuda merupakan perhiasan kekuasaan namun 
keduanya berdiri sendiri.

Begitu pula lah, ketika telah sempurna bangunan manusia dan ia mampu 
berdiri tegak dan Allah telah Menghembuskan keagungan maka terjadilah 
sebutan untuknya sebagai manusia karena kesempurnaannya dalam menerima 
rahasia ilahi yang tidak pernah diterima oleh mahluk lainnya. Di sinilah 
mengapa manusia berhak menempati dua maqam, yaitu maqam "syurah" (simbol) 
dan maqam "khilafah" (kekuasaan).

Demikian pula, ketika telah sempurna tubuh (manusia yang laksana) bumi, dan 
telah diberikan kepadanya kekuatan khusus sebagai mahluk yang tumbuh, 
seperti kekuatan menarik, mencerna, menahan, menolak, tumbuh, menghidupi 
dan telah disatukan untuknya ketujuh lapisan tubuhnya, yaitu kulit, daging, 
lemak, keringat, persendian, otot dan tulang, maka naiklah rahasia ilahi 
yang mengalir di dalamnya melalui sela-sela rohaniahnya menuju alam yang 
lebih tinggi di atas badaniyahnya, mirip kabut yang naik menembus tujuh 
langit, yaitu langit dunia yang penuh bintang-bintang dan lampu-lampu 
seperti kedua mata, kemudian langit hayalan, langit fikiran, langit akal, 
langit kenangan dan zikir, langit ingatan dan langit keraguan.

Ketika Allah mewahyukan kepada setiap langit urusannya, maksudnya adalah 
memberikan kepada mata kemampuan melihat sesuatu, kita tidak mampu membahas 
kaifiyahnya, bagaimana itu terjadi. Kita memahaminya, namun pemahaman kita 
tidak mampu menghilangkan perbedaan Allah dari alam yang kita lihat, dari 
khayalan kemustahilan dan dari apa yang mampu dibuat oleh akal kita. 
Demikian di setiap langit ada yang menyerupainya yang sejenisnya dan 
penghuni setiap langit tercipta darinya. Mereka terpengaurh kepada keadaan 
dari tempat ia berada. Allah menciptakan di setiap langit bintang yang 
beredar di samping juga menciptakan bintang-bintang yang bergerak, itulah 
sifat-sifat seperti hidup, mendengar, melihat, kuasa, iradah, kehendak, 
mengerti dan berbicara. Semuanya berjalan sampai masa yang ditentukan. 
Kekuatan tidak akan melewati apa yang telah menjadi kemampuannya, mata 
tidak akan mampu melihat kecuali apa yang terlihat, demikian hingga ia 
kembali dengan hina dengan tanpa menemukan setetespun kebocoran. Akal 
manusia membenarkan itu semua, dibuktikan oleh ufuk yang ada dalam diri 
manusia, semuanya atas kehendak Yang Maha Mulia dan Maha Mengetahui.

Inilah perjalanan mahluk-Nya yang membuktikan keagungan-Nya dan 
mengantarkan kepada terbukanya alam teratas. Mengapa disebut perjalanan 
yang artinya "terang", karena ia membuka dan menunjukkan akhlaq seseorang, 
artinya perjalanan akan menampilkan apa yang dimiliki setiap manusia dari 
akhlaq yang mulia dan tercela. Maka ketika dikatakan perempuan itu terang 
mukanya, artinya terbukalah parasnya dan terlihat cantik dan buruknya. 
Allah berfirman "Demi subuh apabila ia mulai terang " (al-Muddatsir : 34) 
artinya subuh mulai tampak oleh penglihatan. Orang arab juga mempunyai 
kebiasaan bila ingin mengetahui apakah perempuan menyimpan aib yang yang 
dilakukannya, dari raut mukanya yang memerah atau berubah. Allah berfirman 
"Dan Allah berkata benar dan Ia menunjukkan jalan yang benar" (al-Ahzab : 
4).@@@



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Kwick Pick opens locked car doors,
front doors, drawers, briefcases,
padlocks, and more. On sale now!
http://us.click.yahoo.com/ehaLqB/Fg5DAA/Ey.GAA/TXWolB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

----------------------
Catatan: Ini adalah e-mail berlangganan. Anda mendapatkan materi ini karena
telah mendaftar di mailing list [EMAIL PROTECTED] Untuk berhenti:
kirim email [EMAIL PROTECTED]

[ www.PesantrenVirtual.com ]
Hak cipta ゥ 1999-2001 PesantrenVirtual.com. Informasi:
[EMAIL PROTECTED] 

Your use of Yahoo! Groups is subject to http://docs.yahoo.com/info/terms/ 

Kirim email ke