Njan tengku di Peureulak, atji ' peutakteh ' bak aleh ba lom, Intel djawa njoe !
tapih bek leupah le neupeugah keu apa tjham geuntot njang sok tjarong njoe...
na njang beungeh, antara laen le sjedara droeneueh njang ka djeuet keu tjuwa'
disampeng rumoh lon di Stavanger
Ahmad Sudirman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]
Stockholm, 14 November 2006
Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
TEUNGKU DI PEUREULAK MASIH BINGUNG DALAM MEMAHAMI ANTARA KEPENTINGAN,
KEADILAN DAN HUKUM DIKAITKAN DENGAN GAM & ACHEH.
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.
MENYOROT TEUNGKU DI PEUREULAK YANG MASIH BINGUNG DALAM MEMAHAMI ANTARA
KEPENTINGAN, KEADILAN DAN HUKUM DIKAITKAN DENGAN GAM & ACHEH.
Persoalan politik yang sedang kita hadapi dengan sedikit mungkin
menyinggung kepentingan dan perasaan sesuatu golongan,kiranya pembacalah
yang lebih dapat menjawab nya.Tetapi penulis mencoba berusaha mendasar kan
keputusannya semata-mata,nyakni kepentingan yang sesuai dengan ke adilan
yang harus mendapat perlindungan hukum,bukan pada ke pentingan-kepentingan
liar yang di dakwa adanya oleh golongan-golongan yang berkepentingan itu
sendiri dengan tidak mengindahkan hak-hak golongan lain. (Teungku di
Peureulak, [EMAIL PROTECTED] ,[4.227.139.217] , 14 Nov 2006 19:26:33
0000)
Setelah membaca kutipan diatas yang diambil dari tulisan Teungku di
peureulak yang kadang-kadang menuliskan emailnya dari University of Utah,
Salt Lake City atau kadang-kadang mengirimkan emailnya dari Broomfield,
Colorado, USA, ternyata ditemukan beberapa kepincangan dari apa yang
dituliskan oleh Teungku di peureulak ini. Mengapa?
Karena, Teungku di peureulak kelihatannya tidak mengerti dan tidak memahami
antara kepentingan, keadilan dan hukum.
Nah, ketika Teungku di peureulak menulis: kepentingan yang sesuai dengan ke
adilan yang harus mendapat perlindungan hukum, ternyata ia masih bingung
menempatkan dimana keadilan dan dimana hukum. Padahal kalau kita mengacu
kepada apa yang telah digariskan Allah SWT:
dan (menyuruh kamu) apabila
menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil
(QS
An Nisaa, 4: 58), maka kita akan menemukan bahwa hukum berdiri diatas
keadilan. Artinya disini adalah menetapkan suatu keputusan hukum harus
didasarkan pada keadilan. Karena bisa saja putusan vonis hukum jatuh tidak
berdasarkan keadilan. Misalnya berapa banyak para nara pidana yang meringkuk
di penjara-penjara Amerika yang divonis tanpa keadilan. Mereka divonis tanpa
berdasarkan fakta dan bukti hukum yang kuat yang telah dipertimbangkan
secara adil.
Jadi, kalau hukum dipakai alat untuk melindungi kepentingan yang dianggapnya
adil, maka itu tandanya sudah menyimpang dari apa yang telah digariskan
Allah SWT dalam An Nisaa, 4: 58 diatas.
Sekarang kalau Teungku di peureulak yang mengaku pengikut GAM dibawah
Pimpinan Teungku Hasan Muhammad di Tiro tetapi menentang Kabinet-nya yang
dipimpin oleh Teungku Malik Mahmud karena dianggap bahwa GAM menjalankan ke
pentingan-kepentingan liar yang yang tidak mengindahkan hak-hak golongan
lain, seperti ketika dilakukan perundingan di Helsinki, Finlandia yang
melahirkan MoU Helsinki, maka anggapan Teungku di peureulak adalah keliru
dan salah. Mengapa?
Karena, yang dimaksud dengan pihak-pihak lain, seperti kelompoknya MP/MB GAM
cs,
Yusra Habib Abdul Gani, orang sesat Tarmizi dan PERMAS yang mana mereka itu
semua sebelum MoU Helsinki ditandatangani sudah melakukan penentangan dan
tidak berada dalam satu komando dibawah Pimpinan Wali Negara Teungku Hasan
Muhammad di Tiro dan Kabinet-nya.
Kalau kelompok-kelompok tersebut berada dibawah payung GAM, tentu saja
mereka akan dilibatkan dalam proses perundingan Helsinki tersebut. Tetapi
karena mereka berada diluar GAM, maka sudah barang tentu tidak bisa dibawah
masuk dalam proses perundingan. Nah, kalau mereka melakukan tindakan oposisi
politik dengan menampilkan rasa ketidakpuasan politiknya itu adalah hak
mereka.
Selanjutnya, setelah dilaksanakan isi MoU Helsinki di Acheh, pihak GAM tetap
mengacu pada MoU Helsinki. Kalau pasal-pasal UU PA No.11 Tahun 2006 masih
bertentangan dengan MoU Helsinki, pihak GAM terus memperjuangkan agar MoU
Helsinki ditepati dan dilaksanakan secara konsekuen oleh pihak RI.
Nah, apa yang sekarang dilakukan oleh GAM di Acheh adalah semuanya mengacu
pada MoU Helsinki, bukan kepada UU PA No.11 Tahun 2006 yang masih
bertentangan dengan MoU Helsinki.
Seterusnya, soal kebijaksanaan politik yang dijalankan oleh pihak GAM
sekarang dengan menyokong Ahmad Humam Hamid dan Hasbi Abdullah adalah hak
politik GAM dibawah pimpinan Kabinet-nya Wali Negara Teungku Hasan Muhammad
di Tiro.
Adapun soal siapa itu Ahmad Humam Hamid dihubungkan dengan Partai Persatuan
Pembangunan telah dikupas secara panjang lebar oleh Ahmad Sudirman dalam
tulisan Masih tentang Ahmad Humam Hamid yang memang bukan politikus (
http://www.dataphone.se/~ahmad/061104a.htm )
Nah sekarang, kepentingan politik yang dijalankan oleh GAM adalah mengacu
pada MoU Helsinki, bukan kepada yang lainnya. Karena dengan menjadikan MoU
sebagai dasar pijakan hukum, maka GAM bisa berjalan di Acheh dalam rangka
menuju pada penentuan nasib sendiri di Acheh.
Kalau ada pihak-pihak yang menganggap bahwa GAM menjalankan kepentingan
politik liar, maka itu anggapan yang salah dan tidak benar. GAM tetap
mengacu pada MoU Helsinki. Sekarang kita sudah bisa melihat bahwa pihak RI
dalam hal ini Pemerintah RI dan DPR RI telah melanggar butiran yang
disepakati dalam MoU Helsinki, yaitu tidak konsekuen ketika membuat UU PA
yang mengacu pada MoU, dengan membuang dan menyimpangkan isi MoU kearah yang
tidak digariskan dalam MoU Helsinki. Penyimpangan dan penyelewengan yang
telah dilakukan oleh Pemerintah RI dan DPR RI inilah yang terus akan
diperjuangkan oleh GAM agar supaya diluruskan kembali oleh pihak RI, apabila
perdamaian yang menyeluruh, berkesinambungan dan bermartabat bagi semua
pihak dapat terus terwujud di Acheh.
Terakhir, jadi GAM tetap sampai sekarang memegang teguh MoU Helsinki dalam
menjalankan roda kebijaksanaan politiknya di Acheh. GAM tidak mengacu pada
yang lainnya, diluar dari apa yang telah disepakati oleh pihak GAM dan
Pemerintah RI dalam MoU Helsinki. Kalau sekarang ada pihak anggota GAM yang
melakukan penentangan dan pembangkangan terhadap kebijaksanaan politik
Pimpinan Tinggi GAM, maka itu dianggap sebagai suatu usaha pelanggaran hukum
dalam tubuh lembaga GAM, yang konsekuensi hukumnya anggota GAM tersebut
dibebaskan dari tugas yang diembankan kepadanya. Seterusnya digantikan oleh
anggota GAM lainnya yang secara penuh kesadaran dan konsekuen menjalankan
tugas yang diembankan oleh Pimpinan Tinggi GAM kepadanya.
Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada
[EMAIL PROTECTED] agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu
untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang
Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel
di HP http://www.dataphone.se/~ahmad
Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita
memohon petunjuk, amin *.*
Wassalam.
Ahmad Sudirman
http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]
----------
Received: (qmail 62041 invoked by uid 60001); 14 Nov 2006 19:26:33 0000
Received: from [4.227.139.217] by web57909.mail.re3.yahoo.com via HTTP; Tue,
14 Nov 2006 11:26:33 PST
From: Wilayah Peureulak [EMAIL PROTECTED]
Return address: [EMAIL PROTECTED]
Date: 14 november 2006 20:26:33
To: [EMAIL PROTECTED], [email protected],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [email protected],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
Subject: [OPOSISI] Persoalan politik yang kita hadapi.
Assalamu,alaikum,wr,wb.
Persoalan yang kita hadapi adalah begitu menyedihkan hati dan begitu
menyolok mata sehingga kita hampir-hampir tidak dapat mengupas lagi
persoalannya dengan tidak menyinggung ke pentingan ,apa lagi perasaan
suatugolongan. Tetapi "kepentingan" dan "perasaan" suatu golongan itu
bukanlah ukuran ke adilan. Keadilan berdiri di atas segala kepentingan dan
segala persoalan. Kepentingan dan perasaan yang di tegak kan atas dasar ke
tidak adailan tidak mempunyai tempat dalam masyarakat manusia beradap.
Demikian pula ke pentingan bukanlah hak.Hanya ke pentingan yang sejalan
dengan ke adilan yang menjadi hak yang di lindungi oleh hukum.Persoalan
politik yang sedang kita hadapi dengan sedikit mungkin menyinggung
kepentingan dan perasaan sesuatu golongan,kiranya pembacalah yang lebih
dapat menjawab nya.Tetapi penulis mencoba berusaha mendasar kan
keputusannya semata-mata,nyakni kepentingan yang sesuai dengan ke adilan
yang harus mendapat perlindungan hukum,bukan pada ke pentingan-kepentingan
liar yang di dakwa adanya oleh golongan-golongan yang berkepentingan itu
sendiri dengan tidak mengindahkan hak-hak golongan lain.
Dari segala pembicaraan kita nyatalah sudah bahwa pada dasar nya,segala ke
kacoan politik yang sedang terjadi di bumi Acheh kita ini,terletak pada
persoalan keadilan.Persoalan ke adilan timbul dalam masyarakat manusia oleh
karena adanya pertentangan ke pentingan dan pertentangan ke mauan antara
manusia sebagai perseorangan atau antara manusia sebagai golongan,seperti
yang terjadi di bumi Acheh"sekarang"sudah mempunyai sistim ke adilan antara
perseorangan,tetapi belum mempunyai sistim ke adilan antara
golongan-golongan.Dan oleh karena politik di Acheh dewasa ini tidak ada
keadilan.
Dan oleh karena tiap-tiap persoalan politik pada akhir nya menjadi persoalan
ke kerasan"misalnya"ex TNA yang terjadi di seluruh tanah air Acheh dari
golongan-golongan Bangsa yang merasa bahwa mereka sudah di perlakukan secara
tidak adil adalah suatu kesimpulan yang tidak dapat di elakkan.Mereka ex TNA
misalnya"yang merampok berarti telah mengambil ke adilan di tangan mereka
sendiri, karena petinggi-petinggi mereka sudah bersenang-senang,berpelukan
dengan penjajah,makan bersama dengan penjajah,apalagi Negara Acheh ini sudah
di anggap sebahagian dari RI,mereka ex TNA tidak menaruh kepercayaan lagi ke
pada atasan nya.
Jadi ex TNA yang merampok di Acheh,bukanlah ke salahan mereka
semata-mata,melainkan ke salahan Malik Mahmud dan Zaini Abdullah menggunakan
ke kuasaan nya dengan sewenang-wenang.Satu contoh besar kesalahan Malik
Mahmud dan Zaini Abdullah dalam politik Bangsa Acheh sekarang.Rapat bansigom
donya.Sebagai mana sudah kita tau bersama,dalam ke putusan bersama.GAM tidak
mendukung partai manapun.Ternyata Malik Mahmud dan Zaini Abdullah dengan
lantang mengkhianati ke putusan bersama.Kami pengikut-pengikut GAM bukanlah
manusia-manusia goblok yang tidak mengerti apa-apa.Kami sebagai bawahan
punya perasaan dan berfikir,kalau pemimpin kami sudah berbohong sekali,dia
akan berbohong untuk yang ke sekian kali nya,demi ke pentingan-kepentingan
tertentu saja.
Malik Mahmud dan Zaini Abdullah persaingan mereka bukanlah"IRNA"melain kan
persaingan mereka RI,yang wajib mereka lurus kan sebagai mana yang telah
mereka tanda tangani perjanjian bersama antara RI dan GAM.Kita bisa kaji
bersam bertapa goblok nya Malik Mahmud dan Zaini Abdullah mereka sudah
menjadi juru kompanyo PPP.Sementara hasil perjanjian dengan jawa mereka
lupakan begitu saja.UUPA,Undang-undang pemerintah Acheh atau UUPA ujong
ujong peubloe Atjeh tidak di selesai kan dengan tuntas oleh Mahlik Mahmud
dan Zaini Abdullah.
Padahal Malik Mahmud dan Zaini Abdullah sangat kami banggakan,sangat kami
hargai,sangat kami puji,sangat kami jaga harkat dan mertabat nya,tetapi apa
mau dikata mereka sendiri tidak menjaga apa yang telah kami berikan ke
padanya.Dari Perdana Mentri Negara Acheh dan dari Mentri luar Negeri Negara
Acheh merangkap Mentri kesehatan Negara Acheh menjadi juru kompanyo
PPP,bertapa malunya kita,bertapa hina nya.Mungkin mereka tidak mempunyai
malu lagi sudah di tipek kulet bui bak muka.
Dari segala keputusan yang telah kita ke mukakan kiranya jelas sudah bahwa
kita menghadapi persoalan politik yang tidak mudah,tetapi penye lesaian nya
tidak dapat di pertanggung jawab lagi,demikian pula kiranya tegas lah sudah
tentang bangkrut dan sia-sianya politik yang di jalan kan oleh Malik mahmud
dan Zaini abdullah selama ini yang pada hakikat nya bertanggung jawab atas
segala malapetaka yang telah menimpa masyarakat kita dewasa ini.Tetapi
sampai kemana dan untuk berapa lama lagi kah kita dapat mengikuti pimpinan
yang buta ini ??......Tidak kah selama ini sudah cukup waktu bagi seseorang
pemimpin untuk memper lihat kan ke sanggupan atau ke tidaksanggupan nya
untuk memimpin ??...Apakah nasib dan penghidupan jutaan rakyat Acheh akan
terus menerus di kotor kan untuk memenuhi hawa nafsu PPP saja.??.
Kepada pembaca yang budiman,kusus nya ke pada Bangsa Acheh,kalau teungku
/ummi merasa dekat dengan Malik Mahmud dan Zaini Abdullah tolong sampai kan
tulisan ini pada nya,untuk bahan reningan mereka.
Amin ya rabbal alamin.
Wassalam.
Teungku di peureulak.
----------
__________________________________________________________
Beyoncé livekonsert på MSN, 15/11 2006
http://msnpresents.msn.com/Beyonce/?mkt=sv-se
---------------------------------
Sponsored Link
Mortgage rates near 39yr lows. $420,000 Mortgage for $1,399/mo - Calculate new
house payment