http://www.suarapembaruan.com/News/2006/12/13/Utama/ut03.htm
SUARA PEMBARUAN DAILY Masyarakat Aceh Tak Percaya Parpol [JAKARTA] Kemenangan sementara calon independen yang bukan kandidat partai politik (parpol) dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) secara langsung di Nanggroe Aceh Darussalam merupakan penegasan bahwa rakyat yang telah memiliki kebebasan memilih, tidak percaya lagi pada figur-figur yang diusung parpol. "Mereka lebih percaya orang-orang yang mereka kenal sendiri, yang sejak lama tidak mau dikontrol Jakarta," kata pengamat politik dari Universitas Indonesia, Arbi Sanit, Rabu (13/12), di Jakarta, menanggapi perolehan suara sementara pemilihan gubernur provinsi itu, yang dimenangi pasangan Irwandy Yusuf dan Muhammad Nazar. Arbi mengungkapkan, dari sekian banyak pertemuan antara dia dan anggota DPRD, disampaikan keluhan mengenai keinginan politisi daerah untuk bisa mendapatkan otonomi politik. Ada kecenderungan bahwa elite politik di daerah mengontrol elite politik di daerah dengan sangat kuat. "Elite lokal tidak diberi kesempatan oleh elite nasi-onal. Selama ini terjadi subordinasi, di mana elite nasional menghegemoni elite lokal. Elite nasional selalu menganggap dirinya benar, dan elite lokal dieksploitasi ketika elite nasional membutuhkan dukungan masyarakat," katanya. Senada dengan itu, Ketua DPR Agung Laksono mengakui banyaknya suara yang didulang pasangan Irwandy Yusuf dan Muhammad Nazar, yang merupakan mantan tokoh Gerakan Aceh Merdeka (GAM), dalam Pilkada Aceh, memperlihatkan ketidakpercayaan masyarakat pada parpol. Namun dia menegaskan, kemenangan sementara calon independen nonparpol pada Pilkada Aceh itu, tidak dapat dijadikan pelajaran untuk diterapkan dalam pelaksanaan pilkada di daerah lainnya, apalagi pemilihan presiden. Kehadiran calon independen dalam Pilkada Aceh, menurut dia, hanya merupakan jalan kompromi yang disepakati dapat dilakukan sebelum terbentuknya partai lokal, seperti diatur dalam UU tentang Pemerintahan Aceh, yang beberapa waktu lalu disahkan DPR. Calon independen itu, kata dia, tidak bisa diterapkan pada pilkada selanjutnya. Secara terpisah, Wakil Presiden Jusuf Kalla menegaskan, pemerintah pusat akan mendukung siapa pun yang memenangi Pilkada Aceh, termasuk mantan tokoh GAM. Dengan kondisi sekarang, tidak ada lagi GAM, sehingga seluruh rakyat Aceh adalah warga negara Indonesia yang berhak menjadi pemimpin di daerahnya masing-masing. Penegasan senada juga disampaikan Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan Widodo AS, kemarin, di Jakarta. Menurut dia, pemerintah tidak mempersoalkan siapa pemenang dalam Pilkada di Aceh. Sebab, semua calon yang turut dalam pilkada sudah memenuhi syarat yang ditentukan. Dia berpendapat, pilkada adalah salah satu tahapan kritis dalam mengimplementasikan kesepakatan perdamaian di sana. Dua tahapan kritis lainnya dan berhasil dilewati dengan baik adalah pengumpulan senjata GAM yang diikuti penarikan pasukan TNI dari Aceh, serta pembentukan UU No 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. Hingga Rabu (13/12), pasangan Irwandy Yusuf - M Nazar masih memimpin perolehan suara. Berdasarkan data yang diperoleh dari Komite Independen Pemantau Pilkada (KIP) Aceh hingga Rabu pukul 00.00 WIB, jumlah suara yang sudah masuk dari 12 kabupaten/kota sebanyak 683.878 dari total suara 2,6 juta yang berhak memilih. Dari total suara yang sudah masuk, sebanyak 180.255 suara diperoleh pasangan Irwandy-Nazar, sedangkan pasangan Humam-Hasbi yang diusung Partai Persatuan Pembangunan untuk sementara memperoleh 130.873 suara. [B-14/A-21/152/147] Last modified: 13/12/06
