Tiga Tahun Lebih Invasi AS di Irak Tewaskan 650 ribu Warga Sipil  Kamis, 12 Okt 
06 11:01 WIB
   
  Selama tiga tahun invasi AS ke Irak pada tahun 2003 lalu, lebih dari 650 ribu 
warga sipil negeri 1001 Malam itu tewas. Tapi AS dan pemerintah Irak menolak 
angka itu.
  Angka 650 ribu adalah hasil studi yang dilakukan oleh sebuah tim yang 
diketuai oleh Gilbert Burham dari John Hopkins Bloomberg School of Publik 
Health di Baltilore, Maryland yang dirilis oleh jurnal kesehatan Lancet, Rabu 
(11/10).
  "Kami mempekirakan bahwa sampai bulan Juli 2006 ada 654.965 warga Irak yang 
tewas akibat perang, atau sekitar 2,5 persen dari populasi yang wilayah yang 
diteliti. Kematian pascainvasi sebanyak 601.027 orang disebabkan oleh aksi 
kekerasan, kebanyakan akibat tembakan, walaupun korban akibat ledakan bom mobil 
juga meningkat," tulis Lancet.
  Laporan kematian pascainvasi dihitung mulai Maret 2003 sampai Juni 2006, dan 
dibandingkan dengan jumlah kematian sebelum invasi mulai Januari 2002 sampai 
Januari 2003.
  Studi dilakukan secara random di 47 wilayah yang dipilih di seluruh Irak, 
melibatkan 1.849 keluarga dan 12.801 orang. Pertanyaan-pertanyaan yang 
ditanyakan pada keluarga antara lain tentang kelahiran, kematian dan 
perpindahan tempat. Jika ada kematian yang terjadi sejak Januari 2002, mereka 
diminta menunjukkan surat kematiannya untuk mengetahui apa penyebab kematian.
  Dari 629 kematian yang tercatat, sebanyak 547 atau 87 persennya terjadi pada 
periode pascainvasi. Sampel ini digunakan untuk menghitung bahwa diseluruh 
Irak, terjadi 654.965 kematian-sekitar 2,5 persen dari populasi- sejak Maret 
2003.
  Laporan itu menyebutkan, sekitar 601 ribu orang tewas akibat tindak 
kekerasan, hampir setengahnya akibat tembakan. Sementara 31 persen kematian 
disebabkan oleh tindakan pasukan koaliasi.
  Laporan itu menyimpulkan, jumlah warga Irak yang tewas terus bertambah.
  Pada bulan Oktober 2004, Lancet juga melakukan studi yang sama. Hasilnya, 
sekitar 100 ribu orang tewas di Irak akibat aksi-aksi kekerasan yang terjadi 
antara Maret 2003 sampai September 2004. Selain aksi kekerasan, penyebab lain 
kematian adalah serangan jantung dan kondisi kesehatan yang buruk.
  Tingginya angka kematian di Irak diakui oleh kepala urusan bantuan PBB, Jan 
Egeland. Kondisinya makin buruk karena pertikaian sektarian yang kini makin 
tajam di Irak. Egeland menyebut tindakan saling bunuh sebagai aksi balas 
dendam, 'sudah tidak terkontrol' di Irak.
  Menurutnya, situasi di Irak sudah sangat mengkhawatirkan. Selain jumlah warga 
sipil tewas yang makin meningkat, sekitar 315 ribu rakyat Irak kini terpaksa 
mengungsi. Kaum wanita yang menjadi korban pembunuhan atas dasar alasan untuk 
'kehormatan' juga terus bertambah.
  AS dan Pemerintah Irak Membantah

Hasil studi yang dirilis Lancet tidak direspon secara positif oleh AS dan 
pemerintah Irak sendiri. Presiden AS George W. Bush menyebut laporan itu tidak 
kredibel. Pemerintah Irak bahkan menyebutnya 'terlalu berlebihan'.
  "Angka itu terlalu tinggi," kata Anthony Cordesman dari Centre for Strategic 
and International Study di Washington.
  Menurutnya, laporan itu bukan analisa tapi politik karena dirilis hanya tiga 
minggu menjelang pertengahan semester pelaksanaan pemilu di AS. (ln/aljz)
   
  Sumber: http://www.eramuslim.com/news/int/452dbd87.htm

                
---------------------------------

Alt i én. Få Yahoo! Mail med adressekartotek, kalender og notisblokk.

Kirim email ke