ULAMA ADALAH WARIS RASUL (WARASATUL AMBIYA). PERANAN UTAMANYA MEMBEBASKAN
KAUM DHU'AFA DARI BELENGGU YANG MENIMPA KUDUK-KUDUK MEREKA (Q.S, 7 : 157 & Q.
S, 90 : 12 - 18), BUKAN SEKEDAR MENGAJAR DI PESANTRENDI PESANTREN, APALAGI
BEKERJASAMA DALAM SYSTEM THAGHUT
Di Acheh lumaian, masih tinggal satu lagi Tgk Syik Di Tiro (Ulama Syik)
sementara di jawa, kalimantan, sulawesi dan lain-lain sudah lama punah ditelan
masa. Tgk Syik adalah seorang Tgk yang dapat memberikan kesadaran rakyat untuk
bangkit melepaskan diri dari segala macam bentuk perbudakan dan penjajahan,
baik perbudakan atau penjajahan terbuka maupun terselubung. Jadi yang namany
Tgk Syik bukan sembarangan orang sebagaimana digambarkan wartawan Banjarmasin
Post dan Dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry, Dra Raihan Putri Ali Muhammad,
di Banda Aceh.
Yang perlu kita pertanyakan kenapa ulama warasatul ambiya itu langka di Acheh
khususnya dan di kepulauan Melanesia ini pada umumnya. Mungkin topik ini lebih
bermanfaat daripada kita berbicara ulama gadongan. Pastikan sebelumnya kita
perlu melihat difinisi daripada Ulama benaran atau Ulama warasatul ambiya.
Berdasarkan logika semata-mata tanpa dihubungkan dengan petunjuk Allah sudah
barang pasti bahwa yang dimaksudkan ulama itu siapapun yang berilmu. Mengikut
definisi ini sudah barang pasti apa yang dibicarakan wartawan Banjarmasin Post
dan Dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry, Dra Raihan Putri Ali Muhammad,
dapat dibenarkan. Tapi Ulama warasatul ambiya tidak menggunakan difinisi
seperti itu.
Langkanya ulama warasatul ambiya di Acheh disebabkan system pendidikan acheh
adalah made in thaghut Indonesia. System pendidikan Thaghut Indonesia tidak
memproduksikan ulama warasatul ambiya tapi memproduksikan ulama gadongan atau
lebih populer dengan sebutan ulama Balamblour. Justru itulah di kepulauan
Melanesia ini hampir dapat dipastikan semua orang alim palsu itu bersatupadu
dalam system yang menyengsarakan rakyat jelata atau kaum duafa.
Dasar pendidikan yang dapat memproduksikan ulama warasatul ambiya adalah
pemahaman Al Qur-an yang mantap, Hadist dan Tarikh Islam. Di Indonesia Al
Qur-an hanya digunakan sebagai hafalan dan bacaan untuk orang mati bukan untuk
orang hidup. kurikulum setiap jenjang pendidikan yang dapat memproduksikan
ulama warasatul ambiya haruslah terdiri dari materi pemahaman Al-Quran di
urutan nomor satu, mulai dari sekolah lanjutan pertama sampai ke Perguruan
Tinggi. Di Perguruan Tinggi selain adanya materi Pemahaman Al-Quran sebagai
mata kuliah mayor di setiap jurusan pemahaman Al-Quran juga harus merupaka
syarat mutlak untuk meraih gelar sarjana. Sedangkan di S2, dan Program Doktoral
otomatis tentang pemahaman Al-Quran dalah pakarnya. Konsep seperti ini akan
membuahkan manusia-manusia yang pintar dan juga teguh imam dimana guru-gurunya
terdiri daripada ulama warasatul ambiya yang fungsinya butan hanya sebagai
pengajar tapi jura sebagai pejuang.
Setiap lembaga pendidikan dapat dipastikan bahawa materi yang terutama adalah
Pemahaman Al-Quran. Lalu porsi kedua ditempatkan oleh Hadist Nabi dan Hadist
Ahlulbayt, Sejarah para Rasul, para Imam dan para Ulama Warasatul Ambiya.
Selanjutnya diikuti oleh materi perbandingan Mazhab yang difokuskan pada
toleransi yang sangat tinggi antar semua mazhab. Mengingat pesan persatuan
sangat diutamakan dalam Islam sejati (QS,3:103-107), sehingga kita sadar siapa
musuh kita yang sebenarnya. Sering kali terjadi pertikaian antar mazhab di
tengah-tengah komunitas kaum muslimin, padahal hal ini merupakan PR yang
disodorkan oleh musuh-musuh kita. (baca penjajah kemanusiaan)
Biaya Pendidikan sejak dari sekolah dasar sampai ke Perguruan Tinggi
ditanggung sepenuhnya oleh negara, termasuk biaya transportasi. Sedangkan gaji
para guru haruslah yang tertinggi dibandingkan pegawai-pegawai lainnya termasuk
militer sekalipun. Dalam pandangan Islam, guru adalah posisi yang paling mulia
di tengah-tengah masyarakat. Dalam hal ini kita dapat meyaksikan apa yang
terjadi di Aceh khususnya dan di Indonesia pada umumnya. Dari penelitian yang
pernah penulis buat dengan opsi guru, dokter, tentara, dan pegawai sipil,
rata-rata responden lebih suka menjadi dokter dan tentara daripada guru. Minat
untuk jadi guru lebih tipis bahkan dibandingkan dengan pegawai sipil sekalipun.
Hal ini terjadi disebabkan financial guru yang kurang terjamin dibandingkan
dengan pegawai lainnya.
Perpustakaan sebagai penunjang
Perpustakaan merupakan sarana yang paling penting dalam dunia pendidikan,
sama halnya dengan apotik dalam dunia pengobatan. Karena itu perpustakaan
haruslah selektif daripada unsur-unsur yang merusakkan idealis Islam. Buku-buku
orientalis tidak boleh dibaca kecuali kecuali pasca sarjana, mengingat mereka
adalah orang-orang yang telah mantap di bidang akidah/ ideology, siasah fatanah
(politik Rasul) dan Sejarah Islam. Untuk orang-orang non akademi (masyarakat
biasa) membutuhkan perpustakaan keliling yang juga gratis/ dibiayai oleh
negara. Buku-buku di Perpustakaan Keliling juga harus selektif benar, sedangkan
buku-buku yang masuk dari Luar Negeri harus melalui tim sensor yang benar-benar
terpercaya dan bertanggung-jawab kepada Allah SWT.
Apabila konsep Perpustakaan Keliling berhasil diterpakan akan membuahkan
kesadaran masyarakat Islam yang luar biasa. Seorang kepala keluarga akan sadar
bahwa ketika mereka kembali ke rumah tangga tidak hanya membawa roti kepada
keluarganya tetapi juga buku. Roti pelambang makanan adalah sarana untuk
memenuhi kurikulum perut (empat sehat lima sempurna), sedangkan buku untuk
memenuhi kebutuhan kurikulum otak. Hal ini memang tidak akan berhasil selama
pemimpin-pemimpin negara itu sendiri belum siap untuk hal seperti itu.
Jadi faktor kepemimpinan sangat menentukan keberhasilan suatu konsep. Karena
itu berbicara pendidikan kaffah adalah berbicara sistem kedaulatan Allah dimana
pemimpin Top Leadernya pastilah Imam atauUlama Warasatul Ambiya atau minimal
penyeru-penyeru kebenaran secara kolektif yang tidak takut kepada siapapun
kecuali kepada Allah swt. Pemimpin yang bertipe seperti itulah yang benar-benar
dapat memimpin ummahnya ke jalan yang diredhai Allah dan ummahpun akan bersatu
padu bergerak ke arah yang sama pada poros bimbingan Sang Imam (Wakil Tuhan).
Negara yang memiliki ummah dan Imamah seperti itulah yang dapat disebut
Baldatun Thaiyyibatun Wa Rabbul Ghafur. Tidak sembarangan negara dan tidak
mungkin disandang oleh suatu negara yang nota benenya lebih tepat disebut
negara Thaghut (baca Hindunesia-Jawa dan semacamnya).
Sebagai penutup perlu kiranya kita ingatkan agar kita tidak mudah
mendiskreditkan tanah Rencong ini sebagaimana sering kita baca di berbagai
media Indonesia seolah-olah Acheh itu serba kekurangan. Padahal kekurangan itu
justru Indonesialah penyebabnya. Justru itulah kami ingin terbebas dari
pengaruh Indonesia agar kami dapat menggapai kemajuan dibidang apapun
sebagaimana negara-negara yang berperadaban lainnya. Kalau pihak luar
mendiskreditkan kita masih wajar tapi kalau orang Acheh sendiri pelakunya,
pastikan mereka sesungguhnya sudah banyak makan asam garam pihak penjajah
hingga tidak sadar lagi. Kenapa mereka bersuara sepertinya mewakili penjajah?
Jawabannya adalah disebabkan praktek penjajah itu diaplikasikan secara
terselubung, hingga membuat orang-orang yang masuk perangkapnya justru
mendiskreditkan bangsa sendiri secara tidak sadar.
Billahi fi sabililhaq
Muhammad Al Qubra
[EMAIL PROTECTED]
Sandnes, Norwegia
Ambon <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
http://www.indomedia.com/bpost/122006/24/depan/nas2.htm
Sedikit Perempuan Aceh Jadi Ulama Syik
Banda Aceh, BPost
Kualitas dan peran keagamaan kaum perempuan di Provinsi Nanggroe Aceh
Darussalam (NAD) dinilai masih tertinggal dibandingkan laki-laki, sehingga
sulit ditemukan tokoh agama Islam (Tengku Syik) yang memiliki kharisma,
termasuk dalam kepengurusan organisasi keagamaan.
Dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry, Dra Raihan Putri Ali Muhammad, di
Banda Aceh, Sabtu (23/12), mengatakan, selain sulit menemukan sosok perempuan
yang menjadi tokoh agama (Tengku Syik), mereka juga banyak yang berkiprah
sebagai guru di pesantren (daiyah) tradisional dan modern di daerah tersebut.
"Saya melihat sangat sedikit perempuan terlibat langsung dalam pengurus
lembaga keagamaan formal seperti Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU). Kaum
perempuan juga belum banyak menjadi daiyah (muballighah)," katanya.
Pada sisi lain, katanya, fenomena sosial keagamaan kaum perempuan Aceh dewasa
ini telah mengalami degradasi nilai yang sangat memprihatinkan. Pergeseran
nilai ini terjadi seiring dengan arus globalisasi dunia yang terus melaju dan
merambah hingga menjangkau kaum perempuan Aceh.
Globalisasi telah membuat situasi dunia menjadi sangat transparan, segala
sesuatu yang sedang terjadi di suatu negara dapat dilihat oleh masyarakat di
negara lain dalam waktu bersamaan, jelasnya, sembari menambahkan, sekat-sekat
yang membatasi budaya antar bangsa semakin mudah masuk dan saling mempengaruhi.
Kehadiran era global, melahirkan kecenderungan merusak kepribadian anggota
masyarakat dan menghadirkan sejumlah dampak negatif yang merusak dan
berbenturan dengan akar budaya Islami, sambung Raihan.
Hal ini semakin mudah ditemukan di tengah dalam kehidupan masyarakat. Laju
perjalanan arus globalisasi tersebut sedikit banyak turut mempengaruhi
perkembangan mentalitas, aktifitas dam kemitmen keagamaan masyarakat secara
umum, terutama kalangan perempuan yang jumlahnya di Provinsi NAD mencapai 51
persen.
---------------------------------
Klaustrofobisk innboks? Få deg en Yahoo! Mail med 250 MB gratis lagringsplass
http://no.mail.yahoo.com